Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Senin, 15 Mei 2017

Mengenang Kiai H. Raden Ahmad Fauzi Dahlan

Dulu, saat masih kelas 4 Madrasah Ibtida'iyah (MI), saya dibujuk oleh orangtua, utamanya Bapak, agar berkenan mondok di Pondok Pesantren yang diasuh oleh Kiai Haji Raden Ahmad Fauzi Dahlan. Di pondok pesantren ini, saya memulai belajar kemandirian. Setengah bulan sekali, saya dijenguk oleh ibu. Dibawain lauk-pauk, beras, dan camilan khas desa; kripik singkong, cangkarô' -bahan dasarnya karak nasi-, képéng -bahan dasarnya singkong, sejenis krupuk- dlsb, yang kesemuanya ibu buat sendiri. Bukan jajanan yang dijajakan pasar.

Kemandirian itu, mulai dari mencuci baju, memasak nasi, sholat rutin berjamaah saat masuk waktu sholat, bangun di sepertiganya malam, menjaga kebersihan, sampai bagaimana membentuk tim kerja yang baik.

Kiai Haji Raden Ahmad Fauzi Dahlan
Dalam hal cuci baju, saya belajar kepada teman-teman, bagaimana mencuci baju. Di awal saya mondok, saat ibu menjenguk, saya sempat mengeluh, bahwa nyuci baju susah dan capek. Ibu dengan sabar menyucikan baju saya sambil berujar, "Aćér ngôrûs sassa'annah tibi', Cong, manussah ôdi' lakar ta' kémpang. Kalampinah kénikoh cé' tompo', pas toro' bunté' sassa supajé'eh ta' léssoh!". Dalam bahasa Indonesia, kurang lebih: "Belajarlah mengurusi cucianmu sendiri, Nak, manusia hidup memang tak mudah. Bajumu yang kotor jangan ditumpuk, langsung cuci supaya tidak capek".

Hikmah yang sangat terasa setelah saya dewasa, urusan, atau pekerjaan apa pun yang kita tekuni, jangan dikerjakan sekaligus. Harus dicicil dikit demi sedikit supaya dalam mengurus dan bekerja, tidak capek. Fokus, serius, dan santai. Maka semuanya akan serasa bermain.

Jumat, 03 Maret 2017

Samsat Sumenep dan Calo-nya

Saya kangen pelayan perempuan di loket Pengaduan & Informasi Samsat Kab. Sumenep. Bukan sebab jenis kelaminnya, tapi layanannya yang ramah dan penjelasannya yang detil plus telaten atas setiap tanya yang dilontarkan oleh saya dulu saat proses balik nama kendaraan bermotor pada tahun 2012.

Perempuan muda nan anggun itu, setelah saya melakukan protes keras, sampai saya membuat tulisan "Samsat Sumenep dan Korupsinya" sebab pemerasan yang dilakukan oleh salah satu pelayan di bagian cek fisik kala itu, kini sudah tidak terlihat. Karena di tulisan itu, saya memang mengutip penjelasan pelayan di bagian Pengaduan & Informasi itu. 

Saya "rajin" mengamati karena pada tahun itu juga sampai sekarang, selain mengurus pembayaran pajak kendaraan bermotor sendiri, juga kerap mendampingi pembayaran pajak kendaraan bermotor salah satu keluarga. Apa yang saya tulis pada tahun 2012 lalu, ternyata sampai kini, 2017, belum benar-benar lenyap. Calo pengurusan layanan perpajakan masih banyak yang berseliweran. Bahkan mampu menembus ruangan di bagian cek fisik yang jelas-jelas ditulisi "Selain Petugas Dilarang Masuk".

Rabu, 01 Februari 2017

Mendudukkan Kesaksian Kiai Ma’ruf Amien Dalam Konteks Kasus Hukum Ahok

Masjid Baabussalam, Lawang, Malang
Kini lagi ramai –utamanya di media sosial- perbincangan tentang pernyataan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dan kuasa hukumnya, Humphrey Djemat, mengenai kesaksian Kiai Ma’ruf Amien kemarin (31/1) di dalam persidangan kasus penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Ahok.

Ini “perseteruan” lanjutan antara Ahok dan rival-rival politiknya, utamanya dalam konteks perebutan DKI satu. November 2016 lalu, saya pernah menulis “Jihad Membela Ahok”. Di tulisan tersebut saya menjelaskan, mengapa orang seperti Ahok perlu dibela.

Ahok mulai “terpojok” sejak pernyataannya di kepulauan seribu dipelintir, dijadikan alat untuk menjegalnya sebagai calon DKI satu. Ahok semakin “terpojok” sejak Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) menerbitkan fatwa yang tidak memperkenankan orang Islam memilih pemimpin non muslim. Atas terbitnya fatwa ini, apalagi berbarengan dengan majunya Ahok sebagai calon DKI satu, jelas merugikannya. Baik rugi dalam ketercalonannya sebagai calon gubernur maupun posisinya yang non muslim.
Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP