Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Sabtu, 21 Maret 2009

SEMAKIN MEMANASNYA BOLA POLITIK DI NEGERI INDONESIA

Seminar yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IAIN Sunan Ampel Surabaya sedikit banyak menyumbangkan pemikiran baru dalam melihat realitas para pemegang kebijakan dinegeri ini. Acara yang dihadiri seorang kritikus handal, negarawan, dan wartawan yang banyak tahu tentang dunia perlemen berbincang lancar tentang performance negative negeri ini. Mulai dari trackrecord orang parlemen yang mayoritas kesukaanya melakukan negoisasi pincang demi kepentingan dirinya atau kelompoknya dalam merencakan dan menetapkan sebuah kebijakan sampai pengaruh globalisme yang menuhankan materi.
Menarik sekali perbincangan tersebut untuk diklarifikasi lebih dalam, karena orientasi perbincangan tersebut tak lain untuk mengembalikan kestabilan negeri ini kejalan yang aman, tentran, damai, dan sejahtrera.
Usulan menarik dari salah satu pembicara acara tersebut di ending opinionnya “ perlu sekali mencari figur peminpin yang masih tetap berpegang teguh pada agama; semisal islam, contohlah kepribadian Nabi Muhammad yang professional dalam mengatur Negara dan agama, masih menurut beliau “jika orang islam yang menjadi penentu kebijakan tetap berpegang teguh pada agama dan tidak menggunakan agamanya sebagai kendaraan politik dan baju formal dalam kebjikannya maka insya Allah negeri ini akan tidak serusak saat ini. Karena orang-orang yang beragama sudah banyak yang meninggalkan agamanya termasuk kiai yang seharusnya memberikan contoh pada jamaahnya sudah bertindak konyol dan menjadikan agama sebatas lebelitas untuk meloloskan rencananya yang busuk alias juga nimbrung dalam arus politik negeri yang muaranya pada kepentingan pribadi, kelompok dan sesaat, maka kerusakan tak dapat terelakkan. Teringat sebuah firman Allah yang garis besarnya adalah “ segala kerusakan didaratan dan dilautan diakibatkan oleh ulah manusia”
Menurut salah satu pembicara yang lain, bahwa masyarakat Indonesia saat ini sudah menuhankan materi alias sudah materialistik. Keberhasilan seseorang bukan dilihat dari sejauh mana mereka bertanggung jawab atas amanah yang di amanahkan kepada dirinya, kejujuran, dan keadilan, tapi diukur dari sejauh mana materi yang melekat dalam dirinya, sehingga tak heran banyak kebijakan-kebijakan yang keluar dari yang seharusnya ia jalankan dan timbullah kata kolusi, nepotisme, dan yang sangat ngetrend saat ini KORUPSI mewarnai perjalanan negoisasinya dengan orang sekitarnya.
Sebagai muslim sejati mari kita contoh Nabi Muhammad sebagai teladan utama ummat islam, dan mari kita jadikan agama ini tidak sekedar lebelitas yang melekat dalam diri. Kerena jika ajaran agama ini benar-benar kita laksanakan, maka karusakan dimuka bumi khususnya di Indonesia Insya Allah dapat diminimalisir, asalkan kita mau memulainya dari diri kita sendiri. Pasti bisa…!
Hasil catatan seminar “kebangsaan” di gudung SAC IAIN Sunan Ampel Surabaya pada hari Rabu, 18 Maret 2009

RENUNGAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Pada masa berjalannya peperangan salib, Jalaluddin As-Suyuti mengadakan seyembara kepenulisan biografi Nabi Muhammad Saw. Tulisan tersebut yang tetap eksis sampai saat ini karangan Abdurahman Addiba’e dan syekh Al-Barzanji sehingga di kenal istilah barzanji dan tiba’ dalam setiap moment sholawatan manggagungkan dan memulyakan Nabi Muhammad SAW. Dan sejak sayembara itulah moment-moment bersholawat pada nabi semakin diformalkan oleh para ulama’ dan ummat islam, sehingga ada bulan tertentu yaitu bulan Rabi’ul Awal tepatnya pada tanggal 12 yang diyaki mayoritas ummat islam sebagai hari kelahiran nabi Muhammad SAW yang saat ini dimeriahkan dengan bersholawat mengagungkannya.
Terlepas dari pro kontra tentang moment-moment waktu bersholawat pada nabi yang dari dulu tetap eksis, sangat perlu untuk dicarikan benang merah dari kegiatan srimonial tersebut. Diantaranya yang sering saya jumpai selain bersholawat adalah dalam mereview kembali terhadap kesuksesan nabi Muhammad dan kisah kisah sukses lainnya sebagai tolak ukur untuk dijadikan cermin ummat islam dalam menjalani kehidupan didunia dan keyakinan hidup di akhirat. Bahkan kesuksesan nabi Muhammad tidak hanya diakui oleh kalangan ummat islam, tapi juga kalangan non muslim mengakui kesuksesannya, terbukti dalam buku “100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia” karangan Michel E Heart (seorang tokoh non muslim) menempatkan nabi Muhammad di urutan pertama sebelum tokoh-tokoh dari kalangannya.
Dinukil dari salah satu penyampaian khotib Jum’at pada tanggal 20 Maret 2009 di masjid Muayyad Wnocolo Surabaya bahwa kenapa pada masa sahabat itu tidak ada yang bersholawat pada nabi yang kemas secara srimonial?, kerena pada masa itu dianggap masih terlalu dini untuk mengenang dan mengigat kepribadian nabi yang sangat luar biasa, para sahabat masih tetap eksis menggunakan cara-cara nabi dalam menghadapi segala hal pada masa itu, dan cara-cara yang dipraktekkan nabi masih segar dalam ingatan para sahabat, sehingga dianggap tidak penting dan tidak perlu mengenang dan mereview figur rasul Muhammad.
Saya bukan orang yang pro dan kontra dalam srimonial rutin sebagian ummat islam (maulid Nabi Muhmmad), tapi saya adalah orang mau mengingat kembali akan pesan amanah yang telah disampaikan nabi melalui perbuatan dan perkataannya dalam mengahadapi hidup. Dan Tuhan menjadikan nabi Muhammad sebagai pembawa missi terahir ketuhanan, dirasa praktek hidup cara nabi akan mampu menjawab problem-problem sampai alam dunia ini binasa. Maka tak ayal jika Tuhan menjadikan rasul Muhammad sebagai suri tauladan terhadap seluruh ummat manusia sesudahnya. Ajang srimonial yang diadakan oleh sebagian ummat islam ini menurut saya tidak bisa disalahkan, karena jelas muaranya pada suatu perbaikan-perbaikan dalam menapaki kehidupan yang akhir-akhir semakin jauh dari rel yang semestinya.
Menjadi pekerjaan rumah kita bersama, bahwa dari setiap kegiatan srimonial merayakan kelahiran Nabi Muhammad yang didalamnya mengenang dan melihat kembali akan sosok Muhammad ternyata hanya berahir dalam sabuah perbincangan, tidak dalam praktek keseharian, maka tidak heran jika perayaan tersebut tidak mampu membawa pengaruh apa-apa dalam dinamika kehidupan. Kehidupan ini tetap carut marut dan malah tambah rusak kerena orientasi orang yang sering merayakan kelahiran nabi mejadikan perayaan ini sebuah kendaraan musiman untuk memuluskan kepentingan-kepentingan pribadi yang muaranya tak lain kecuali untuk menumpuk materi.
Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP