Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Jumat, 03 Maret 2017

Samsat Sumenep dan Calo-nya

Saya kangen pelayan perempuan di loket Pengaduan & Informasi Samsat Kab. Sumenep. Bukan sebab jenis kelaminnya, tapi layanannya yang ramah dan penjelasannya yang detil plus telaten atas setiap tanya yang dilontarkan oleh saya dulu saat proses balik nama kendaraan bermotor pada tahun 2012.

Perempuan muda nan anggun itu, setelah saya melakukan protes keras, sampai saya membuat tulisan "Samsat Sumenep dan Korupsinya" sebab pemerasan yang dilakukan oleh salah satu pelayan di bagian cek fisik kala itu, kini sudah tidak terlihat. Karena di tulisan itu, saya memang mengutip penjelasan pelayan di bagian Pengaduan & Informasi itu. 

Saya "rajin" mengamati karena pada tahun itu juga sampai sekarang, selain mengurus pembayaran pajak kendaraan bermotor sendiri, juga kerap mendampingi pembayaran pajak kendaraan bermotor salah satu keluarga. Apa yang saya tulis pada tahun 2012 lalu, ternyata sampai kini, 2017, belum benar-benar lenyap. Calo pengurusan layanan perpajakan masih banyak yang berseliweran. Bahkan mampu menembus ruangan di bagian cek fisik yang jelas-jelas ditulisi "Selain Petugas Dilarang Masuk".

Rabu, 01 Februari 2017

Mendudukkan Kesaksian Kiai Ma’ruf Amien Dalam Konteks Kasus Hukum Ahok

Masjid Baabussalam, Lawang, Malang
Kini lagi ramai –utamanya di media sosial- perbincangan tentang pernyataan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dan kuasa hukumnya, Humphrey Djemat, mengenai kesaksian Kiai Ma’ruf Amien kemarin (31/1) di dalam persidangan kasus penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Ahok.

Ini “perseteruan” lanjutan antara Ahok dan rival-rival politiknya, utamanya dalam konteks perebutan DKI satu. November 2016 lalu, saya pernah menulis “Jihad Membela Ahok”. Di tulisan tersebut saya menjelaskan, mengapa orang seperti Ahok perlu dibela.

Ahok mulai “terpojok” sejak pernyataannya di kepulauan seribu dipelintir, dijadikan alat untuk menjegalnya sebagai calon DKI satu. Ahok semakin “terpojok” sejak Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) menerbitkan fatwa yang tidak memperkenankan orang Islam memilih pemimpin non muslim. Atas terbitnya fatwa ini, apalagi berbarengan dengan majunya Ahok sebagai calon DKI satu, jelas merugikannya. Baik rugi dalam ketercalonannya sebagai calon gubernur maupun posisinya yang non muslim.

Sabtu, 31 Desember 2016

Sholawat Wahidiyah; Antara Rasa dan Logika

Ini garis takdir yang tak terpradiksi sebelumnya. Ini benar-benar di luar yang saya kira. Saya ditakdir oleh Allah untuk menginjakkan kaki di mana Sholawat Wahidiyah lahir. Nyerap ilmu bagaimana menjadi advokat yang berbudi, sesuai peraturan dan perundangan yang ada.

Di depan Maqbaroh KH. Muhammad Ma'roef
Dalam satu tahun terakhir, sebelum saya diterima sebagai salah satu peserta Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA), yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Wahidiyah Kediri, kemitraan dengan Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI), yang terselenggara sejak 09 Desember 2016 sampai 07 Januari 2017, saya selalu gagal untuk menempuh PKPA. Alasannya sederhana; “amunisi” tidak cukup. Syarat utama dalam membayar biaya PKPA harus cash di awal. Beruntung PKPA yang saya ikuti ini biayanya, selain lebih murah ketimbang yang lain, juga tidak harus cash membayar di awal. Biaya bisa dicicil sampai diri benar-benar mampu membayar.

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP