Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Sabtu, 06 September 2008

PINCANGNYA HUKUM DINEGERI INI

Bukankah hukum itu berlaku atas orang yang tahu? Tuhan saja memaafkan atas perbuatan di luar ketidaktahuan terhadap peraturan hukum-Nya, apalagi kita sesama manusia, haruskah membuat hukum melebihi aturan hukum yang diatur oleh-Nya?, menjadi keprihatinan mendalam di jatuhinya hukuman mati dan hukuman seumur hidup atas terdakwa kasus mutilasi salah satu marga suku di Noaulu, Pulau Seram, Maluku (Kompas, 25/02/2009), yang tujuannya tak lain hanya untuk persembahan atas pembagunan rumah adat. Mempersembahkan salah satu organ tubuh manusia untuk melengkapi ritus keyakinan dalam pembangunan rumah adat ini menjadi salah satu tradisi nenek moyang marga suku Noaulu yang tetap dipertahankan. Walaupun pada tahun 1970-an tradisi tersebut oleh para tokoh adat diganti dengan piring kuno atau kepala kaskus (Kompas,25/02/2009). Tetapi, Sampai saat ini budaya tersebut sulit dihilangkangkan karena mungkin masih dianggap tradisi yang mesti dipertahankan. Diperkuat dengan keterangan tokoh masyarakat Noaulu yang juga Kepala Dusun Negeri Lama, Desa Sepa, Maluku Tengah, Marwai Leipary (25), mengakui tradisi pengunaan kepala manusia sebagai persembahan penbangunan rumah adat memang ada sejak zaman dahulu (Kompas, 25/02/2009)

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP