Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Kamis, 24 Desember 2009

REFLEKSI BEDAH BUKU Metodelogi Study Al-Quran

“Membongkar Sakralisme Al-Quran, Perspektif Islam Liberal”
Pembicara :
1). Ulil Abshar Abdallah
2). Prof. Dr. Khusein Aziz, M. Ag.
di GEMA IAIN Sunan Ampel surabaya

Faham Libralisme di Indonesia booming setelah munculnya seorang yang Bernama Ulil Abshar Abdallah, walau ditahun-tahun sebelumnya faham liberalisme agama sudah banyak digagas oleh orang-orang semisal Abdurrahman Wahid, Nur Kholis Madjid yang tidak se-meledak ketika Ulil Abshar mengawalnya. Ulil Abshar dengan bahasa sederhana dan rasionalisasi dalam menyampaikan gagasanya, satu sisi mampu mendobrak faham agama yang rigid dan sempit, tapi disisi lain menimbulkan pertentangan keras khususnya dari kalangan islam fundamentalis. Islam liberal mencoba mendobrak faham-faham keagamaan yang cukup kuat dan sakral dikalangan ummat islam fundamental. Semisal, perspektif islam fundamental kreteria atas orang yang berhak menafsiri Al-Quran hanya orang-orang tertentu dan sudah cukup syarat dengan ketetapan yang ditetapkan oleh ulama’ salaf . Perspektif islam liberal, setiap orang berhak memahami dan menafsiri Al-Quran dari sudut pengetahuan dan pemahaman manapun, tampa terikat pada syarat dan ketentuan sebagian golongan tertentu. Karena dinamisasi pengetahuan menjadi alat yang dinamis dalam memahami Al-Quran yang berlaku sepanjang zaman. Jika Al-Quran hanya difahami melalui metode baku dimana metode tersebut lahir pada suatu jaman yang jamannya berbeda dengan jaman masa kini, maka perkembangan ilmu pengetahuan dikalangan umat islam tidak akan megalami kemajuan, karena konsep yang digunakan dalam menganalisa dan mendiagnosa Al-Quran menggunakan cara statis dan rigid, dimana konsep tersebut lahir pada jaman tertentu yang tentunya tidak sama dengan kondisi jaman masa kini. Sehingga Ulil Abshar mengklasifikasikan mufassir menjadi dua macam, Mufassir Profesional dan Mufasir Amatiran. Mufasir Profesional adalah mufasir yang lahir dari lembaga-lembaga tafsir, dan mufasir amatiran tidak lahir dari lembaga tafsir. Cuma masih menurut Ulil yang perlu digaris bawahi bahwa “belum tentu tafsir yang dihasilkan oleh mufassir professional lebih baik dari hasil mufassir amatiran, begitu juga sebaliknya”. Karena hal itulah dari klasifikasi dua mufassir tersebut untuk mengukur kualitas tafsirnya dilihat dari relevan tidaknya hasil tafsir tersebut dengan kondisi masa kini, bukan dari status formalnya orang yang menafsirkan Al-Quran tersebut.
Al-Quran sebagai kitab yang berlaku sepanjang jaman menjadi pedoman dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, sungguh naif bilamana pengembangan pengetahuan tersendat bahkan tertutupi oleh konsep-konsep rigid bahkan mematikan terhadap dinamisasi perkembangan pengetahuan dikalangan umat islam.

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP