Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Kamis, 20 Maret 2014

JEMBER DALAM NARASI DESKRIPSI

Kemaren, Rabu (19/3) hari pertama saya di Jember. Tepatnya di Kecamatan Tanggul, Desa Patemon, Dusun Pemandian. Saya bertemu dengan beberapa orang yang bagus berpitutur tentang Jember. Dengan tiga bahasa yang diaur. Madura, Jawa, dan Indonesia.

Orang pertama dan yang ke dua, dengan semangatnya yang menyala-nyala, menjelaskan tentang dinamika politik Jember. Tepatnya hiruk-pikuk suasana menjelang pileg maupun pilpres. Jurus para calon legislatif dalam "memasarkan" dirinya untuk "dibeli" oleh masyarakat pada pileg nanti menarik saya haturkan di sini. Dengan gaji pokok yang hanya 15 juta dalam sebulan ketika misal nanti terpilih sebagai legislatif, berbanding terbalik dengan modal politik yang dikeluarkan. Berdasarkan penjelasan orang yang saya temui ini, bahkan ada caleg yang sampai mengolontorkan dana sampai 2 miliyar hanya untuk mendapatkan kursi DPRD di kabupaten. Belum lagi nomor urut partai yang lumrah "diperjual-belikan" oleh partai. Semakin rendah nomor urut caleg, semakin mahal!. Wuih, ini tergolong besar untuk tingkat kabupaten, karena setelah saya coba hitung, gaji yang akan didapat selama menjabat, cuma Rp. 900 juta. Jadi bisa dipastikan, caleg yang bermodal besar, ketika misal nanti terpilih, tidak menutup kemungkinan untuk bertindak agar modal politik yang telah dikeluarkannya dapat kembali. Bila perlu, melebihinya.

Minggu, 16 Maret 2014

SECARIK ILMU DARI SEORANG PEMANDU WISATA

Saat ini (18/3) saya sedang melakukan perjalanan ke Kota Jember. Menggunakan jasa transportasi Kereta Api (KA) kelas Ekonomi melalui Stasiun Gubeng Surabaya. Di dalam KA, saya bertemu dengan Bapak Vian, nama Jawa-nya Hariyoto. Beliau pemandu wisata asal Bantul, Jogja. Bapak dua anak ini sedang membawa wisatawan asal Malaysia yang berjumlah 11 orang ke tempat wisata Gunung Bromo di Probolinggo setelah dari tempat wisata Gunung Dieng di Banjarnegara Purbalingga. Bahasa Inggrisnya bagus, bahasa China bisa, dan ilmu pengetahuannya bagus, terlebih di bidang sejarah. Karena pintar, awalnya saya mengira bapak ini dosen, tapi ternyata bukan. Setelah saya tanya, "kenapa bapak pintar?", jawabnya, "saya belajar!, belajar itu tidak harus menjadi siswa atau mahasiswa, belajar itu boleh dilakukan di mana saja dan kapan saja, atas hal apa pun dan siapa pun". Kemudian, saya bertanya lagi, "Bapak tamatan sekolah apa?", "Saya tidak tamat SD".
Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP