Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Kamis, 25 Agustus 2016

JALAN TENGAH OSCAAR KITA

Sekelumit Perjalanan Saya Dalam Panitia Oscaar
Sebagai orang yang memiliki ketersambungan emosional dengan segenap aktivis pergerakan di lingkup UIN Sunan Ampel, oleh sebagian kader, utamanya kader yang paling muda, saya kerap dicurhati problematika oscaar yang membelit. Oscaar di sini: Orientasi Cinta Akademik dan Almamater.

Tulisan ini bersifat kasuistik dan tentatif, hanya untuk kalangan internal di kampus UIN Sunan Ampel.

Saya mengenali Oscaar sejak masuk IAIN Sunan Ampel pada tahun 2008 silam. Perkenalan ini mengantarkan saya untuk mengetahui lebih jauh dan dalam atas “pernak-pernik” Oscaar itu sendiri. Saat saya mulai mengetahui “pernak-pernik” Oscaar, dalam diri ini terus berkecamuk, berfikir keras, bagaimana saya mampu memposisikan diri kemudian melakukan pembenahan struktural maupun kultural atas dinamika Oscaar yang menurut saya ketika itu, harus dibenahi. Kata dan tindakan yang tidak efesien dan nyampah, harus diganti oleh program agenda yang sifatnya mendidik, mempengantari dalam pengasahan skil mahasiswa baru, dan menumbuhkembangkan kecintaan mereka kepada almamater IAIN Sunan Ampel.

Senin, 08 Agustus 2016

Quo Vadis Tayangan Televisi Indonesia

(Refleksi sesaat setelah diskusi IBI edisi Jumat, 5 Agustus 2016)

 Televisi sebagai media massa, memiliki fungsi: informatif, hiburan, dan alat kontrol sosial. Tapi yang dominan, justru dalam hal hiburan, itu pun rata-rata, tontonan itu tidak layak dan tidak baik dijadikan tuntunan. Layak, saya menggukurnya dari tiadanya penjelasan, spesifikasi tontonan itu untuk siapa. Anak-anak, remaja, dan dewasa. Sedangkan ketidakbaikan tontonan itu, saya mengukurnya dari konten tayangan yang ada, selain iklan yang menjejali alam bawah sadar agar berprilaku konsumeristik, juga konten tayangan seperti sinetron, yang rata-rata menyajikan kegemilangan di atas kemalasan. Seakan, kehadiran sinetron, turut memperteguh gaya hidup glomour, tampil tidak apa adanya, dan menjadikan manusia Indonesia untuk memusat ke Jakarta. Seakan, Jakarta menawarkan kesejahteraan hidup sebagaimana yang ditayangkan oleh, rata-rata, sinetron-sinetron televisi itu.

Senin, 16 Mei 2016

SURAT UNTUK KARTINI

(Tulisan ini saya persembahkan kepada Alifia Nisa Ikbar sebagai kado Ulang Tahun-nya di umur yang ke-20)

Di bioskop, kini ada film yang bagus ditonton. Utamanya oleh pemuda dan aktivis. Film itu: "Surat Untuk Kartini".

Dalam menonton film ini, menurut saya, perlu menggunakan pendekatan kritis. Mengapa? Karena nuansanya masih Eropa (Belanda) centris.

Film ini dibuka dengan adegan penolakan anak Sekolah Dasar (SD) atas gurunya yang akan menceritakan tentang sosok Kartini tepat pada momentum "Hari Kartini". Ditolak barangkali karena cerita tentang Kartini hanya itu-itu saja, monoton; seputar konde, kebaya, batik, dan sanggul. Ini yang terus diulang saat tiba tanggal 21 April di mana Kartini dirayakan.

Kamis, 21 April 2016

PMII dan Cita-Cita Kemerdekaan

(Refleksi Atas Ulang Tahun PMII yang ke-56)

Oleh: Marlaf Sucipto[1]

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kini umurnya sudah tak lagi muda. Tulisan ini sengaja saya hadirkan agak telat karena ingin belajar dulu kepada tulisan sahabat aktivis pergerakan yang sengaja ditulis di momentum ulang tahun yang ke-56 ini. Atau, kepada tulisan non PMII yang berkenan memberikan masukan atas laju gerak organisasi yang ketua umum perdananya adalah Mahbub Djunaidi ini. Cuma, hanya satu tulisan yang ditulis oleh Pengurus Besar (PB) PMII di Jawa Pos Senin (18/4) lalu, selainnya banyak yang pem­-publish-ing agenda serimonial formal di media sosial -Utamanya di group facebok “PMII se-Indonesia”- seperti tahlilan, yasinan, sholawatan, dan corak keislaman yang belakangan dilebeli oleh Nahdlatul Ulama’ (NU) sebagai Islam Nusantara itu.
Tulisan ini hadir untuk turut mewarnai dari sekian pernik ekspresi sahabat-sahabat di ulang tahun PMII yang ke-56 ini.

Selasa, 12 April 2016

PARADIGMA KRITIS TRANSFORMATIF[1]

Oleh: Marlaf Sucipto[2]

Saya disodori tema sebagaimana judul tulisan untuk didiskusikan di acara Pelatihan Kader Dasar (PKD) 2016, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Psikologi & Kesehatan, Komisariat Sunan Ampel, Cabang Surabaya, pada Sabtu (9/4) lalu.

Membaca Term of Reference (TOR) yang diberikan panitia, saya mengernyitkan kening. Lagi-lagi, kerangka teori yang digunakan lahir dari mereka yang memposisikan "timur" sebagai "the other". Eropa centris. Hal ini telah diperteguh oleh Orientalisme-nya Edward W. Said. Ambil contoh seperti: Edwar C. Tolman, Rene Descartes, Thomas Khun, Robert Friederichs, Philips, dlsb. Memperteguh kesan, bahwa yang maju, modern, beradab, ialah mereka orang Eropa. Seakan, kita sendiri sebagai bangsa yang mewarisi keluhuran orang Nusantara tidak memiliki konsepsi tersendiri.
Paradigma, (saya lebih nyaman memaknai: bagaimana manusia berfikir). Kita tercekoki oleh pola-pola konsepsi orang Eropa. Apakah ini salah? Tidak, bila didudukkan sebagai perbandingan konsepsi dari konsep yang memang harus kita rumuskan sendiri. Pandangan-pandangan Eropa tidak kemudian harus kita jadikan jujukan, cukup sebagai pelengkap referensi pandangan. Pertama, kita harus mengacu dulu atas sekian konsepsi yang telah ditentukan moyang.

Minggu, 10 April 2016

Nahdotun Nisa'[1]

Nahdotun nisa', diksi "nahdoh"; bangkit, mengindikasikan seakan perempuan itu mengalami keambrukan. Sudut pandang ini terjadi, karena menggunakan cara pandang (epistemologi) barat. Eropa centris. Kita terkondisi, seakan-akan, yang baik, yang benar, yang berkembang, yang maju, dan yang segala-galanya adalah barat. Barat dijadikan jujukan. Barat dijadikan kiblat peradaban. Padahal, dalam segala hal -tidak hanya soal perempuan- kita memiliki cara pandang sendiri dalam berbangsa dan bernegara, yang peradaban moyangnya lebih maju ketimbang peradaban bangsa lain di antara sekitar abad ke XII-XVIII.

Sabtu, 20 Februari 2016

Revisi UU KPK; Antara Penguatan dan Pelemahan[1]

Oleh: Marlaf Sucipto[2]
Revisi atas Undang-Undang (UU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nomor 20 tahun 2002 sudah mengemuka sejak lima tahun lalu. Era saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih berkuasa. Isu lama ini kini bergulir kembali. Bahkan, rencana revisi ini, pada tahun 2015 telah masuk dalam daftar Program Legislasi Nasional (prolegnas) prioritas. Cuma, tetap tarik ulur. Karena gelombang politik di parlemen, yang kontra terhadap rencana revisi UU ini masih kuat. Hal ini juga, ditopang oleh opini publik yang turut menolak untuk tidak dilakukan revisi. Kini, yang pro untuk dilakukan revisi, justru dimotori oleh partai politik yang mengusung Jokowi sebagai calon presiden. Jokowi dalam salah satu agenda program prioritasnya yang fenomenal dengan istilah Nawa Cita, dalam poin empat menyebutkan:“Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya”, kerap dijadikan landasan oleh pihak yang pro maupun yang kontra untuk memperkuat sudut pandangnya masing-masing. Dalam pergolakan wacana yang cukup panjang dan melelahkan, revisi ini kini telah tergantung kehendak Jokowi dalam kapasitasnya sebagai presiden.

Minggu, 31 Januari 2016

Membangun Masjid dan Membangun di Masjid

Oleh: Marlaf Sucipto
Kita tahu -utamanya umat Islam- bahwa sholat adalah perintah yang diturunkan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad tanpa perantara Malaikat Jibril sebagaimana wahyu-wahyu yang lain. Hal ini tergambar jelas di dalam al-Quran surah ke-17, al-Isro’ (1), Nabi Muhammad yang didampingi Malaikat Jibril menghadap langsung kepada Allah, berangkat dari Masjidil Harôm Mekkah, singgah di Masjidil Aqshô, Palestine, kemudian berlanjut dengan perjalanan vertikal (mi’rôj) menghadap Allah di Sidratul Muntaha. Mayoritas ulama’ mufassirunmemaknai Sidratul Muntaha sebagai singgasana Allah. Malaikat Jibril yang bertindak sebagai “ajudan” Nabi Muhammad sekali pun, hanya ngantar sampai di pintu Sidratul Muntaha, karena, menurut mayoritas ulama’ mufassirun, hanya Nabi Muhammad yang sanggup menghadap dan bercakap-cakap langsung dengan Allah, sedangkan selainnya, tak ada yang mampu, termasuk nabi-nabi yang lain.

Kamis, 19 November 2015

Islam Nusantara

Islam Nusantara mengemuka sesaat setalah Nahdlatul Ulama’ (NU) menjadikannya sebagai tema Muktamar yang ke-33 di Jombang Agustus lalu. NU menjadikannya sebagai tema hanya untuk kembali ingin mempertegas bahwa NU adalah organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia yang hadir sebagai perawat tradisi dengan slogan: almuhafadatu alaa qodimis sholih, wal akhdu biljadidil ashlah; Merawat tradisi yang baik dan membuat-menemukan tradisi/peradaban baru yang lebih baik. Juga, untuk memperteguh bahwa Islam itu adalah agama yang hidup “likulli zaman wa makan; setiap masa dan tempat”.

Jumat, 30 Oktober 2015

Hari Santri; Antara Esensi Dan Sensasi*

Presiden Jokowi telah mengeluarkan Keputusan Presiden (Kepres), tertanggal 15 Oktober 2015, terkait penetapan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2015.

Hari Santri Nasional, jelas disuarakan oleh organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama’ (NU). Ormas terbesar pertama ini menghendaki penetapan Hari Santri agar negara mau mengakui peran santri dalam memperjuangkan kemerdekaan di republik. Penetapan Hari Santri, 22 Oktober, mengacu kepada waktu saat digelorakannya Resolusi Jihad oleh KH. Hasyim Asyari (1875-1947) pada 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad ini kemudian yang dianggap menjadi cikal-bakal lahirnya gerakan melawan Belanda yang ingin kembali menjajah melalui tentara Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya dengan komando kondangnya bernama Sutomo—Bung Tomo, (1920-1981). 10 November ini kemudian kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Pernyataan Tuhan dalam Al-Qur'an...!!. Sungguh manusia dalam kerugian yang nyata. kecuali atas orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kejujuran

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP