Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Rabu, 08 April 2009

MEMAHAMI MAKNA SEBUAH PERSAHABATAN

“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. Al-Hujurat : 13)

Benar memang pendapatnya salah seorang ahli psikologi bahwa orang yang jatuh cinta bukan hanya karna kecantikan dan ketampanan, tapi karena saringnya dalam sebuah kebersamaan. Persahabatan; sering kali menjadi awal dari sebuah jalinan cinta kasih seseorang, kedekatan dan kebersamaan yang didukung oleh intensnya komonikasi akan memperkuat ikatan emosional seorang dalam berteman, kadang kedekatan itu berakhir pada istilah “pacaran”
Pada dasarnya persahabatan itu sangat mulya, bahkan dalam islam sebagai basis agama yang paling banyak panganutnya sangat diapresiasi, Cuma kadang pemaknaan terhadap kata sahabat itu disalah artikan, bahkan kadang juga dijadikan temeng untuk berbuat bejat mendobrak nilai moralitas yang kadung melekat pada masing-masing manusia. Istilah teman tapi mesra (TTM) dan banyak istilah lain yang secara formalnya adalah sahabat tapi prakteknya tak ada bedanya dengan kebiasaan hewan yang kesana-kemari berganti pasangan dalam pemuasan nafsu birahinya. Dari sisi lain, pemaknaan kata sahabat ada juga yang benar-benar semakin meninggikan drajad manusia, saling memotifasi, bertukar pengetahuan, pengalaman menjadi contoh kecil dari sekian banyak contoh makna pertemanan yang sesungguhnya. Idealnya, persahabatan memang seharusnya seperti contoh diatas, tapi terkadang, intensnya sebuah kebersamaan membuat kita terlena akan makna sebuah persahabatan itu sendiri, hal ini memang dirasakan penulis. Batas antara petemanan dan pacaran itu sendiri diibaratkan selaput lendir klitoris wanita, dimana saking tipisnya slaput lendir tersebut kadang mengkaburkan antara teman dan pacar, sehingga tak ayal istilah TTM begitu ngetrend dedengungkan oleh mayoritas orang masa kini.
Bagi penulis pacaran itu boleh-boleh saja, baik pacaran yang diawali dengan persahabatan atau diawali dengan cara lain yang pada intinya adalah pacaran. Cuma perlu digaris bawahi bahwa pacaran yang bermakna adalah pacaran yang saling memotifasi, membangun kompetisi dalam keilmuan, kedewasaan berfikir dan aktifitas positif lainnya yang mendukung terhadap kehidupan lebih baik dan bermkana pada diri, orang lain, dan bangsa. Ditengah mem-booming-nya istilah pacaran yang endingnya adalah kemesuman sangat perlu kita sadari bahwa istilah itu perlu diluruskan, jauhi pacaran ala masyarakat Eropa yang nilai moralnya jauh berbeda dengan moralitas kita yang basisnya adalah islam. Mari kita ganti ruh kata pacaran ala Eropa dengan pacaran yang disarankan dalam islam. Konsep hidup baik dalam islam sebenarnya sudah sempurna tinggal bagaimana kita mau melaksanakan, termasuk istilah pacaran itu sendiri yang dikenal dengan istilah ta’aruf. Kenapa penulis seakan menyamakan istilah pacaran dengan ta’aruf ? karena pada dasarnya istilah pacaran adalah bagimana dapat mengetahui dan memahami lawan jenis secara lebih dalam sebulum memasuki jenjang pernikahan, mulai dari karakter, sifat, kepribadian, akhlak, keilmuan dan banyak lagi yang sangat penting diketehui lebih dalam sebagai barometer untuk dijadikan acuan dan penyesuaian dengan kpribadian kita masing-masing.
Semoga hal ini mudah dilaksanakan semudah saya menulisnya, karena saya sendiri masih sebatas menyadari dan berupaya untuk memaraktekkan.

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah kejadian nyata yang terjadi pada saya, waktu saya ikut sekolah filsafat di gedung DPW PKB Jatim. Tulisan ini sebagai otokritik, juga persembahan terimakasih yang tak terhingga pada sahabat Yuni Wulandari yang telah menyadarkan penulis tentang makna sebuah persahatan yang sesungguhnya.

Catatan Seminar Regional


“Reposisi Intelektual Muslim Di Tengah Pertarungan Ideology Globalisasi”
Nara sumber : Dr. Fuad Amsari, P. H.d (Intelektual Muslim), Dr. Hammis Syafaq (Candikiawan Muda)
Komonitas Pemikir Islam Yang Suka Cankruk Dan Berfikir (Kopi Cangkir)
Surabaya, 07 April 2009

Dua hari menjelang pemilihan calon legeslatif yang diadakan secara serentak diseluruh lapisan Indonesia teman-teman Kopi cangkir mengadakan bincang ilmiah dengan menghadirkan tokoh alumnus USA yang pemikirannya cukup cemerlang melihat dasar sumber problematika yang terjadi di negeri tercinta Indonesia ini. Menurut Dr. Fuad Amsari, P.H.d salah satu kesalahan dasar Indonesia hingga mengakibatkan ksemrawutan yang tak kunjung usai adalah karena salahnya bangsa Indonesia dalam menpelajari dan mendalami pengetahuan dan keilmuan politik, ekonomi, budaya, sosialnya orang-orang eropa yang mayoritas tidak bertuhan. Orang Indonesia yang belajar ke Eropa (Barat) sedikit sekali yang mempelajari tentang imu exsakta (ilmu yang sifatnya pasti) , yang di pelajari dan diperdalam adalah ilmu politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang sangat tidak sesuai dengan cirri khas warga Indonesia yang agamis. Indonesia sudah mengadopsi dan memperaktekkan terhadap dinamika social, politik, ekonomi, budaya orang Eropa secara bulat-bulat hingga sampai kemerdekaan Indonesia yang secara de vacto sudah berusia 62 tahun tidak lepas dari yang namanya krisis multidemensi. Ekonomi; menggunakan konsep ekonominya Adam Smits (Bapak Ekonomi kapitalis), walaupun K. Hajar Dewantoro sebagai fuanding father (bapak bangsa) Indonesia punya konsep yang lebih sesuai dengan pesan substansi pancasila tidak dikembangkan sebagai bekal untuk mensejahterakan dan memajukan warga Indonesia. Ironisnya, penanaman bibit perbudakan dilegitimasi secara terang-terangan oleh pemerintah kepada seluruh masyarakat Indonesia mulai tingkat pendidikan paling rendah sampai perguruan tinggi. Pemerintah dan para pemodal membangun koalisi dalam memuluskan perencanaannya tersebut, hingga proses pem-budakan terhadap warga Indonesia semakin terstruktur.
Disadari atau tidak, pemerintah pada dasarnya menjadi budak utama kapitalis sebelum warga Indonesia secara keseluruhan. Kalau boleh saya menggambarkan pemerintah sebagai budak dalam ranah intelektual (pengatur), dan rakyat dalam ranah aksi (pelaksana) dari perbudakan tersebut, hingga penderitaan, kemiskinan, tidak akan pernah usai dalam kamus sejarah Indonesia jika warga Indonesia tidak menyadiri dan berupaya untuk keluar dari kungkungan perbudakan terstruktur tersebut.
Menurut Dr. Hammis Syafaq (pemateri ke 2). Indonesia sudah tidak bisa dilepaskan dari arus globalisasi, opini yang dinukil dari pemikirannya Hasan Hanafi mengatakan, kita tidak harus menolak terhadap yang namanya globalisasi, tapi kita harus bisa menerimanya dengan menfilter terhadap arus tersebut, ada banyak yang baik dari globalisasi dan juga ada banyak yang buruk, hingga menjadi tuntutan bagi kita untuk jeli melihat dimana yang baik dan dimana yang buruk. Bahkan masih menurut Syafaq di abad ke-21 ini menjadi puncak dari kejayaan kaum kapitalis menguasai dunia. Sampai saat ini hanya satu negara yang dinilai mampu menfilter terhadap arus globalisasi tersebut yaitu Negara Iran, dimana di Iran Politik, hukum, Budaya, Ekonominya masih mengacu pada basis fundamentalnya yaitu Islam. Sedangkan ilmu eksaktanya (biologi, fisika, astronomi, nuklir,dll) sudah sangat modern. Bahkan tekanan politis dalam pengayaan uranium nuklir Iran oleh president Amerika Serikat Giorge W Bush yang mengatasnamakan masyarakat internasional tidak digubrisnya bahkan ditentang oleh president Iran Mahmoed Ahmadinejed, kerena menurut Mahmoed nuklir Iran bertujuan untuk perdamian dan backing atas serangan yang sifatnya fisik dan politis dari orang, kelompok, dan Negara manapun.
Dari fenomena diatas kapan Indonesia mencontoh Iran? Dimana politik, ekonomi, budaya, hukum mengacu pada basic fundamental, yaitu basic pluralitas masyarakat yang agamis, dan modern dalam kajian yang sifatnya saint/eksax.
Semoga Indonesia bisa, entah melalui penyadaran dan kesadaran dari masing-masing warga Indonesia.
Ketika kesadaran sudah ada, kemudian apa yang harus kita perbuat? Ini menjadi tugas berat kita bersama sebagai pewaris negeri yang kacau balau ini. Mari kita cari sama-sama langkah solutifnya. Wallahua’lam bisshawab.
Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP