Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Kamis, 24 Desember 2009

REFLEKSI BEDAH BUKU Metodelogi Study Al-Quran

“Membongkar Sakralisme Al-Quran, Perspektif Islam Liberal”
Pembicara :
1). Ulil Abshar Abdallah
2). Prof. Dr. Khusein Aziz, M. Ag.
di GEMA IAIN Sunan Ampel surabaya

Faham Libralisme di Indonesia booming setelah munculnya seorang yang Bernama Ulil Abshar Abdallah, walau ditahun-tahun sebelumnya faham liberalisme agama sudah banyak digagas oleh orang-orang semisal Abdurrahman Wahid, Nur Kholis Madjid yang tidak se-meledak ketika Ulil Abshar mengawalnya. Ulil Abshar dengan bahasa sederhana dan rasionalisasi dalam menyampaikan gagasanya, satu sisi mampu mendobrak faham agama yang rigid dan sempit, tapi disisi lain menimbulkan pertentangan keras khususnya dari kalangan islam fundamentalis. Islam liberal mencoba mendobrak faham-faham keagamaan yang cukup kuat dan sakral dikalangan ummat islam fundamental. Semisal, perspektif islam fundamental kreteria atas orang yang berhak menafsiri Al-Quran hanya orang-orang tertentu dan sudah cukup syarat dengan ketetapan yang ditetapkan oleh ulama’ salaf . Perspektif islam liberal, setiap orang berhak memahami dan menafsiri Al-Quran dari sudut pengetahuan dan pemahaman manapun, tampa terikat pada syarat dan ketentuan sebagian golongan tertentu. Karena dinamisasi pengetahuan menjadi alat yang dinamis dalam memahami Al-Quran yang berlaku sepanjang zaman. Jika Al-Quran hanya difahami melalui metode baku dimana metode tersebut lahir pada suatu jaman yang jamannya berbeda dengan jaman masa kini, maka perkembangan ilmu pengetahuan dikalangan umat islam tidak akan megalami kemajuan, karena konsep yang digunakan dalam menganalisa dan mendiagnosa Al-Quran menggunakan cara statis dan rigid, dimana konsep tersebut lahir pada jaman tertentu yang tentunya tidak sama dengan kondisi jaman masa kini. Sehingga Ulil Abshar mengklasifikasikan mufassir menjadi dua macam, Mufassir Profesional dan Mufasir Amatiran. Mufasir Profesional adalah mufasir yang lahir dari lembaga-lembaga tafsir, dan mufasir amatiran tidak lahir dari lembaga tafsir. Cuma masih menurut Ulil yang perlu digaris bawahi bahwa “belum tentu tafsir yang dihasilkan oleh mufassir professional lebih baik dari hasil mufassir amatiran, begitu juga sebaliknya”. Karena hal itulah dari klasifikasi dua mufassir tersebut untuk mengukur kualitas tafsirnya dilihat dari relevan tidaknya hasil tafsir tersebut dengan kondisi masa kini, bukan dari status formalnya orang yang menafsirkan Al-Quran tersebut.
Al-Quran sebagai kitab yang berlaku sepanjang jaman menjadi pedoman dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, sungguh naif bilamana pengembangan pengetahuan tersendat bahkan tertutupi oleh konsep-konsep rigid bahkan mematikan terhadap dinamisasi perkembangan pengetahuan dikalangan umat islam.

Kamis, 30 Juli 2009

MATI SURINYA FATWA ULAMA’

Ada sebuah “perbincangan” menarik, perbincangan ini mengkultur dalam tradisi sebagian para ulama’, yang kesimpulannya biasa kita kenal dengan sebutan fatwa. Dulu, pada masa sahabat dan tabi’ien, sebuah fatwa sangat besar pengaruhnya, hampir semua umat islam pada masa itu sami’naa waatho’naa (mendengarkan dan melaksanakan) terhadap keputusan fatwa yang dikeluarkan peminpinnya. Tapi, saat ini sebuah fatwa tidak sebesar dulu pengaruhnya. Karena banyak keputusan fatwa yang dikeluarkan mengindikasikan kekolotan, ke-gaptek-an para pembuat fatwa. Mereka terkasan punya ketakutan yang berlebihan terhadap sebuah perkembangan kemajuan dari beragam macam sisi kehidupan ini. Sehingga facebook, yoga, golput, rokok, dan fatwa yang baru saja ditetapkan mengenai pembangunan PLTN di Madura adalah haram.

Facebook
Facebook; sejauh pengamatan penulis, sebagai media untuk mengeksiskan tali persaudaraan dan persahabatan sesama teman, baik teman lama maupun teman yang terjalin melalui media familiar tersebut. Penggunaan sebuah teknologi termasuk didalamnya facebook kembali kepada masing-masing orang dalam menggunakannya. Apalagi sebagaimana kita ketahui, khusunya facebooker sudah tahu, bahwa pengelolaan facebook sangat dijaga ketat sekali, sehingga ancaman pemblokiran oleh pengelola facebook jika hubungan yang dibangun ada unsur pornografi, sara, dan tindakan negatif lainnya.

Yoga
Sebuah gerakan tubuh menyehatkan ini difatwakan haram, disebabkan bersumber dari orang Hindu, yang menggunakan mantra-mantra dalam prakteknya. Sehingga orang islam difatwakan haram jika mempraktekkannya. Fatwa yang satu ini kedengarannya sangat aneh sekali, padahal kalau kita melihat sejarah, kuba dan menara masjid latar belakangnya bukan dari Islam, tapi penggabungan (akulturasi) budaya persi yang mayoritas beragama Majusi dengan budaya Islam pada masa itu. Kerena dalam islam, sebuah kebaikan dari manapun sumbernya, sangat mungkin untuk dilaksanakan, asalkan tidak menimbulkan mudharat untuk umat islam khususnya, dan masyarakat sekitar umunya. Apakah kegiatan yoga membawa mudahrat yang berakibat buruk terhadap manusia ? padahal mayoritas ahli kesehatan mengatakan yoga menyehatkan. Jika sudah demikian, Apakah yoga masih tetap mau diharamkan?

Golput
Fatwa golput haram disinyalir karena ada kepentingan politis didalamnya, dimana pada waktu digodoknya fatwa golput masyarakat dihadapkan pada sebuah kebimbangan ditenggah upaya janji-janji manis para pemain politik negeri yang sudah mengalami krisis figure dalam memecahkan permasalahan yang semakin kompleks, membesarnya angka golput menjadi bagian dari ketakutan sebagian orang, sehingga akhirnya golput difatwakan haram.
Dalam masayarkat berdemokrasi, termasuk di Indonesia. Pada dasarnya tindakan golput ini dinilai sebagai kritikan terhadap pemerintah. Semakin besar angka golput, sudah dipastikan besar pula kekecewaan masyarakat terhadap pemimpinnya. Membesarnya angka golput juga tidak lepas dari para kontestan pemilu yang mengalami kerisis figur dimata masyarakat. Oleh sebab itu, fatwa golput haram dinilai oleh sebagian orang akan mengganggu jalannya demokratisasi yang masih prematur di negeri ini.

Rokok
Sebelum fatwa ini dikeluarkan, sudahkah para pembuat fatwa menemukan solusi dari akibat jika seumpama nanti orang benar-benar tidak/berhenti merokok, yang sudah dipastikan nasib mulai petani tembakau sampai produsen rokok akan mati suri, Fatwa ini dikeluarkan terkesan hanya memandang salahsatu sasi, belum mampu memandang dari beragam macam sisi, sehingga tak ayal jika sejak dekeluarkannya fatwa haram rokok sampai saat ini masih banyak masyarakat muslim yang merokok, termasuk para kiaipun yang terlibat dalam pembuatan fatwa haramnya rokok. Apalagi masyarakat non muslim ?.

Apa Pengaruhnya ?
Sudah dapat kita rasakan bersama, pengaruh dari fatwa diatas sedikit sekali pengaruhnya, bahkan nyaris tidak berpengaruh sama sekali. Facebook diharamkan, tetapi tidak mengurangi para fecebooker, malah tambah banyak para penikmat feccbook. Yoga haram, kenapa tambah ngetrend kegiatan yoga. Rokok haram, kenapa tetap banyak para penikmat rokok. golput haram, kenapa angka golput masih tinggi. Ini semua dalam konteks umat islam sebagai sasaran utama dari fatwa tersebut. Belum untuk umat non muslim. Kalau untuk umat islam saja pengaruh fatwa tersebut kurang/tidak berpengaruh, bagaimana untuk umat non muslim ?.
Untuk fatwa pembangunan PLTN di Madura haram, sasarannya untuk siapa?. Umat islam/masyarakat?. Walaupun toh nantinya umat islam/masyarakat sasaranya, apa mereka berpengaruh?, khususnya untuk pemerintah sebagai pelaku utama dalam pembangunan tersebut. Belajar pada pengalaman sebelumnya, sejak opini akan dibangunnya jembatan Surabaya Madura (Suramadu) yang di gagas oleh Ir Sedyatmo (alm) 1960, opini yang diprakarsai oleh sebagian tokoh masyarakat, khususnya sebagian ulama’ Madura adalah menolak atas dibangunnya pembangunan tersebut. Tapi, apa nyatanya? Pembungunan tetap berjalan dengan lancar, bahkan nyaris tidak ada protes dari pihak manapun, termasuk sebagian ulama’ yang menolaknya. Ironisnya, ulama’ yang menolak, banyak yang hadir ketika diundang oleh pemerintah dalam acara makan-makan peresmian jembatan tersebut dengan slogan khasnya Alhamdulillah. Akankah penolakan pembangunan PLTN di Madura yang di ekspresikan dalam bentuk fatwa “haram” oleh ulama’ yang masih dijadikan panutan masyarakat Madura akan bernasib seperti penolakan mereka terhadap pembangunan Suramadu?. Semoga saja tidak. Agar karismatik para pembuat fatwa tidak terus mengalami degradasi

Senin, 08 Juni 2009

REFLEKSI DARI FILM PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN

Salah satu Film garapan Hanung Bramantyo ini sungguh telah memberikan penyadaran bahwa diskriminasi yang sering terjadi pada wanita karena berdasarkan kultur/adat/budaya. Doktrin-doktrin agama difahami sangat sempit hingga banyak dijumpai doktrin keagamaan dijadikan legalitas untuk mengekang, mendiskriminasi perempuan itu sendiri. Padahal kalau kita berkaca pada sejarah, kedatangan islam untuk mengangkat darajad perempuan yang pada masa sebelum islam datang perempuan tidak ada bedanya dengan barang yang bisa diperdagangkan dan diwariskan. Karena lahirnya islam tidak lepas dari budaya yang monomer satukan laki-laki, pemahamaTeks-teks Al-Quran oleh banyak orang condong difahami paternalistic. Semisal ayat Al-Qur’an yang sering didengan-dengungkan sebagai legitimasi untuk menempatkan wanita setelah laki-laki

PRAGMATISME GERAKAN MAHASISWA

Mahasiswa; seharusnya peka terhadap fenomena sosial, menpunyai ketajaman analisa, bersikap kritis transformative terhadap dinamika sosial, dan segala gerakan perubahan positif lainnya. Hal ini sebagai representasi dari status mahasiswa yang kadung terkenal dengan sebutan agen of change and agen of sosial control itu sendiri.
Ditengah persoalan hidup yang semakin kompleks, mahasiswa mempunyai tanggung jawab yang besar. Mahasiswa dituntut untuk selalu kreatif menghadirkan solusi ditengah membesarnya ketimpangan sosial yang terjadi.

Rabu, 15 April 2009

SEBONGKAH PENGETAHUAN DARI SEORANG ETNIS TIONGHOA

Q; huruf ini menjadi perbincangan hangat pada badah buku Dear Gani “Perempuang Kembang Jepun” karangannya Lan Fang di depan toko buku IAIN Sunan Ampel Surabaya pada hari Selasa, 14 April 2009. huruf itu juga melahirkan interpretasi yang beragam, terlebih dari pembandingnya dalam bedah buku tersebut yaitu Bapak Habib Musthofa (penulis cerpen Speasis Santri sekaligus dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya). 

Q; dalam islam merupakan huruf kesembilan belas dari huruf hijaiyah, angka kesembilan belas merupakan angka kramat dalam islam (melalui pendekatan magis), basmalahpun ada sembilan belas angka, melihat kembali pada sejarah Fir’un, Fir’un tidak pernah sakit yang juga diyakini disebabkan karena diatap tempat tinggal Fir’un tertulis lafadz basmalah. Dan banyak lagi perspektif versi islam tentang ma’na di balik huruf Q.

GEMA FEMINISME YANG TAK KUNJUNG USAI

Pertama kali Gaung feminisme muncul dari Eropa sebagai akibat stigma perempuan yang merasa di nomor duakan setalah laki-laki. Gerakan ini muncul untuk menstarakan (emansipasi) antara posisi laki-laki dan perempuan perspektif hukum, ekonomi dan sosial budaya. Gerakan ini didominasi oleh para wanita yang merasa tidak puas terhadap konstruk hukum, ekonomi, dan sosial budaya yang di klaim oleh sebagian wanita tidak adil alias wanita di nomor duakan setalah laki-laki.

Minggu, 12 April 2009

TERNYATA TAKDIR ITU KITA YANG MENENTUKAN

ان الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروأ ما بأنفسهم.....
Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum, kecuali mereka merobah dengan sendirinya, (Qs. Ar-Ra’d : 12).

Ketetapan Allah yang diyakini sebuah takdir oleh Manusia ternyata tergantung pada usaha manusia itu sendiri. Dengan predicate makhluk yang paling sempurna manusia diberi pilihan untuk menentukan hidupnya. Dengan berbekal aqal itulah manusia juga diberi amanah untuk mengelola bumi. Pada intinnya Takdir Allah ada di ujung usaha manusia itu sendiri, jika manusia berjalan (berusaha) menuju kebaikan maka manusia akan mendapatkan kebaikan, begitu juga sebaliknya.

Manusia yang merupakan kolaborasi antara sifat malaikat dan syetan di lengkapi sifat ke-Tuhan-an yang melekat dihati sanubari manusia menjadikan manusia menjadi makhluk paling sempurna dari makhluk lain ciptaan-Nya. Takdir Allah akan ikut pada kecendrungan manusia mengikuti sifat yang ada pada dirinya. Jika cendrung pada sifat malaikat dapat di pastikan manusia tersebut akan bahagia dunia-akhirat, tapi jika cendrung pada sifat syetan yang merupakan musuh nyata bagi manusia akan memburamkan dan mencelakakan manusia itu sendiri.

Rabu, 08 April 2009

MEMAHAMI MAKNA SEBUAH PERSAHABATAN

“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. Al-Hujurat : 13)

Benar memang pendapatnya salah seorang ahli psikologi bahwa orang yang jatuh cinta bukan hanya karna kecantikan dan ketampanan, tapi karena saringnya dalam sebuah kebersamaan. Persahabatan; sering kali menjadi awal dari sebuah jalinan cinta kasih seseorang, kedekatan dan kebersamaan yang didukung oleh intensnya komonikasi akan memperkuat ikatan emosional seorang dalam berteman, kadang kedekatan itu berakhir pada istilah “pacaran”
Pada dasarnya persahabatan itu sangat mulya, bahkan dalam islam sebagai basis agama yang paling banyak panganutnya sangat diapresiasi, Cuma kadang pemaknaan terhadap kata sahabat itu disalah artikan, bahkan kadang juga dijadikan temeng untuk berbuat bejat mendobrak nilai moralitas yang kadung melekat pada masing-masing manusia. Istilah teman tapi mesra (TTM) dan banyak istilah lain yang secara formalnya adalah sahabat tapi prakteknya tak ada bedanya dengan kebiasaan hewan yang kesana-kemari berganti pasangan dalam pemuasan nafsu birahinya. Dari sisi lain, pemaknaan kata sahabat ada juga yang benar-benar semakin meninggikan drajad manusia, saling memotifasi, bertukar pengetahuan, pengalaman menjadi contoh kecil dari sekian banyak contoh makna pertemanan yang sesungguhnya. Idealnya, persahabatan memang seharusnya seperti contoh diatas, tapi terkadang, intensnya sebuah kebersamaan membuat kita terlena akan makna sebuah persahabatan itu sendiri, hal ini memang dirasakan penulis. Batas antara petemanan dan pacaran itu sendiri diibaratkan selaput lendir klitoris wanita, dimana saking tipisnya slaput lendir tersebut kadang mengkaburkan antara teman dan pacar, sehingga tak ayal istilah TTM begitu ngetrend dedengungkan oleh mayoritas orang masa kini.
Bagi penulis pacaran itu boleh-boleh saja, baik pacaran yang diawali dengan persahabatan atau diawali dengan cara lain yang pada intinya adalah pacaran. Cuma perlu digaris bawahi bahwa pacaran yang bermakna adalah pacaran yang saling memotifasi, membangun kompetisi dalam keilmuan, kedewasaan berfikir dan aktifitas positif lainnya yang mendukung terhadap kehidupan lebih baik dan bermkana pada diri, orang lain, dan bangsa. Ditengah mem-booming-nya istilah pacaran yang endingnya adalah kemesuman sangat perlu kita sadari bahwa istilah itu perlu diluruskan, jauhi pacaran ala masyarakat Eropa yang nilai moralnya jauh berbeda dengan moralitas kita yang basisnya adalah islam. Mari kita ganti ruh kata pacaran ala Eropa dengan pacaran yang disarankan dalam islam. Konsep hidup baik dalam islam sebenarnya sudah sempurna tinggal bagaimana kita mau melaksanakan, termasuk istilah pacaran itu sendiri yang dikenal dengan istilah ta’aruf. Kenapa penulis seakan menyamakan istilah pacaran dengan ta’aruf ? karena pada dasarnya istilah pacaran adalah bagimana dapat mengetahui dan memahami lawan jenis secara lebih dalam sebulum memasuki jenjang pernikahan, mulai dari karakter, sifat, kepribadian, akhlak, keilmuan dan banyak lagi yang sangat penting diketehui lebih dalam sebagai barometer untuk dijadikan acuan dan penyesuaian dengan kpribadian kita masing-masing.
Semoga hal ini mudah dilaksanakan semudah saya menulisnya, karena saya sendiri masih sebatas menyadari dan berupaya untuk memaraktekkan.

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah kejadian nyata yang terjadi pada saya, waktu saya ikut sekolah filsafat di gedung DPW PKB Jatim. Tulisan ini sebagai otokritik, juga persembahan terimakasih yang tak terhingga pada sahabat Yuni Wulandari yang telah menyadarkan penulis tentang makna sebuah persahatan yang sesungguhnya.

Catatan Seminar Regional


“Reposisi Intelektual Muslim Di Tengah Pertarungan Ideology Globalisasi”
Nara sumber : Dr. Fuad Amsari, P. H.d (Intelektual Muslim), Dr. Hammis Syafaq (Candikiawan Muda)
Komonitas Pemikir Islam Yang Suka Cankruk Dan Berfikir (Kopi Cangkir)
Surabaya, 07 April 2009

Dua hari menjelang pemilihan calon legeslatif yang diadakan secara serentak diseluruh lapisan Indonesia teman-teman Kopi cangkir mengadakan bincang ilmiah dengan menghadirkan tokoh alumnus USA yang pemikirannya cukup cemerlang melihat dasar sumber problematika yang terjadi di negeri tercinta Indonesia ini. Menurut Dr. Fuad Amsari, P.H.d salah satu kesalahan dasar Indonesia hingga mengakibatkan ksemrawutan yang tak kunjung usai adalah karena salahnya bangsa Indonesia dalam menpelajari dan mendalami pengetahuan dan keilmuan politik, ekonomi, budaya, sosialnya orang-orang eropa yang mayoritas tidak bertuhan. Orang Indonesia yang belajar ke Eropa (Barat) sedikit sekali yang mempelajari tentang imu exsakta (ilmu yang sifatnya pasti) , yang di pelajari dan diperdalam adalah ilmu politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang sangat tidak sesuai dengan cirri khas warga Indonesia yang agamis. Indonesia sudah mengadopsi dan memperaktekkan terhadap dinamika social, politik, ekonomi, budaya orang Eropa secara bulat-bulat hingga sampai kemerdekaan Indonesia yang secara de vacto sudah berusia 62 tahun tidak lepas dari yang namanya krisis multidemensi. Ekonomi; menggunakan konsep ekonominya Adam Smits (Bapak Ekonomi kapitalis), walaupun K. Hajar Dewantoro sebagai fuanding father (bapak bangsa) Indonesia punya konsep yang lebih sesuai dengan pesan substansi pancasila tidak dikembangkan sebagai bekal untuk mensejahterakan dan memajukan warga Indonesia. Ironisnya, penanaman bibit perbudakan dilegitimasi secara terang-terangan oleh pemerintah kepada seluruh masyarakat Indonesia mulai tingkat pendidikan paling rendah sampai perguruan tinggi. Pemerintah dan para pemodal membangun koalisi dalam memuluskan perencanaannya tersebut, hingga proses pem-budakan terhadap warga Indonesia semakin terstruktur.
Disadari atau tidak, pemerintah pada dasarnya menjadi budak utama kapitalis sebelum warga Indonesia secara keseluruhan. Kalau boleh saya menggambarkan pemerintah sebagai budak dalam ranah intelektual (pengatur), dan rakyat dalam ranah aksi (pelaksana) dari perbudakan tersebut, hingga penderitaan, kemiskinan, tidak akan pernah usai dalam kamus sejarah Indonesia jika warga Indonesia tidak menyadiri dan berupaya untuk keluar dari kungkungan perbudakan terstruktur tersebut.
Menurut Dr. Hammis Syafaq (pemateri ke 2). Indonesia sudah tidak bisa dilepaskan dari arus globalisasi, opini yang dinukil dari pemikirannya Hasan Hanafi mengatakan, kita tidak harus menolak terhadap yang namanya globalisasi, tapi kita harus bisa menerimanya dengan menfilter terhadap arus tersebut, ada banyak yang baik dari globalisasi dan juga ada banyak yang buruk, hingga menjadi tuntutan bagi kita untuk jeli melihat dimana yang baik dan dimana yang buruk. Bahkan masih menurut Syafaq di abad ke-21 ini menjadi puncak dari kejayaan kaum kapitalis menguasai dunia. Sampai saat ini hanya satu negara yang dinilai mampu menfilter terhadap arus globalisasi tersebut yaitu Negara Iran, dimana di Iran Politik, hukum, Budaya, Ekonominya masih mengacu pada basis fundamentalnya yaitu Islam. Sedangkan ilmu eksaktanya (biologi, fisika, astronomi, nuklir,dll) sudah sangat modern. Bahkan tekanan politis dalam pengayaan uranium nuklir Iran oleh president Amerika Serikat Giorge W Bush yang mengatasnamakan masyarakat internasional tidak digubrisnya bahkan ditentang oleh president Iran Mahmoed Ahmadinejed, kerena menurut Mahmoed nuklir Iran bertujuan untuk perdamian dan backing atas serangan yang sifatnya fisik dan politis dari orang, kelompok, dan Negara manapun.
Dari fenomena diatas kapan Indonesia mencontoh Iran? Dimana politik, ekonomi, budaya, hukum mengacu pada basic fundamental, yaitu basic pluralitas masyarakat yang agamis, dan modern dalam kajian yang sifatnya saint/eksax.
Semoga Indonesia bisa, entah melalui penyadaran dan kesadaran dari masing-masing warga Indonesia.
Ketika kesadaran sudah ada, kemudian apa yang harus kita perbuat? Ini menjadi tugas berat kita bersama sebagai pewaris negeri yang kacau balau ini. Mari kita cari sama-sama langkah solutifnya. Wallahua’lam bisshawab.

Sabtu, 21 Maret 2009

SEMAKIN MEMANASNYA BOLA POLITIK DI NEGERI INDONESIA

Seminar yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IAIN Sunan Ampel Surabaya sedikit banyak menyumbangkan pemikiran baru dalam melihat realitas para pemegang kebijakan dinegeri ini. Acara yang dihadiri seorang kritikus handal, negarawan, dan wartawan yang banyak tahu tentang dunia perlemen berbincang lancar tentang performance negative negeri ini. Mulai dari trackrecord orang parlemen yang mayoritas kesukaanya melakukan negoisasi pincang demi kepentingan dirinya atau kelompoknya dalam merencakan dan menetapkan sebuah kebijakan sampai pengaruh globalisme yang menuhankan materi.
Menarik sekali perbincangan tersebut untuk diklarifikasi lebih dalam, karena orientasi perbincangan tersebut tak lain untuk mengembalikan kestabilan negeri ini kejalan yang aman, tentran, damai, dan sejahtrera.
Usulan menarik dari salah satu pembicara acara tersebut di ending opinionnya “ perlu sekali mencari figur peminpin yang masih tetap berpegang teguh pada agama; semisal islam, contohlah kepribadian Nabi Muhammad yang professional dalam mengatur Negara dan agama, masih menurut beliau “jika orang islam yang menjadi penentu kebijakan tetap berpegang teguh pada agama dan tidak menggunakan agamanya sebagai kendaraan politik dan baju formal dalam kebjikannya maka insya Allah negeri ini akan tidak serusak saat ini. Karena orang-orang yang beragama sudah banyak yang meninggalkan agamanya termasuk kiai yang seharusnya memberikan contoh pada jamaahnya sudah bertindak konyol dan menjadikan agama sebatas lebelitas untuk meloloskan rencananya yang busuk alias juga nimbrung dalam arus politik negeri yang muaranya pada kepentingan pribadi, kelompok dan sesaat, maka kerusakan tak dapat terelakkan. Teringat sebuah firman Allah yang garis besarnya adalah “ segala kerusakan didaratan dan dilautan diakibatkan oleh ulah manusia”
Menurut salah satu pembicara yang lain, bahwa masyarakat Indonesia saat ini sudah menuhankan materi alias sudah materialistik. Keberhasilan seseorang bukan dilihat dari sejauh mana mereka bertanggung jawab atas amanah yang di amanahkan kepada dirinya, kejujuran, dan keadilan, tapi diukur dari sejauh mana materi yang melekat dalam dirinya, sehingga tak heran banyak kebijakan-kebijakan yang keluar dari yang seharusnya ia jalankan dan timbullah kata kolusi, nepotisme, dan yang sangat ngetrend saat ini KORUPSI mewarnai perjalanan negoisasinya dengan orang sekitarnya.
Sebagai muslim sejati mari kita contoh Nabi Muhammad sebagai teladan utama ummat islam, dan mari kita jadikan agama ini tidak sekedar lebelitas yang melekat dalam diri. Kerena jika ajaran agama ini benar-benar kita laksanakan, maka karusakan dimuka bumi khususnya di Indonesia Insya Allah dapat diminimalisir, asalkan kita mau memulainya dari diri kita sendiri. Pasti bisa…!
Hasil catatan seminar “kebangsaan” di gudung SAC IAIN Sunan Ampel Surabaya pada hari Rabu, 18 Maret 2009

RENUNGAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Pada masa berjalannya peperangan salib, Jalaluddin As-Suyuti mengadakan seyembara kepenulisan biografi Nabi Muhammad Saw. Tulisan tersebut yang tetap eksis sampai saat ini karangan Abdurahman Addiba’e dan syekh Al-Barzanji sehingga di kenal istilah barzanji dan tiba’ dalam setiap moment sholawatan manggagungkan dan memulyakan Nabi Muhammad SAW. Dan sejak sayembara itulah moment-moment bersholawat pada nabi semakin diformalkan oleh para ulama’ dan ummat islam, sehingga ada bulan tertentu yaitu bulan Rabi’ul Awal tepatnya pada tanggal 12 yang diyaki mayoritas ummat islam sebagai hari kelahiran nabi Muhammad SAW yang saat ini dimeriahkan dengan bersholawat mengagungkannya.
Terlepas dari pro kontra tentang moment-moment waktu bersholawat pada nabi yang dari dulu tetap eksis, sangat perlu untuk dicarikan benang merah dari kegiatan srimonial tersebut. Diantaranya yang sering saya jumpai selain bersholawat adalah dalam mereview kembali terhadap kesuksesan nabi Muhammad dan kisah kisah sukses lainnya sebagai tolak ukur untuk dijadikan cermin ummat islam dalam menjalani kehidupan didunia dan keyakinan hidup di akhirat. Bahkan kesuksesan nabi Muhammad tidak hanya diakui oleh kalangan ummat islam, tapi juga kalangan non muslim mengakui kesuksesannya, terbukti dalam buku “100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia” karangan Michel E Heart (seorang tokoh non muslim) menempatkan nabi Muhammad di urutan pertama sebelum tokoh-tokoh dari kalangannya.
Dinukil dari salah satu penyampaian khotib Jum’at pada tanggal 20 Maret 2009 di masjid Muayyad Wnocolo Surabaya bahwa kenapa pada masa sahabat itu tidak ada yang bersholawat pada nabi yang kemas secara srimonial?, kerena pada masa itu dianggap masih terlalu dini untuk mengenang dan mengigat kepribadian nabi yang sangat luar biasa, para sahabat masih tetap eksis menggunakan cara-cara nabi dalam menghadapi segala hal pada masa itu, dan cara-cara yang dipraktekkan nabi masih segar dalam ingatan para sahabat, sehingga dianggap tidak penting dan tidak perlu mengenang dan mereview figur rasul Muhammad.
Saya bukan orang yang pro dan kontra dalam srimonial rutin sebagian ummat islam (maulid Nabi Muhmmad), tapi saya adalah orang mau mengingat kembali akan pesan amanah yang telah disampaikan nabi melalui perbuatan dan perkataannya dalam mengahadapi hidup. Dan Tuhan menjadikan nabi Muhammad sebagai pembawa missi terahir ketuhanan, dirasa praktek hidup cara nabi akan mampu menjawab problem-problem sampai alam dunia ini binasa. Maka tak ayal jika Tuhan menjadikan rasul Muhammad sebagai suri tauladan terhadap seluruh ummat manusia sesudahnya. Ajang srimonial yang diadakan oleh sebagian ummat islam ini menurut saya tidak bisa disalahkan, karena jelas muaranya pada suatu perbaikan-perbaikan dalam menapaki kehidupan yang akhir-akhir semakin jauh dari rel yang semestinya.
Menjadi pekerjaan rumah kita bersama, bahwa dari setiap kegiatan srimonial merayakan kelahiran Nabi Muhammad yang didalamnya mengenang dan melihat kembali akan sosok Muhammad ternyata hanya berahir dalam sabuah perbincangan, tidak dalam praktek keseharian, maka tidak heran jika perayaan tersebut tidak mampu membawa pengaruh apa-apa dalam dinamika kehidupan. Kehidupan ini tetap carut marut dan malah tambah rusak kerena orientasi orang yang sering merayakan kelahiran nabi mejadikan perayaan ini sebuah kendaraan musiman untuk memuluskan kepentingan-kepentingan pribadi yang muaranya tak lain kecuali untuk menumpuk materi.

Minggu, 08 Maret 2009

Membangun Nalar Anti Korupsi

Judul : Kekuasaan dan Perilaku Korupsi
Penulis : Saldi Isra
Penerbit : Kompas Media Nusantara
Cetakan : I, Januari 2009
Halaman : xlii + 210 halaman
Peresensi : Marlaf Sucipto


Penanganan korupsi tidak bisa dilakukan dengan cara-cara biasa (ordinary measure), karena korupsi merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary crime), maka penanganannya pun harus dengan cara-cara luar biasa (extra ordinary measure), yaitu dengan penegakan hukum yang progresif.
(Prof. Dr. Satjipto Rahardjo)

"Kini korupsi sudah menjadi bagian dari kebudayaan kita". Celoteh ini diungkapkan oleh Muchtar Lubis sebagai dukungan terhadap ungkapan Bung Hatta tentang budaya korupsi. Perlu dipahami bahwa ungkapan mereka tidak lain merupakan wujud keprihatinan yang mendalam akan bahaya korupsi.
Karena budaya korupsi bisa membawa tiga resiko politik besar yang tak dikehendaki. Pertama, menempatkan perilaku korupsi sebagai perilaku budaya hingga membuat kita kesulitan memulai dari mana pemberantasannya. Kedua, jika korupsi tetap dianggap bagian dari kebudayaan, maka akan timbul sifat memberikan maaf kepada pelaku korupsi, kerena hal ini akan dipandang bukan sesuatu yang wajib diberantas melainkan sesuatu yang wajib dipahami. Ketiga, memperbesar dan memperluas dampak hiperbolik (keprihatinan yang mendalam) dan desparasi pengakuan keputus-asaan korupsi dalam skala besar dan terlalu luas untuk diatasi.
Memperhatikan resiko budaya korupsi di atas, maka terdapat empat langkah solutif yang ditawarkan oleh Sartori. pertama, biaya politik bisa dan harus dikurangi. Kedua, pegeluaran electoral harus dikontrol dan dibatasi. Ketiga, penarikan Negara dari wilayah-wilayah ekstra politik guna mengurangi peluang dan godaan korupsi politik. Keempat, hukuman harus diperkeras serta pengawasan yang benar-benar efektif harus dilaksanakan. Hal ini lebih mudah dilontarkan daripada dilaksanakan. Sebab, korupsi dan keserakahan tegak pada dirinya sendiri (self sustaining). Ofensif anti korupsi mestilah digalakkan diseluruh lapisan masyarakat sembari membangun sinergi dan koalisi yang kuat untuk melawannya.
Hanya dengan semua langkah tersebut kita bisa menekuk kuatnya kepentingan bercokol yang ada pada konstitusi. Tiga prinsip ideal dari rasional politik yang harus dipegang teguh yaitu bahwa penyusunan dan perubahan konstitusi haruslah dilakukan oleh: pertama, jiwa-jiwa dan pemikir dengan integritas dan kompetisi terbaik yang dimiliki oleh suatu bangsa. Kedua, selama proses penyusunan mereka harus diberi segala fasilitas yang dibutuhkan untuk memenuhi tuntutan kemudahan serta ketenangan deleberasi yang cukup untuk mencapai rangkaian perumusan terbaik bagi tiap bagian pasal dan ayat konstitusi. Ketiga, keseluruhan kandungan final konstitusi yang dihasilkan haruslah sah secara prosudural maupun secara esensial.
Selain itu, salah satu cara yang patut dipertimbangan untuk menghambat laju praktik korupsi yaitu dengan membangun jejaring (zona) antikorupsi di setiap institusi negara. Karena pembangunan itu didasarkan pada pemikiran bahwa masih ada individu-individu yang tidak ingin melakukan korupsi. Salah satu institusi negara yang paling potensial membangun zona bebas korupsi adalah DPR. Karena DPR sebagai lembaga perwakilan rakyat, menjadi titik sentral pusaran mekanisme ketatanegaraan. Dalam pandangan Jeremy Pope, parlemen sebagai badan pengawas, adalah pusat perjuangan untuk mewujudkan dan memelihara tata kelola pemerintahan yang baik untuk memberantas korupsi. Dalam konteks ini, DPR amat mungkin menggunakan jenjang ketinggian otoritas lembaga mereka untuk memerangi para koruptor.
Perang melawan korupsi
Selain beberapa wacana di atas, Ben Anderson mengatakan bahwa korupsi di Indonesia bersifat integratif, ini terbantahkan oleh Michael Johston yang menulis tentang dampak politik dan korupsi, yang pada akhirnya tak mampu menentukan pilihan apakah korupsi berdampak integratif atau disintegratif. Hal ini terjadi karena sistem politik di era upaya reformasi saat ini membuka sebesar-basarnya peluang bagi multiplikasi perilaku korupsi hingga ketingkat potalogis, sistem politik yang terus digorogoti oleh perilaku korupsi yang kian menggila. Koreksi tehadap politik serasa sangat penting untuk keluar dari belenggu korupsi yang terus melanda sebagai dampak dari cara politik yang hampir 80 persen berwajah kolonialisme.
Dalam kondisi de facto darurat atau dalam kondisi serba buruk dan serba krisis, kadang harus menerobos pasal-pasal konstitusi yang ada, tentu saja secara terkontrol dan bertanggung jawab, untuk menyusun konstitusi yang benar-benar adil, bermartabat, dan progresif. Harus diakui, selama 38 tahun nation-state kita dibiarkan oleh para penguasanya terus berkubang dalam anakronisme politik, yaitu menerapkan solusi pemerintahan darurat, padahal keadaan tak lagi darurat (1971-1997), dan menerapkan solusi pemerintahan normal, padahal keadaan sudah kembali darurat (1998-2008).
Wacana korupsi di atas hanya sebagian dari diskursus-diskursus yang tidak terselesaikan dalam kerangka implementasinya saat ini. Namun, wacana kekuasaan dan prilaku korupsi yang tertuang dalam karya Saldi Isra ini akan membantu dan menambah wawasan dalam memahami perilaku korupsi.
Buku setebal 210 halaman ini merupakan kumpulan esai yang dihimpun dari harian Kompas. Buku ini terdiri dari tiga bab, yaitu membahas persoalan uang, dan merintis kekuasaan yang kebablasan, serta nalar antikoropsi. Sistem politik di era upaya reformasi itulah yang membuka sebesar-besarnya peluang bagi multiplikasikan perilaku korupsi hingga ketingkat patalogis, yang ibarat boomerang balik mengancam bukan hanya bangunan sistemik yang merupakan sumber dan pembiaknya, melainkan eksistensi republik kita sendiri, dimana bangunan sistemik itu tegak.
Saldi Isra, penulis buku ini, dikenal mampu menguraikan dengan bahasa sederhana dan gamblang tentang persoalan korupsi yang begitu rumit, menggurita, dan melibatkan segala segi kekuasaan. Argumennya cerdas dengan didukung data yang kuat. Oleh karena itu, pembaca akan mudah memahami unsur-unsur korupsi, betapa hebatnya kampanye dan politik uang, sepak terjang hakim tindak pidana korupsi, mafia peradilan, hingga suara lembut dari Istana. Membaca buku ini, kita bisa merasakan segala kerisauan penulis yang adalah kerisauan seluruh warga bangsa juga, menyaksikan semakin merajalelanya korupsi di Tanah Air.
Buku ini patut dibaca oleh semua kalangan yang peduli akan pemberantasan korupsi serta yang ingin membangun nalar antikorupsi. Baik dibaca oleh kalangan elit birokrasi maupun kelas bawah, lebih-lebih kaum elit politik yang baru dilantik, sebagai kerangka acuan mengisi 100 hari awal kepemimpinannya.

* Peresensi adalah kader PMII Komisariat Syari'ah IAIN Sunan Ampel Surabaya sekaligus home key IKMAS (Ikatan Mahasiswa Sumenep).

* Resensi ini adalah resensi pertama saya yang di kirimkan ke media Duta Masyarakat Surabaya

Sabtu, 28 Februari 2009

MEMOTIVASI HIDUP, MENYAMBUT HARI ESOK YANG LEBIH BAIK

Hidup sesuai dengan harapan benar-benar sangat sulit digapai, cobaan silih berganti terus terjadi tampa kompromi, perang melawan hawa nafsu menjadi awal dari tertabuhnya gendrang perang melawan livestyle yang semakin menjamur dalam kehidupan ini. Males berkreatifitas menjadi penghalang utama dalam mulusnya sebuah rencana ideal dalam hidup, perlu stimulan ekstra untuk menerjang cobaan yang menghalangi perjalanan menuju sebuah harapan yang ideal, tampa hal seperti itu sangat sulit bagi kita untuk selalu tetap berjalan dalam garis ideal yang kita gariskan, cobaan hidup silih berganti tampa henti akan selalu eksis menghiasi perjalanan hidup ini. Sejauh mana kita menyikapi, sejauh itulah hasil yang akan kita dapatkan, jangan menjadwal hidup yang tidak mampu kita laksanakan, jadwallah hidup sesuai dengan kemampuan kita melaksanakannya. Jika hal ini biasa terbangun dalam hidup ini pelan tapi pasti kesuksesan akan segara menjemput kita, tampa harus menunggu waktu yang relative lama.
Sungguh sangat sulit sekali bagi kita untuk tetap selalu ada digaris yang kita gariskan. Rancangan ideal hidup kita selalu meleset dari rancangan yang di idealkan. Kenapa ? dikarenakan kita tidak bisa eksis berjalan sesuai dengan garis yang sudah kita gariskan, andai kita eksis berjalan 75% saja dari garis yang sudah kita gariskan, kita pasti menuai sebuah harapan yang sudah kita rencanakan.
Teringat pada petuah hidup "aktifitas anda hari ini akan menentukan anda hari esok", simpelnya jika hari ini kita bermalas-malasan pasti hari esok hidup kita akan mengalami keburaman. Sukses tidak akan pernah kita gapai karena itu hanya ada dalam perencanaan, tidak dalam tindakan.
Kesuksesan akan datang atas orang yang merencanakan dan melaksanakan semua perencanaannya. Tampa itu kesuksesan tidak akan pernah datang.
Menjadi orang sukses tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu ada usaha dan perencanaan yang jelas. Target hidup harus ada, tampa ada sebuah target di ibaratkan orang berjalan tampa tujuan yang jelas, tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali rasa lelah yang tidak mendukung terhadap kehidupan berikutnya.
Sukses selalu……….

KESEMPURNAAN DALAM SEBUAH KOMETMEN

Kometmen..! sengaja dibentuk dalam diri. Jadwal hidup juga sengaja disusun secara rapi. Semua ini suatu upaya untuk benar-benar bisa menjadi manusia yang tidak merugi seperti yang di pesankan dalam surat Al-Ashr 1-3 " sesungguhnya manusia dalam keadaan yang merugi, kecuali atas orang-orang yang beramal shaleh, dan saling menasehati dalam menta'ati kebenaran dan kesabaran".
Ini sungguh sangat sulit terlaksana atas orang yang terbangun dari konstruk berfikir gampang menyerah, lelah, dan putus asa atas hal yang sudah terjadi. Termasuk juga saya yang masih belum mampu memaksimalkan waktu dalam hal yang sifatnya positif, tindakan saya sehari-hari masih tergolong merugi. Dari sekian kometmen hidup yang sudah ditetapkan masih banyak yang tidak terlaksana bahkan yang terlaksanapun masih jauh dari sempurna. Kometmen secara formal untuk mengevaluasi diri pun selalu terbengkalai akibat rasa males, cape', yang pada ujung-ujungnya terbaring pulas ditempat tidur, terbangun dari tidur menyesal dan rencana untuk kembali menjalankan kometmen tersebut kembali ada, kadang dengan semangat yang lebih tinggi, tapi pada kenyataannya selalu terbengkalai dan masih tetap tidak mampu memaksimalkan kometmen tersebut.
Saya sempat berfikir akankah suatu yang direncanakan manusia didunia ini semuanya berjalan sesuai kometmen yang telah direncanakan..? saya berfikir sambil melihat kondisi sekitar, ternyata tidak, semua yang sudah direncakan oleh mayoritas orang, pelaksanaannya juga banyak yang jauh dari sempurna, mulai dari orang yang super sibuk, sibuk, dan yang tidak sibuk pun menurut pengamatan saya juga jauh dari sempurna.
Kesimpulan akhir dari berfikir saya yang mencari sebuah kesempurnaan dalam setiap kometmen yang ditetapkan, adalah ternyata dari kometmen yang sudah ditetapkan tidak ada yang dapat terlaksana secara sempurna, maka versi saya ternyata surat Al- Ashr nilai filosofisnya adalah agar manusia tetap selalu berusaha untuk keluar dari belengu hawa nafsu yang menciptakan kerugian nyata atas orang yang terbuai didalamnya. Dari setiap kometmen yang dibentuk memang disangaja dijauhkan dari persepsi sempurna, agar manusia tetap selalu berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik dan pada ujungnya semakin memperbesar rasa ketidak puasannya atas tindakannya. Jika rasa puas itu terjadi, maka manusia akan berhenti dari proses panjang dalam langkah membenahi persepsi rugi, sia-sia yang ada pada dirinya. Maka ketidakpuasan dan ketidaksempurnaan itu memang sengaja dicipta agar manusia tetap selalu ada semangat untuk berbenah diri dari setiap kenyataan hidup yang selalu mengundang persepsi tidak puas.

PINCANGNYA HUKUM DINEGERI INI

Bukankah hukum itu berlaku atas orang yang tahu? Tuhan saja memaafkan atas perbuatan diluar ketidaktahuan terhadap peraturan hukum-Nya, apalagi kita sesama manusia, haruskah membuat hukum melebihi aturan hukum yang di atur oleh-Nya, menjadi keprihatinan mendalam di jatuhinya hukuman mati dan hukuman seumur hidup atas terdakwa kasus mutilasi salah satu marga suku di Noaulu, pulau Seram, Maluku (Kompas, 25/02/2009), yang tujuannya tak lain hanya untuk persembahan atas pembagunan rumah adat. Mempersembahkan salah satu organ tubuh manusia untuk melengkapi ritus keyakinan dalam pembangunan rumah adat ini menjadi salah satu tradisi nenek moyang marga suku Noaulu yang tetap dipertahankan. Walaupun pada tahun 1970-an tradisi tersebut oleh para tokoh adat diganti dengan piring kuno atau kepala kaskus (Kompas,25/02/2009). Tetapi, Sampai saat ini budaya tersebut sulit dihilangkangkan karena mungkin masih dianggap tradisi yang mesti dipertahankan. Diperkuat dengan keterangan tokoh masyarakat Noaulu yang juga Kepala Dusun Negeri Lama, Desa Sepa, Maluku Tengah, Marwai Leipary (25), mengakui tradisi pengunaan kepala manusia sebagai persembahan penbangunan rumah adat memang ada sejak zaman dahulu (Kompas, 25/02/2009)
Hemat saya, dirasa tak terbesik sidikitpun dibenak mutilator Noaulu untuk mendiskrimanasikan korban motilasi tersebut, beda dengan kasus mutilasi kondang asal Jombang Verry Idam Henyansyah alias Ryan yang di penghujung tahun 2008 populer diperbincangkan, tujuan formalnya jelas jauh berbeda, mutilasi Jombang untuk memperkaya diri dengan cara kejam dan sadis, sedangkan mutilasi Noaulu untuk mempertahankan keyakinan adat. Sangat wajar bila mutilator jombang dijatuhi hukuman mati, karena selain orangnya berpendidikan apalagi dikenal pendidik, juga orangnya bisa diyakini tahu aturan hukum Negara dengan pengetahuan pada bahasa negeri yang fasih. Dan sangat tidak wajar hukuman seumur hidup apalagi hukuman mati dijatuhkah atas warga marga Noaulu yang kondisinya jauh dari keterjangkauan pengatahuan luas kecuali pengatahuan adat yang mengental, didukung ketidak bisaanya terhadap bahasa negeri (Indonesia) apalagi peraturan dan perundang-undangan hukum dinegeri ini. Ukuran rasional saya, sangat tidak pantas bila hukum dijatuhkan kepada orang yang tidak tahu dan alat untuk tahu (bahasa) masih belum dikuasainya. Akan lebih pantas mensosialisasikan sekaligus meningkatkan kualitas pendidikannya, agar komonitas warga yang diyakini perlu mendapatkan perhatian lebih bisa sepadan dengan komonitas warga yang sudah dianggap mampu beretika, berprilaku, ala warga lain Indonesia masa kini yang tahu aturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Kemiripan Tradisi dan Alkisah
Melihat tradisi warga marga Noaulu, yang hampir sama dengan salah satu kisah Nabi dalam leterasi agama Islam, Nabi Ibrahim, yang rela dan ihklas mengorbankan putra semata wayangnya Isma'el demi ketegakan agama Tuhid yang diyakininya, putra satu-satunya yang sangat disayangi, dan satu-satunya anak yang ditunggu puluhan tahun akan kehadirannya, kini harus dikorbankan atas perintah Tuhan yang diyakini memerintahkan kepadanya, walau perintah tersebut hanya melalaui media mimpi yang kontra sekali dengan akal logika dan rasionalitas, tapi rasionalitas tidak menjadi ukuran mutlak atas keyakinan yang diyakininya, semua termentahkan oleh keyakinan yang kuat untuk tetap melaksanakan perintah Tuhannya, sebagai suatu persembahan dan ketundukan kepada Tuhan yang diyakininya.
Kisah Nabi diatas, ketika direlevansikan dangan tradisi warga marga Noaulu, menurut hemat saya, hampir ada kesamaan substansi, hanya beda zaman dan waktu, warga Noaulu; tradisi mengorbankan salah satu organ tubuh manusia sebagai persembahan atas pembangunan rumah adat, tak lepas dari keyakinan spritualnya yang menurut pemerintah di klaim sebagai agama Hindu (Kompas, 25/02/2009). Dimana tradisi tersebut dengan kisah pengorbanan Nabi Ibrahim atas anaknya sangat tidak bisa dijangkau oleh akal logika dan ukuran rasionalitas, ketika dacarikan pembelaan dan pembenaran menurut ukuran rasionalitas dan undang-undang yang dibuat oleh sesama manusianya (aturan hukum pemerintah) maka tidak akan ditemukan titik temu yang signifikan. Karena rasionalitas tidak mampu menjangkau keyakinan spiritualitas yang cendrung irrasional.

Undang-Undang Yang Memihak
Kasus diatas ketika di elaborasikan dengan kondisi mayoritas pelasana (ekskutif), pengawas (yudikatif) dan pembuat (legislatatif) undang-undang negeri ini sangat tidak ada keadilan. Semisal, Herman Allositandi, Irawady Joenoes, Urip Tri Gunawan (Yudikatif), Al Amin Nasution, Bulyan Royan, (legislatif) dan puluhan pejabat ekskutif dan legislatif anggota DPRD serta kepala daerah, baik gubernur, bupati, atau wali kota sepanjang tahun 2006-2008 (Kompas, 25/02/2009) ketika bertindak yang mematikan sendi-sendi kehidupan negeri ini, yaitu "korupsi"! tidak diadili sesuai amanah undang-undang. Seharusnya orang yang seperti ini yang pantas dihukum seumur hidup dan dihukum mati, karena sudah jelas merugikan sekaligus mematikan rakyat pelan tapi pasti. Orang seperti ini sudah sangat jelas paham betul terhadap aturan dan perundang-undangan dinegeri ini. Tapi peraturan hanya sebatas peraturan yang mudah di lontarkan dan dipertofoliokan, belum menyentuh tatanan implemetasi yang sifatnya menyentuh seluruh lapisan, tampa terkecuali pejabat legislatif, ekskutif, dan yudikatif sebagai lembaga panutan dan percontohan negeri ini. Sangsi pelanggaran pada aturan dan perundang-undangan hukum yang berlaku terkesan hanya untuk rakyat yang lemah dan terisolasi seperti warga marga Noaulu dan warga pedalaman lainnya yang jelas buta bahasa, apalagi hukum Negara.
Ketidak Merataan Sanksi
Jelas kita jumpai; penjara atas pejabat dan orang biasa sangat jauh berbeda, ruang pegap, dan bau diperuntukkan untuk orang biasa. Sedangkan penjara untuk para pejabat layaknya ruang vip hunian orang abdi Negara yang bersih dari KKN. Hal ini sangat tidak sesuai dengan bunyi sila yang ke-2 yaitu sila "kemanusiaan yang adil dan beradab", dimana diambil dari salah satu bunyi 45 butir pancasila yang ada di sila ke-2 berbunyi, 1) mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. 2) mengakui persamaan drajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia tampa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit, dan sebagainya (UUD 45' Amandemen I, II, III, IV).
Pesan pancasila sangat jelas hanya pertofolio, tidak ada pengaruhnya sedikitpun terhadap keputusan dan kebijakan para pemegang kekuasaan. Pesan pancasila hanya dijadikan pesan mati yang tidak digubris. Walau formal pelaksanaannya seakan menjalankan yang diamanahkan pancasila, tapi substansinya melenceng bahkan bertentangan dengan pancasila. Sungguh ironis negeri ini punya perundang-undagan yang mengayomi seluruh lapisan, tapi pelaksanaannya dijalankan dengan cara pincang.

Tulisan ini adalah tulisan pertama saya yang dikirimkan ke Kompas jatim

Minggu, 15 Februari 2009

VALENTINE'S

Hari kasih sayang; Valentine’s. Suatu perayaan yang dikenal hampir seluruh penduduk bumi menjadi momentum formal untuk mengungkapkan perasaan kasih dan sayang sebagian besar masyarakat dunia. Tak memilih yang miskin apalagi yang kaya, semua merayakannya sesuai dengan statusnya.
Cuma; mulai dari tenarnya kata Valentine’s sampai sekarang, Valentine’s masih dimaknai secara sempit yaitu ungkapan kasih sayang yang hanya untuk manusia terlebih pasangan lawan jenis, belum pernah ada pemaknaan Valentine’s yang sifatnya global alias tidak hanya mengasihi dan menyayangi sesama manusianya saja, tapi juga rasa kasih dan sayang tersebut untuk lingkungan alam sekitar.
Kalau kita mau melihat keadaan alam dunia akhir-akhir ini terlebih di Indonesia sudah sangat tidak ramah sekali, mulai dari banjir, longsor, gempa, kebakaran hutan, menjadi tontonan yang tergolong rutin. Ini penyebabnya tidak lain karena ungkapan rasa kasih dan sayang manusia hanya untuk manusia, bukan juga untuk lingkungan. Andai, rasa kasih dan sayang tersebut juga untuk lingkungan maka secara akal tidak akan terjadi bencana yang hapir silih berganti ini. Kebiasaan membuang sampah di sungai, menebang pohon besar-besaran tampa menanamkan bibit baru kembali, menggunakan kendaraan yang emisinya tinggi, tidak dikelolannya secara baik dan benar limbah pabrik dan rumah tangga, dan banyak lagi ragam macam kebiasaan manusia yang mengakibatkan alam ini semakin tidak bersahabat, mari kita rubah bersama dengan kemampuan yang ada dengan cara memulainya dari hal-hal kecil yang sering kita abaikan yang menjadi pembuka kitidakramahan lingkungan.

PENTINGNYA PENGALAMAN

"Setiap langkah adalah pengalaman". Sebait kata yang pernah dilontarkan oleh salah seorang teman diwaktu saya masih berdomisili di Pondok Annuqayah. Benar memang, karena setiap pengalaman yang terjadi akan menjadi bagian yang ikut andil dalam langkah hidup berikutnya. Pengalaman akan menentukan cara berfikir, bertindak, berbicara yang kemudian membentuk sebuah karakter. Pengalaman jangan hanya diartikan secara sempit, membaca pun merupakan bagian dari pengalaman yang tak kalah pentingnya, membaca menjadi kunci pembuka sebuah pengatahuan, mayoritas orang yang sukses karena banyak membaca, sebenarnya membaca; tidak menjadi jaminan kesuksesan hidup seseorang, tapi membaca menentukan kesuksesan tersebut. Sebenarnya pengalaman jika tidak bisa dijangkau dengan langkah fisik masih dapat ditempuh dengan menbaca buku yang membahas pengalaman dimaksud. Takkan ada kata sulit bagi orang yang mau keluar dari kungkungan kebodohan alamiah ini. Sesuatu yang terjadi harus disikapi dengan bijak, filter seoptimal mungkin kejadian hidup ini, ambillah manfaat dan hikmahnya untuk menghadapi kehidupan berikutnya yang pasti lebih berat, semakin berat cobaan hidup semakin sempurna pengalaman, kiat dan trik untuk menghadapi problem hidup semakin luas.
Baik buruknya kehidupan seseorang di pengaruhi oleh seberapa banyak pengatahuan yang dimiliki, pengetahuan hanya didapat dari pengalaman; membaca, manulis, ide dan trik yang dipakai dalam menyikapi problem hidup. Jika pengalaman didominasi oleh hal-hal yang negative, maka keadaan hidup akan lebih condong pada hal-hal yang sifatnya negative, karena hal tersebut sudah membentuk sebuah karakter yang kemudian mempengaruhi konstruk berfikir seseorang.
Pengalaman dianggap lebih dominan dibanding cara pandang etnik, kultur, ras, suku, etnografis dan giografis kedaerahan yang sifatnya membudaya. Semisal; walau budaya menekankan pada warna merah tapi pengalaman sering ada diwarna lain, maka cara berfikir akan sering ada diwarna lain walaupun tidak menghilangkan warna budaya dimaksud, bahkan nyaris warna budaya dimaksud menjadi konsep basi yang pelan tapi pasti akan lenyap dengan sendirinya.
Hal ini tidak akan menajadi persoalan bagi orang yang tidak mempersoalkan, karena masing-masing manusia tetap akan berupaya untuk hidup lebih baik, nyaman, tenang, damai dan sejahtera, dengan beragam konsep dan teori yang didapatkan dari setiap pengalaman yang terjadi.
Konsep pengalaman akan mementahkan konsep budaya, relevansi pengalaman dengan perjalanan hidup menjadi titik temu dalam melahirkan persepsi baik, benar, nyaman yang sifatnya absolut. Seseorang yang cendrung pada konsep budaya berarti orang tersebut miskin pengalaman, pengalaman yang terjadi pada dirinya masih belum mampu mendobrak konsep budaya yang sifatnya kaku, maka jangan heran jika banyak orang tidak mengalami perubahan yang signifikan dalam hidunya. Dapat dilihat orang yang keadaan hidupnya minoritas bergengsi pasti orang tersebut mendahulukan konsep yang dihasilkan dari pengalaman ketimbang konsep yang dihasilkan dari budaya. Maka sungguh pengalaman itu sangat penting, karena pengalaman akan menentukan kehidupan seseorang kepada yang lebih baik.

MENYEIMBANGKAN ANTARA KEYAKINAN MISTIS DAN ILMIAH

Dua keyakinan yang sangat kuat pada budaya pesantren dalam proses penggalian ilmu, yaitu; keyakinan mistis, dan keyakinan ilmiah. Dimana keyakinan mistis diyakini sebagian santri dalam mendapatkan suatu ilmu tidak harus dengan belajar, cukup dengan tawashul di baqbaroh (kuburan para pengasuh pondok pesantren), bangun di tengah malam, menjadi abdi dalem (menbantu kebutuhan sehari-hari pengasuh), dan keyakinan irrasional lainnya. Keyakinan ilmiah sebaliknya, untuk mendapatkan suatu ilmu harus dengan belajar yang rajin, tampa melalui jalur metode ini menurut akal rasional seakan nihil mendapatkan sebuah ilmu pengetahuan.
Dari dua faham keyakinan ini jika disinergikan menurut hemat penulis akan menghasilkan ilmu yang sangat luar biasa. Contoh kasus seperti Imam Al-Ghazali menjadi orang yang sampai saat ini tetap harum namanya karena ilmunya yang didapat atas usaha yang ilmiah dan mistis, menurut sejarah, Imam Al-Ghazali ketika mau berangkat menimba ilmu pengatahuan disarankan oleh ibunya untuk selalu jujur (mistis) dan istiqamah (ilmiah), kemudian pada perjalanannya dihadang oleh para perampok, dengan tenang Imam Al-Ghazali mengatakan sejujurnya atas bekal yang dibawanya, para perampok terperangah kaget atas kejujurannya yang pada akhirnya menjadi murid perdananya Imam Al-Ghazali. Dan masih banyak lagi kisah manusia sukses yang mensinergikan antara keyakinan mistis dan ilmiah.
Faham yang ditanamkan para pengasuh pondok pesantrenpun serat sekali dangan keyakinan mistis dan ilmiah, konsistensi dalam beribadah, belajar, mujadalah (diskusi), mengurangi porsi makan, memperbanyak dzikir dan do'a, perhatian terhadap kebersihan lingkungan yang semua ini akan menentukan kualitas ilmu seorang santri.
Tidak pernah ditemukan dalam proses belajar mangajar di pesantren yang mendikotomikan antara keyakinan mistis dan ilmiah, dimana keyakinan mistis dan ilmiah substansinya sama, ialah hanya untuk mengharap ridha Allah semata dari setiap aktifitas hidup yang akan dan sudah dilalui.
Hemat penulis Kesempurnaan dalam mendapatkan ilmu disebuah pesantren akan diperoleh bila mana tetap konsisten dalam belajar, berdiskusi, beribadah, mengurangi porsi makan, rajin datang ke baqbaroh untuk bertawashul pada para pengasuh, aktif dalam kegiatan social seperti membersihkan kamar mandi, saluran air, parit, dimana dalam kegiatan tersebut mengasah rasa ikhlas dalam setiap aktifitas santri yang nantinya akan menentukan nilai barokah yang diyakini sampai sa'at ini meng-endemik di pondok pesantren.

"MEMBANGUN PILKADA YANG BRKUALITAS"

Salah satu Seminar yang saya ikuti pada hari Sabtu, 10 Januari 2009 di aula wisma Bahagia Kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya telah memberikan sedikit banyak pemahaman tentang politik, baik politik praktis maupun politik yang berbasis kebangsaan. Faham politik yang sedikit banyak disinggung oleh pemateri yang terdiri dari praktisi, pejabat pemerintah daerah dan akademisi, dari salah satu pemateri tersebut ada yang secara blak-blakan lebih condong pada marginalisasi politik praktis yang notabene bermuara pada politik yang dikembangkan partai politik. Padahal kalau kita mau melihat sebagian besar tahapan untuk menjadi pejabat pemerintah baik legeslatif maupun eksekutif harus melalui partai politik. Partai politik sa'at ini diyakini banyak orang menpunyai visi misi yang substansinya pada kepentingan golongan atau kelompok, bukan kepentingan untuk semua warga Negara, dan partai politik masih juga diyakini sebagai lembaga yang pintar mengumbar janji-janji palsu untuk meloloskan partainya menjadi partai yang manguasai lembaga pemerintahan, sehingga tidak heran jika angka golput sa'at ini mendominasi warga Indonesia. Ini terjadi kerena kepercayaan masyarakat terhadap orang yang mengatakan siap meminpin negeri ini sudah semakin menipis bahkan nyaris tidak ada, sebagai gambaran kecil dalam pilgub jatim saja sudah lebih dari 50% angka golput pada warga jatim, saya asumsikan jika system parpol tetap terus seperti ini maka suatu sa'at ini angka golput akan mencapai 100%.
Sekarang parpol harus punya terobosan baru untuk menarik kembali kepercayaan rakyat dalam ke-ikut sertaannya pada pemilihan eksekutif maupun legeslatif yang sa'at ini systemnya harus melalui parpol dengan 1). Tidak mudah mengumbar janji. 2) berkometmenlah untuk memperbaiki system yang suda ada, jangan malah menciptakan system baru yang justru memperbesar kesumrawutan system yang sudah ada. 3) susunlah visi misi yang mengakomodir seluruh warga jangan hanya bisa memanuhi keinginan dan harapan sebagian orang saja. 4). Kampanyekan sesuai pasan yang diamanahkan pancasila yang mengedapankan faham pluralitas, nilai kemanusiaan, menghargai sebuah perbedaan, menghormati dan menyayangi seluruh lapisan walupun berbeda partai, demi terciptanya sebuah keadilan dan sekesejahteraan bagi seluruh warga Negara bukan terciptanya keadilan dan kesejahteraan bagi penguasa saja
Ketika hanya para penguasa saja yang sejahtera, ini sudah keluar dari reel yang diamanahkan pancasila, perubahan bahasa secara spontanitas di lontarkan oleh sebagian masyarakat menjadi bukti nyata bahwa sa'at ini fenomena itu benar –benar terjadi di bumi Indonesia.
Hal tersebut salah satunya dilatar belakangi oleh mendarah dagingnya budaya kometmen terhadap kepentingan golongan dan individu dalam tatanan pemerintahan di negeri ini yang sampai detik ini orang-orang penting penentu kebijakan yang bercokol dalam pemerintah harus melalui jalur partai politik yang serat dengan kepentingan golongan dan individu.
Semoga catatan ini menjadi bagian dari bahan evaluasi bagi pemain parpol. Amien….

Rabu, 04 Februari 2009

Catatan hari kamis, 15 Januari 2009 jam 19.00-Selesai

Kamis malam Jum'at adalah malam dimana aku tergabung dalam khidmadnya membaca yasyin plus Tahlil di besecamp PMII Faks Syariáh, dilanjutkan dengan rujak party sesama teman. Ada banyak hal yang didapatkan, mulai asyiknya kebersamaan, nikmatnya persatuan menjadi sebuah ajang dalam mempererat tali persaudaraan. Canda tawa yang menghiasi forum itu menjadi ciri khas tersendiri bahwa forum tersebut forum anak muda yang semuanya terdiri dari para mahasiswa, goyon berbau pendidikan mendominasi gelak tawa tersebut. Ciri khas Patungan untuk membeli snack juga tidak ketinggalan ada dalam acara rutinan tersebut.
Wah saya iseng berfikir jika budaya seperti tetap bisa berkembang dan berjalan dengan lancar maka akan menjadi kebiasaan yang dampaknya berupa kedamaian dan kesejahteraan. Kenapa bisa begitu?

• Kebersamaan
Jika budaya ini tetap tertanam didalam diri manusia maka solusi untuk memcacahkan problem hidup menjadi gampang dan mudah, karena diantara manusia satu dangan manusia lainnya dapat saling bertukar fikiran tentan ide, konsep, dan pengalaman hidup untuk dijadikan jawaban dalam setiap masalah yang terjadi.
Manusia yang mana sich yang tidak butuh pada orang lain? Salah, lupa dan seabrak kelemahan lainnya tidak akan pernah hilang dalam diri manusia, karena hal tersebut merupakan sifat alamiah yang tetap akan ada dalam diri manusia. Manusia memang direncanakan oleh penciptanya untuk hidup dengan kebersamaan, tidak perorangan, ternyata budaya perorangan (individualistik) yang pada zaman modern ini menghiasi perjalanan hidup manusia, berada di garda terdapan dalam kerusakan yang terjadi. Menbudayanya sifat sombong, merasa paling cerdas, pintar dan yakinnya memecahkan sebuah persoalan dengan tampa bantuan orang lain menjadi pijakan utama manusia untuk bersifat individualistik, padahal dari sifat individualistic tersebut bukan malah bisa menjawab terhadap problem yang ada justru menciptakan problem baru yang semakin membebani terhadap perjalan hidup didunia ini.

•Persatuan
Warna Budaya persatuan semakin luntur akibat budaya indvidualistik yang mendominasi akal fikiran dan tindakan manusia masa kini. Pentingnya budaya persatuan tergantikan oleh kompetisi yang saling menjatuhkan, demi memenuhi hasrat dan hawa nafsu. Manusia menghalalkan segala macam cara untuk memuluskan perencanaan, Meskipun perencanaan itu akan melewati penderitaan orang lain tidak menjadi masalah, dikarenakan dominanya manusia yang menganggap kesejahteraan hanya akan didapat dengan kompetisi yang menjatuhkan lawan. Manusia lainnya bukan lagi kawan yang harus diberdayakan tapi lawan yang harus ditumbangkan. Tidak kenal Bapak, Ibu, Anak, Saudara dan karabat, jika diantara mereka ada yang dianggap menggangu terhadap jalannya sebuah perencanaan maka harus disingkirkan karena dianggap parasit yang akan menggangu terhadap tumbuh kembangnya perjalanan perencanaan tersebut. Gambaran Manusia masa kini tak ubahnya binatang yang tidak punya akal sama sekali. Maka tak ayal jika dunia ini tambah rusak, karena itu semua akibat ulah manusia yang melampawi batas.

Jumat, 16 Januari 2009

BUDAYA SEBAGAI LEGETIMASI SEBUAH TINDAKAN

Sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari sebuah tindakan yang tidak sesuai bahkan melanggar terhadap salah satu peraturan dan perundang-undangan dari masing-masing keyakinan agama yang kita yakini. Ini terjadi kerena agama bukanlah hasil budaya, agama adalah doktriner Tuhan yang dibawa oleh manusia pilihan-Nya sehingga mampu mempengaruhi budaya masyarakat yang kemudian menghasilkan sebuah budaya baru (akulturasi). Jangan heran ketika masyarakat lebih mendahulukan budaya nenek moyangnya dari pada tunduk patuh pada peraturan paham agama. Sebagai contoh mengapa budaya carok di Madura tetap ada (eksis) sampai sekarang walaupun faham agama (Islam, Kristen) sudah mewarnai masyarakat Madura sejak beberapa abad yang lalu? Dikarenakan mayoritas masyarakat Madura lebih mengedapankan nilai budaya nenek moyangnya dari pada berdiri tegak diatas faham agama yang justru melarang budaya tersebut. Faham carok pada masyarakat Madura menjadi syimbol dari pembelaan harga diri yang menjadi harga mati ( Anggo' lokah kole' etempeng lokah ateh = lebih baik luka kulit dari pada sakit hati) faham ini mendarah daging dari generasai kegenerasi Madura sehingga sampai sekarang budaya itu sulit dihilangkan. Banyaknya tokoh masyarakat agama (kiai dan rohaniawan) dianggap masih belum mampu memberikan jawaban (solusi) atas budaya yang pada dasarnya kebanyakan (mayoritas) masyarakat Madura tidak menginginkannya. Mulai detik ini saya sebagai orang akademisi mengajak kalian semua (pembaca) untuk mencari solusi tepat guna dari tindakan yang meresahkan masyarakat sekaligus memarginalkan masyarakat Madura dimata masyarat luar Madura tersebut, ada banyak cara sebanarnya yang penekanannya pada nilai-nilai kemanusiaan, saling menghargai dalam sebuah perbedaan untuk memberikan jawaban dari kekohan masyarakat Madura pada carok sebagai pembelaan terhadap harga diri tersebut. Sudah sa'atnya kita sebagai generasi ahli konsep dan teori untuk menerapkan keilmuan kita dalam dunia nyata, karena masa depan Madura merupakan masa depan kita bersama.

KESEMPURNAAN DALAM SEBUAH KOMETMEN

Kometmen..! sengaja dibentuk dalam diri. Jadwal hidup juga sengaja disusun secara rapi. Semua ini suatu upaya untuk benar-benar bisa menjadi manusia yang tidak merugi seperti yang di pesankan dalam surat Al-Ashr 1-3 " sesungguhnya manusia dalam keadaan yang merugi, kecuali atas orang-orang yang beramal shaleh, dan saling menasehati dalam menta'ati kebenaran dan kesabaran".
Ini sungguh sangat sulit terlaksana atas orang yang terbangun dari konstruk berfikir gampang menyerah, lelah, dan putus asa atas hal yang sudah terjadi. Termasuk juga saya yang masih belum mampu memaksimalkan waktu dalam hal yang sifatnya positif, tindakan saya sehari-hari masih tergolong merugi. Dari sekian kometmen hidup yang sudah ditetapkan masih banyak yang tidak terlaksana bahkan yang terlaksanapun masih jauh dari sempurna. Kometmen secara formal untuk mengevaluasi diri pun selalu terbengkalai akibat rasa males, cape', yang pada ujung-ujungnya terbaring pulas ditempat tidur, terbangun dari tidur menyesal dan rencana untuk kembali menjalankan kometmen tersebut kembali ada, kadang dengan semangat yang lebih tinggi, tapi pada kenyataannya selalu terbengkalai dan masih tetap tidak mampu memaksimalkan kometmen tersebut.
Saya sempat berfikir akankah suatu yang direncanakan manusia didunia ini semuanya berjalan sesuai kometmen yang telah direncanakan..? saya berfikir sambil melihat kondisi sekitar, ternyata tidak, semua yang sudah direncakan oleh mayoritas orang, pelaksanaannya juga banyak yang jauh dari sempurna, mulai dari orang yang super sibuk, sibuk, dan yang tidak sibuk pun menurut pengamatan saya juga jauh dari sempurna.
Kesimpulan akhir dari berfikir saya yang mencari sebuah kesempurnaan dalam setiap kometmen yang ditetapkan, adalah ternyata dari kometmen yang sudah ditetapkan tidak ada yang dapat terlaksana secara sempurna, maka versi saya ternyata surat Al- Ashr nilai filosofisnya adalah agar manusia tetap selalu berusaha untuk keluar dari belengu hawa nafsu yang menciptakan kerugian nyata atas orang yang terbuai didalamnya. Dari setiap kometmen yang dibentuk memang disangaja dijauhkan dari persepsi sempurna, agar manusia tetap selalu berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik dan pada ujungnya semakin memperbesar rasa ketidak puasannya atas tindakannya. Jika rasa puas itu terjadi, maka manusia akan berhenti dari proses panjang dalam langkah membenahi persepsi rugi, sia-sia yang ada pada dirinya. Maka ketidakpuasan dan ketidaksempurnaan itu memang sengaja dicipta agar manusia tetap selalu ada semangat untuk berbenah diri dari setiap kenyataan hidup yang selalu mengundang persepsi tidak puas.
Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP