Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Senin, 15 Desember 2014

Keris dan Mahluk Astral di dalamnya

Sebagai generasi bangsa, tentu kita tahu terhadap keris. Ini biasa ada dan diturunkan dari generasi ke generasi. Keris pada masa lalu, ibarat KTP pada masa kini. Keris adalah identitas manusia Nusantara yang masing-masing di antara mereka memilikinya. Kepemilikan keris ini tidak ada duanya. Dalam proses pembuatan keris, sang empunya­­—pembuat keris, melakukan ritual-ritual tertentu yang waktunya relatif lama. Rata-rata di antara satu sampai dua tahun. Selama membuat keris, sang empu berpuasa. Baik dari makan-minum, seksual, sampai melakukan pertapaan-pertapaan sebagai bentuk pendekatan kepada sang maha kuasa, dan menjauh dari hiruk-pikuk kepentingan dunia, istilah Islam-nya, zuhud.

Senin, 08 Desember 2014

Omah Munir; Musium HAM di Indonesia dan Pertama di Asia

Hari ini, Minggu, 7 Desember 2014, bersama seorang teman, Arif Abdullah, saya berkunjung ke "Omah Munir" di Jl. Bukit Berbunga No. 2, Batu, Jawa Timur. "Omah Munir" adalah musium Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia dan satu-satunya di Asia. Musium ini, sebagaimana dijelaskan oleh staf musium tersebut, dihadirkan untuk mengenang jasa-jasa Munir Thalib Said dalam konteks pembelaan atas manusia yang tertindas dan ditindas. Juga, untuk memberikan pendidikan kepada kaum muda agar dapat melanjutkan tapak langkah perjuangan Munir dalam membela orang lemah.

Sabtu, 15 November 2014

Dari RausyanFikr sampai Qaryah Thoyyibah

Pada Kamis, 13 November 2014, saya berkesempatan mengikuti Dialog terbuka bertema “Mencari titik temu Yahudi-Islam. Dialog ini diperlengkap oleh hadirnya buku ilmiah berjudul “Anak-Anak Ibrahim; Dialog terbuka mengenai isu-isu yang memisahkan dan menyatukan Muslim-Yahudi”, ditulis oleh pembicaranya langsung; Rabi Marc Schneier—pendiri dan presiden Yayasan Pemahaman Etis dan rabi Pembina Sinagoge Hampton di pantai Westhampton, New York, Amerika Serikat, dan Imam Shamsi Ali—pemimpin spiritual Pusat Muslim Jamaika, pusat Islam terbesar di kota New York. Ia bekerja di Pusat Tanenbaum, Federasi untuk Perdamaian Timur Tengah, Federasi Muslim Asean Amerika Utara, dan Yayasan Muslim Amerika. Ia orang Indonesia yang mendakwahkan Islam di Amerika. Acara ini diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Sabtu, 01 November 2014

99 Cahaya di Langit Eropa

99 cahaya di langit Eropa, sebuah film inspiratif yang menjelaskan tentang Islam dalam tapak sejarah, ajaran, maupun peradaban manusianya. Film gubahan dari novel Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahera ini sungguh patut ditonton untuk kemudian dijadikan tuntunan hidup. Mengapa? Karena menyimpan sejuta hikmah yang akan mengantarkan kita—umat manusia untuk hidup damai, rukun, saling menghormati, menghargai dalam hal apa pun, termasuk dalam hal yang paling prinsip sekalipun.

Film gubahan dari novel sejarah karya putri Amien Rais ini mampu menipis tentang ilmu sejarah yang rumit dipelajari. Bila anda membaca novel ini, apalagi sampai menonton filmnya, saya yakin, serasa tak mau beranjak dari tempat duduk atau hengkang dari kamar tidur karena terus terpancing untuk mengarungi samudera kata yang mengesankan.

Selasa, 28 Oktober 2014

BUPATI INSPIRATIF ITU, BARBAGI INSPIRASI DENGAN KAMI

Atas nama Indonesia Belajar (IB), pada Jumat, 3 Oktober 2014, kami berkesempatan untuk menememui Bupati Bojonegoro, Drs. H. Suyoto, M. Si. di kantornya. Jl. Mas Tumapel No. 1 Bojonegoro. Pertemuan itu berawal dari surat yang kami kirimkan pada 23 Agustus 2014 lalu ke Kang Yoto—panggilan atas Drs. H. Suyoto, M. Si. Surat kami baru terkonfirmasi balik melalui handphone pada Senin 22 September 2014 melalui stafnya yang bernama Dian. Oleh staf tersebut kami dikabari bahwa Bupati berkehendak kami dapat ngilmu ke Bojonegoro pada Jumat, 19 September 2014. Berhubung sejak sejak 15 September 2014 saya dihubungi katanya tidak nyambung-nyambung, maka akhirnya jadwal pertemuan kami dengan Bupati inspritif itu di-re schedule ulang.  Pada Rabu, 1 Oktober 2014 saya dikonfirmasi lagi bahwa Bupati berkenan pada Jumat, 3 Oktober 2014.

Jumat, 26 September 2014

Etika Politik Dalam Bingkai Demokrasi

Tema ini dibahas dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Indonesia Belajar (IB) pada Jumat, 12 September 2014. Diskusi yang berlangsung sejak jam 20:40 sampai 23:50 ini berjalan khidmat dengan fokus pembahasan atas ‘etika politik’ dan ‘Demokrasi’. Dalam konteks etika politik, hampir semua peserta diskusi bersepakat, bahwa politik kita dalam bernegara dan berbangsa masih belum mengedapankan tata nilai etik. Malah, mindset umum masyarakat kita kini, ketika dimunculkan kosa kata politik, yang tergambar adalah, politik itu picik, licik, penuh tipu muslihat, dan sederet pelebelan lain yang tidak mengandung nilai positif. Hal ini terjadi barangkali, salah satunya karena prilaku elit politik kita kebanyakan mempertontonkan akrobat politik yang tidak etis. Bukan berarti mereka tidak faham atas etika politik, tapi lebih kepada, mereka-mereka itu enggan berpolitik etik karena sebab tekanan mindset berfikir mayoritas yang sudah kadung menuhankan materialistik. Politisi sebagai pejuang kesejahteraan beralih fungsi menjadi profesi untuk gaya-gayaan dan menumpuk uang, untuk kemaslahatan diri dan golongan. Politisi kebanyakan hanya pandai berorasi tapi miskin implementasi. Dari sekian produk legislasi yang dihasilkan banyak yang dipatahkan di meja hakim Mahkamah Konstitusi karena sebab bertentangan dengan maksud cita-cita republik ini dibentuk. Tidak sedikit dari prodak legislasi itu yang melegalkan ‘perselingkuhan’ politisi dan pengusaha untuk menguras habis aset negeri. Kepentingannya tidak untuk semua, tapi bagi dirinya dan orang-orang terdekatnya. Dan banyak lagi akrobat politisi yang tidak mencerminkan politik etik. Yang lainnya, silakan terka-terka sendiri.

Rabu, 03 September 2014

Tatkala Agama Dijadikan Rujukan Untuk Berpolemik

Dalam minggu terakhir di sosial media ramai membincang tentang tema Orientasi Study Cinta Akademik&Almamater (OSCAAR) Fakultas Ushuludin, UIN Sunan Ampel. Yang mendiskusikan lebih sedikit ketimbang yang mengecam. Dari situ kita dapat mengukur, bahwa di umur kemerdekaan yang sudah ke-69 tahun ini masyarakat kita, dari sisi pendidikan, memang masih perlu untuk ditingkatkan. Masyarakat kita masih belum stabil di tengah kondisi yang memungkinkan untuk tidak stabil. Pengetahuan dan pengalaman yang terbatas, membuatnya ber-mainstream keras, tersulut emosinya untuk bertindak dan berkomentar sarkas. Ibarat bangunan pasir, tertiup angin tingkat terendah saja sudah kalang kabut mau runtuh. Padahal agama sebagai panutan, tidak sekedar ajaran yang dirutinitaskan. Agama adalah seperangkat ajaran untuk menyelamatkan manusia dari tindak-tanduk yang tidak menentramkan. Bukanya agama hadir dalam rangka menghendaki kebaikan? Tatanan yang rukun, harmonis, toleran di tengah perbedaan adalah inti semua ajaran agama. Karena perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Jangan pernah berharap semua orang sama, dalam satu keluarga yang terlahir kembar pun, tetap tidak sama. Sidik jari dari masing-masing manusia tidak sama. Apalagi dalam soal memahami agama. Tuhan membusuk, barangkali menjadi kata lain dari bentuk penghormatan teman-teman mahasiswa Ushuludin atas Tuhan. Atau, ada maksud lain yang pengetahuan dan pemahaman kita tak mampu menjangkau kedalaman berfikir mereka. Bagi saya, selama tindakan mereka tidak merusak, terserah mau berfikir ‘liar’ seperti apa, yang penting jangan berhenti belajar. Berkata Tuhan jancuk pun tak masalah, karena kita juga memili versi tersendiri dalam menghayati dan menghormati Tuhan. Keberagaman juga bagian dari kehendak Tuhan. Ini juga bagian dari bentuk bahwa Tuhan itu maha segalanya.

Kamis, 17 Juli 2014

AWAS! BAHAYA LATEN TELEVISI

Sekitar tahun 1997, sejak Perusahaan Listrik Negara (PLN) masuk desa, sejak itulah televisi (TV) menjadi barang istimewa yang banyak digemari orang desa. Harga TV yang semakin terjangkau, menjadi salah satu penyebab menjamurnya barang "modern" ini di desa-desa.

TV menjadi simbol kekayaan, kemajuan, dan peradaban baru bagi orang desa. Di awal-awal TV masuk desa, di tengah yang memilikinya masih terbatas, orang desa berbondong-bondong datang ke rumah salah satu pemilik TV hanya untuk mau menonton TV. Menonton TV menjadi kegemaran baru yang banyak orang menggandrungi. Bahkan orangtua, melakukan pengarahan massal agar anaknya lebih memilih menonton TV ketimbang bermain di luar rumah seperti main layang-layang misalnya. Bermain di luar rumah dianggap lebih membahayakan dan membawa resiko ketimbang anaknya duduk manis dan tidur-tiduran sambil menonton TV. Semakin lama anak menonton TV, semakin merasa senang orangtua. Mainan tradisional banyak yang ditinggalkan, diganti dengan permainan baru, yaitu menonton TV.

Senin, 23 Juni 2014

"DI TIMUR MATAHARI" (Sebuah Film Inspiratif dari Tanah Papua)

Sebuah film, dengan aktor kawakan bernama Lukman Sardi sebagai pendeta, Laura Besuki sebagai Bu Dokter, Ririn Ekawati sebagai istri dari orang Indonesia Timur yang dinikahi di Jakarta, Ringgo Agus Rahman sebagai Bos penyedia lapangan pekerjaan, Michael Jakarimilena sebagai tokoh utama bernama Mazmur.

Film ini, sepintas, dilihat dari judulnya, adalah potret “kelam” saudara sebangsa yang berada di Indonesia bagian timur (Papua), yang masih didera kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Tidak sedikit dari mereka yang justru memanfaatkan kemiskinan dan kebodohan tersebut justru untuk terus memperpuruk kondisi Papua. Papua yang sejak sepuluh tahun yang lalu (2004) mendapatkan Otonomi Khusus (Otsus) dari kebijakan pemerintah pusat, sebagai buah dari kehendak masyarakat Indonesia secara kolektif untuk pemeretaan ekonomi yang dulu dimonopoli dan terpusat di jawa, ternyata sampai kini masih belum mampu mensejajarkan Pupua dengan daerah Indonesia lainnya. Pembangunan di Papua berjalan lambat, bahkan dapat dikatakan macet. Dana Otsus yang mengucur dari “dompet” APBN dengan jumlah yang tidak kecil hilang sia-sia karena lemahnya pengawasan dan praktik laten bernama korupsi. Pemerintah daerah (Papua) dan Pusat (Jakarta) malah “berselingkuh” untuk tidak sepenuhnya membangun Papua yang jelas sejak masa orde baru dianaktirikan.

Jumat, 20 Juni 2014

Melihat Fenomena Lokalisasi Dolly

Lokalisasi Dolly dalam belakangan terakhir menjadi perbincangan sekala nasional bahkan internasional. Hal tersebut karena sejak tahun 2010, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, telah melakukan upaya cerdas untuk menutup lokalisasi yang sudah berumur 40 tahun ini. Tepat pada Rabu, 18 Juni 2014, Wali Kota Surabaya, Tri Risma Harini, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, dan Menteri Sosial, Salim Segaf Al’Jufrie, melakukan penutupan secara simbolis di gedung Islamic Center Surabaya. Pemkot Surabaya pada tahun ini, telah mengalokasikan dana sebesar Rp 16 miliyar untuk mengalihfungsikan pusat prostitusi tersebut menjadi sentra industri rumahan, sentra pedagang kaki lima, perpustakaan, dan ruang computer. Pemerintah provinsi (Pemprov) memberikan bantuan Rp 1,5 miliyar untuk sekitar 113 mucikari. Dan Kementerian Sosial memberikan bantuan modal senilai Rp. 7,3 miliyar bagi sekitar 1.400 Pekerja Seks Komersial (PSK).

Jumat, 30 Mei 2014

MENGENALI MOJOPAHIT; NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA

Mendiskusikan ilmu pengetahuan memang tidak ada habisnya. Setelah kemaren (27 Rajab 1435 H) saya mengikuti Sarasehan Budaya yang diselenggarakan oleh komunitas pemerhati seni dan kebudayaan "Banawa Sekar; Perahu Bunga dan kebersamaan". Bertempat di Pondopo Agung, Trowulan Mojokerto. Ada tiga rangkaian acara yang terselenggara; Antraksi Pencak Silat "Putro Browijoyo" dari Jam 12:00-15:00 Wib, Serasehan Budaya oleh Agus Sunyoto dari Jam 18:00-20:00 Wib, dan Maiyah Nusantara bersama MH Ainun Nadjib, Novia Kolopaking, Sabrang yang tergabung dalam komunitas Sholawat KiaiKanjeng.

Selasa, 06 Mei 2014

SEKEDAR URUN-REMBUK UNTUK PMII (KADER RAYON SYARIAH) SUNAN AMPEL SURABAYA

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Sunan Ampel, adalah organisasi mahasiswa yang memiliki kuantitas kader terbanyak dari sekian organisasi ekstra kampus yang ada. Secara politik, di Sunan Ampel, PMII terbagi dalam dua nomenklatur; PMII Surabaya (S) dan PMII Surabaya Selatan (SS). Walaupun secara ideologi, organisasi ini haluannya tetap sama; Ahlus Sunnah wal-Jama'ah ala Nahdlatul Ulama' (NU). Keduanya tidak memiliki perbedaan yang mencolok, kecuali dalam konteks politik kampus. Bergandengan tangan ketika dalam urusan kaderisasi seperti Mapaba dan PKD, dan bersitegang ketika dalam urusan perebutan "kursi". Sejak saya masuk PMII, dinamika ini sudah terjadi. Walaupun pada tahun 2009 sempat ada upaya islah, melebur SS menjadi S, yang melebur hanya tetap dalam urusan ideologi, urusan politik, tetap memiliki "jago" sendiri-sendiri.

Sabtu, 03 Mei 2014

REFLEKSI DIRI

Hari ini umurku genap 25 tahun. Jika Tuhan menakar hidupku sampai umur 100 tahun, bararti aku telah melalui seperempat jalan hidup ini. Yang bisa kulakukan sekarang, merencakan masa depan dengan mengenali lebih dalam akan potensi diri melalui evaluasi total yang sebenarnya sudah biasa kulakukan pada hari-hari biasa di seperempat malam tiba. Di saat banyak orang memutuskan untuk terlelap. Evaluasi itu perlu, untuk mengukur apa yang sudah dicapai dan apa yang masih belum dicapai. Ternyata, dari sekian banyak rencana, tak semua berjalan sebagaimana rencana. Yang tak berjalan sesuai rencana itulah, kucoba pelajari, apa yang membuat rencana tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Senin, 28 April 2014

BERKAT YOGYAKARTA, INDONESIA TERSELAMATKAN DARI CENGKRAMAN PENJAJAH

Buku ini dihadirkan untuk mengenang jasa Sultan Hamengku Buwono IX (SHB IX) yang mendedikasikan hidupnya untuk rakyat Jogjakarta dan perannya dalam memerdekakan Indonesia dari genggaman penjajah Belanda, Inggris, dan Jepang. Juga, sebagai peringatan 100 tahun atas mangkat-nya menghadap sang maha pencipta. Buku yang terdiri dari 347 halaman ini terdiri dari empat bagian; pertama, tentang kipran dan warisan Sri Sultan. Kedua, Serangan Umum 1 Maret 1949, ketiga, Pemimpin, Kraton, dan Abdi Dalem. Dan empat, Kesan terhadap Sri Sultan HB IX. Buku ini ditulis oleh banyak tokoh yang kompeten. Mulai dari sejarawan sampai mantan ajudannya yang masih hidup.

Rabu, 16 April 2014

MENDAKI MASA DEPAN BANGSA MELALUI SISTEM DEMOKRASI

Semalam (15/4) Indonesia Lawyer Club tampil perdana setelah sekian lama libur menghormati para caleg dan partai politik yang berkampanye. Acara itu mengangkat tema "Kecurangan Pemilu, Bisakah DPR Bebas Korupsi?!." Acara ini dibuka oleh dalang fenomenal bernama Sujiwo Tedjo. Sesi diskusi Kemudian dimulai oleh Prof Dr. Rafly Harun. Beliau dengan lantang mengatakan, bahwa praktik money politik memang marak dilakukan oleh hampir semua politisi di Indonesia. Walaupun terkadang bahasanya berbeda. Praktik tidak terpuji tersebut didukung oleh masyarakat pemilih yang rata-rata perutnya sering lapar, dan karena trauma Orde Baru, mereka berasumsi bahwa politisi itu gudangnya duit dan memiliki tabiat bejad mengkorupsi uang negara yang dibayarkan oleh rakyat melalui pajak. Sampai di kampung-kampung, muncul adegium "Mumpung saat ini, saatnya rakyat mendapat bagian, karena bila jadi, mereka (para politikus) akan pergi tunggang langgang. Program yang diproyeksikan untuk rakyat, hanya sekedar sampai, karena dalam perjalananya serat penyunatan anggaran dari pejabat teratas sampai terendah. Program tersebut berbanding terbalik dari tujuan awalnya; memberdayakan dan menyejehterakan menjadi memperdaya dan mengajari menjarah harta negara." Ini menjadi fenomena umum di masyarakat. Sehingga tak pelak, bila pemilu tiba, masyarakat enggan bergerak ke TPS bila tidak ada duitnya.

Jumat, 11 April 2014

HANYA BERBAGI INSPIRASI

Hari ini (11/4), saya berkesempatan duduk bersama para penulis dan pembaca Koran Kompas dalam sebuah acara "Forum Pembaca Kompas;Audience Engagement" di Hotel Santika Premiere, Gubeng, Surabaya.

Acara ini diselenggarakan dalam rangka untuk mempererat emosionalitas pembaca, penulis, dan penerbit Kompas agar saling bertaut antara satu dan yang lain. Pesatnya perkembangan tekhnologi menjadi faktor utama Kompas untuk menyajikan kualitas bacaan dan layanan yang terbaik atas pembaca dan penulis setia Kompas. Tak hanya koran cetak yang terbit sejak 1920 ini, tapi koran digital ber-versi android telah juga turut hadir untuk memudahkan pelanggan setia Kompas.

Rabu, 09 April 2014

MONEY POLITIC

Hari ini (9/4) pemilu legislatif terselenggara secara serentak di seluruh Indonesia. Dari Aceh sampai Papua. Pemilu kali ke tiga dengan sistem pemilihan langsung ini terjadi sejak Indonesia mereformasi dari otoritarianis'm ke demokrasi. Sebab sistem yang otoriter, men-design sedemikian rupa agar masyarakat tetap dalam garis miskin, pendidikan yang secara substansial tidak mendidik, menjadi cikal-bakal utama money politik di negeri ini membudaya.

Money politik, dalam tiga kali pemilu yang melibatkan masyarakat secara langsung, telah menggeser model politik elit yang mengandalkan loby menjadi politik bagi-bagi. Dulu, untuk menjadi wakil rakyat, harus pintar meloby "pemilik" partai politik yang serat upeti. Masyarakat tak satu pun yang dilibatkan secara langsung. Sekarang, setelah masyarakat dilibatkan, upeti itu, selain kepada pemilik parpol, juga disiwir-siwir untuk masyarakat yang memiliki hak pilih.

Minggu, 06 April 2014

ADAPTASI SISWA KE MAHASISWA

Sore tadi (6/4), saya menyempatkan diri untuk hadir dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Sumenep (IKMAS) di Surabaya. Letaknya di halaman Masjid Ulul Albab, Kompleks UIN Sunan Ampel Surabaya. Di situ, saya bertemu dengan Bahauddin Amyasi, pemuda cerdas yang lebih dulu aktif di IKMAS. Selebihnya, mahasiswa yang aktif setelah saya.

Dalam diskusi tadi, pengurus mengangkat tema "Adaptasi Siswa ke Mahasiswa". Di situ, Cak Baha'--panggilan harian atas Bahauddin Amyasi--menjelaskan tentang pentingnya mengkonstruksi ulang atas mahasiswa kini yang mindset-nya masih berpola ala siswa. Hal ini sudah tentu, salah satunya, menjadi tanggung jawab pengurus IKMAS untuk melakukan trobosan atas teman-teman mahasiswa Sumenep yang pola berfikirnya tak ubahnya siswa.

TENTANG CALEG

Pada bulan Maret, saya berkesempatan bertemu langsung dengan salah satu calon legislatif daerah kabupaten/kota di Jawa Timur. Dia putra kiai. Nyaleg bukan karena ia pintar berjejaring, tapi karena ayahandanya yang kiai. Setiap poster, banner, panflet dan peraga pengenalan lainnya, hanya agar mudah dikenal, selalu ada nama bapaknya. Caleg ini merekrut pemuda sebagai tim kreatornya. Berfungsi ganda. Mulai dari design grafis, cetak panflet, banner, baleho, sampai konsolidasi pemuda di dapil di mana ia bertarung memperebutkan kursi legislatif dari sembilan kursi yang diperebutkan. Pesaingnya tidak sedikit. Baik sesama partai politik pengusung, maupun dengan calon dari partai politik lain. Selain pemuda, tim pengeraknya juga dari golongan tua yang fanatismenya terhadap kiai masih tinggi. Cukup dibekali rokok dan disuguhi kopi orang itu sudi bergerak sesuai instruksi. Setelah saya tanya, "Bapak itu dibayar berapa?" Jawab sang caleg, "Dia tidak dibayar, ia adalah salah satu tim relawan yang siap membantu dalam proses pemenangan saya". Saya tahu, karena selama empat hari membaur di basecamp pemenangan caleg tersebut. Relawan yang datang silih berganti tidak sedikit. 24 jam non stop basecamp itu terbuka lebar. Terlebih atas para tim relawan. Informasi yang dibawa, beragam! Dari sekian informasi itulah, sang caleg mengetahui perkembangan di lapangan. Bahkan, dengan perhitungan yang cermat, sang caleg tidak segan-segan menindaklanjuti informasi yang diketahui dengan melahirkan instruksi kepada sang pembawa informasi. Berbekal rokok dan suguhan kopi hangat, sang relawan kembali siap untuk beranjak melaksanakan instruksi sang caleg.

Kamis, 20 Maret 2014

JEMBER DALAM NARASI DESKRIPSI

Kemaren, Rabu (19/3) hari pertama saya di Jember. Tepatnya di Kecamatan Tanggul, Desa Patemon, Dusun Pemandian. Saya bertemu dengan beberapa orang yang bagus berpitutur tentang Jember. Dengan tiga bahasa yang diaur. Madura, Jawa, dan Indonesia.

Orang pertama dan yang ke dua, dengan semangatnya yang menyala-nyala, menjelaskan tentang dinamika politik Jember. Tepatnya hiruk-pikuk suasana menjelang pileg maupun pilpres. Jurus para calon legislatif dalam "memasarkan" dirinya untuk "dibeli" oleh masyarakat pada pileg nanti menarik saya haturkan di sini. Dengan gaji pokok yang hanya 15 juta dalam sebulan ketika misal nanti terpilih sebagai legislatif, berbanding terbalik dengan modal politik yang dikeluarkan. Berdasarkan penjelasan orang yang saya temui ini, bahkan ada caleg yang sampai mengolontorkan dana sampai 2 miliyar hanya untuk mendapatkan kursi DPRD di kabupaten. Belum lagi nomor urut partai yang lumrah "diperjual-belikan" oleh partai. Semakin rendah nomor urut caleg, semakin mahal!. Wuih, ini tergolong besar untuk tingkat kabupaten, karena setelah saya coba hitung, gaji yang akan didapat selama menjabat, cuma Rp. 900 juta. Jadi bisa dipastikan, caleg yang bermodal besar, ketika misal nanti terpilih, tidak menutup kemungkinan untuk bertindak agar modal politik yang telah dikeluarkannya dapat kembali. Bila perlu, melebihinya.

Minggu, 16 Maret 2014

SECARIK ILMU DARI SEORANG PEMANDU WISATA

Saat ini (18/3) saya sedang melakukan perjalanan ke Kota Jember. Menggunakan jasa transportasi Kereta Api (KA) kelas Ekonomi melalui Stasiun Gubeng Surabaya. Di dalam KA, saya bertemu dengan Bapak Vian, nama Jawa-nya Hariyoto. Beliau pemandu wisata asal Bantul, Jogja. Bapak dua anak ini sedang membawa wisatawan asal Malaysia yang berjumlah 11 orang ke tempat wisata Gunung Bromo di Probolinggo setelah dari tempat wisata Gunung Dieng di Banjarnegara Purbalingga. Bahasa Inggrisnya bagus, bahasa China bisa, dan ilmu pengetahuannya bagus, terlebih di bidang sejarah. Karena pintar, awalnya saya mengira bapak ini dosen, tapi ternyata bukan. Setelah saya tanya, "kenapa bapak pintar?", jawabnya, "saya belajar!, belajar itu tidak harus menjadi siswa atau mahasiswa, belajar itu boleh dilakukan di mana saja dan kapan saja, atas hal apa pun dan siapa pun". Kemudian, saya bertanya lagi, "Bapak tamatan sekolah apa?", "Saya tidak tamat SD".

Selasa, 11 Februari 2014

MENGGALI KEMBALI KEJAYAAN BANGSA MADURA YANG DIKUBUR

Saat ini, di Madura tengah memasuki musim panen jagung. Jagung adalah makanan khas dan makanan pokok masyarakat Madura dari generasi ke generasi. Jagung, kemudian diselip menjadi beras jagung, baru kemudian dimasak menjadi nasi jagung. Nasi ini disajikan dengan sayuran khas bernama "khengan marongki"/daun kelor. Makan jagung, akibat program nasionalisasi beras oleh pemerintah Orde Baru, sempat menjadi makanan yang disandangkan atas orang miskin. Masyakarat dibentuk untuk tidak makan jagung, karena makan jagung hanya bagi mereka yang miskin atau tidak mampu beli beras. Mindset membentuk generasi sebelum saya dan masa saya, alias, program nasionalisasi beras terjadi pada masa di senja usia kakek nenek saya. Keberhasilan pemerintah dalam membentuk mindset masyarakat terlihat ketika, generasi seumuran bapak ibu saya enggan mewarisi cara menanam (jagung) yang baik. Tidak cukup dengan nasionalisasi beras, pemerintah mengalakkan program pemupukan tanaman anorganik, alias menggunakan pupuk kimia yang disediakan pasar. Produktifitas masyarakat dalam membuat pupuk organik sebagai warisan nenek moyang "dipasung" oleh pemerintah. Warga terhipnotis dengan tanaman hasil pemupukan anorganik yang hijau daunnya, besar buahnya, dan usianya relatif singkat. Walaupun akhirnya, warga masyarakat harus membayar mahal, hasil tanaman dari pemupukan anorganik mudah terserang hama dan tidak bertahan lama. Akhirnya, masyarakat tertuntut untuk segera menjual hasil pertaniannya. goal-nya, masyarakat dalam kesehariannya tertuntut untuk tetap mengkonsumsi beras yang disediakan oleh pasar.

Selasa, 14 Januari 2014

NAPAK TILAS KE MAKAM PROKLAMATOR INDONESIA

Hari ini (Sabtu, 11 Januari 2013) saya menghabiskan waktu untuk menapaktilasi Makam Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia -Bung Karno- di Blitar Jawa Timur. Berangkat dari Stasiun Kereta Api Wonokromo Surabaya pada jam 04:36 Wib dengan nama Kereta "Penataran Dhoho", kemudian sampai di Stasiun Kota Blitar pada jam 09:36 Wib. Kami bertiga. Awalnya berempat, cuma karena satu sahabat datangnya telat ke Stasiun, dengan berat hati, terpaksa kami tinggal. Kira-kira 2 menit sejak kereta berangkat, teman kami yang ditinggal sudah merapat di Stasiun Wonokromo. Sahabat tersebut adalah; M. Misbachul Mustafa (Alumni Fak Syariah yang pulang mengabdi di desanya), Rusmadi (Staf percetakan ternama di Surabaya) dan sahabat kami yang ketinggalan Kereta, Sahabat Busthomi Romy (teman satu kampung dengan saya yang saat ini bekerja sebagai Staf Kebersihan di Griyal Al-Quran Surabaya)

Minggu, 05 Januari 2014

PENJARA ISTIMEWA

MataNajwa, pada Rabu, 25 Desember 2013, menayangkan ulang agenda sidaknya bersama Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana, ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang di Jatinegara, Jakarta Timur, dan ke Lapas Sukamiskin di Bandung. Agenda sidak ini dilakukan, salah satunya karena "sentilan" Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad, yang mengatakan, bahwa tidak sedikit penghuni Lapas yang suka "jalan-jalan" ke luar Lapas. Akhirnya, karena tersentil, Denny- panggilan khas Denny Indrayana-, dengan rekomendasi Menteri Hukum dan HAM, Amir Syamsudin, melaksanakan sidak dengan mengandeng Najwa Shihab, tuan rumah MataNajwa. Sidak ini kemudian tayang pada Rabu, 22 Mei 2013, kemudian ditayangkan kembali pada 25 Desember 2013, dalam acara MataNajwa di stasiun Tv Swasta, MetroTv, jam 21:30 PM. Mengangkat tema, "Penjara Istimewa". Lapas Cipinang dan Sukamiskin memang khusus untuk para koruptor, baik statusnya masih sebagai tersangka, terdakwa, atau para pengemplang uang rakyat yang sudah mendapatkan vonis.
Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP