Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Kamis, 18 Agustus 2011

KEMISKINAN DESA

Ramadhan kali ini, saya pulang dari Surabaya pada tanggal 13 Agustus 2011 yang juga kebetulan berbarengan dengan 13 Ramadhan 1432 H. hari-hari telah kulalui, sampai tulisan ini ditulis (Kamis, 18 Agustus 2011), saya tertarik untuk menulis suasana desa dalam bulan Ramadhan kali ini. Ramadhan kali ini juga berbarengan dengan suasana panen tembakau yang menjadi satu pengharapan terbesar pendapatan masyarakat desa yang bertani. Kebiasaan yang akan tetap saya dukung, yaitu kebiasaan gotong royong yang tetap melekat kuat dalam diri masyarakat desa menjadi cerminan bahwa semangat kebersamaan masyarakat desa masih sangat kuat. Gotong royong yang ‘tanpa’ pamrih ini, seakan menjadi jawab, bahwa terpaan kemiskinan yang terencana, mengangkat solidaritas masyarakat desa untuk saling membantu dalam mengentaskan ‘kesusahan’ hidup yang dihadapinya. Susah, ya, masyarakat desa memang disengaja untuk tetap susah, dalam arti sempit, walaupun pengorbanan waktu, tenaga sudah tidak kenal waktu dan lelah, masih banyak yang memanfaatkannya. Istilah kerennya ‘memeras susu dari sapi yang sudah jelas kurus kering krempeng’ alias, kondisi kemiskinan dan kesusahan masih menjadi ladang dalam ajang pemerasan oleh sekelompok orang.
Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP