Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Kamis, 19 November 2015

Islam Nusantara

Islam Nusantara mengemuka sesaat setalah Nahdlatul Ulama’ (NU) menjadikannya sebagai tema Muktamar yang ke-33 di Jombang Agustus lalu. NU menjadikannya sebagai tema hanya untuk kembali ingin mempertegas bahwa NU adalah organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia yang hadir sebagai perawat tradisi dengan slogan: almuhafadatu alaa qodimis sholih, wal akhdu biljadidil ashlah; Merawat tradisi yang baik dan membuat-menemukan tradisi/peradaban baru yang lebih baik. Juga, untuk memperteguh bahwa Islam itu adalah agama yang hidup “likulli zaman wa makan; setiap masa dan tempat”.

Jumat, 30 Oktober 2015

Hari Santri; Antara Esensi Dan Sensasi*

Presiden Jokowi telah mengeluarkan Keputusan Presiden (Kepres), tertanggal 15 Oktober 2015, terkait penetapan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2015.

Hari Santri Nasional, jelas disuarakan oleh organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama’ (NU). Ormas terbesar pertama ini menghendaki penetapan Hari Santri agar negara mau mengakui peran santri dalam memperjuangkan kemerdekaan di republik. Penetapan Hari Santri, 22 Oktober, mengacu kepada waktu saat digelorakannya Resolusi Jihad oleh KH. Hasyim Asyari (1875-1947) pada 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad ini kemudian yang dianggap menjadi cikal-bakal lahirnya gerakan melawan Belanda yang ingin kembali menjajah melalui tentara Nederlandsch IndiĆ« Civil Administratie (NICA) pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya dengan komando kondangnya bernama Sutomo—Bung Tomo, (1920-1981). 10 November ini kemudian kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Kamis, 22 Oktober 2015

Membangun Sumenep

Membicarakan pembangunan, tidak sedikit yang memahami bahwa membangun itu adalah pembangunan fisik. Dalam hal ini, infrastruktur. Tidak banyak yang memahami, bahwa membangun, mestinya juga suprastruktur; soft skill, kualitas manusia, dan program penempaan atas manusia lainnya supaya produktif, mandiri, dan mampu menemukan solusi atas problematika hidup yang dinamis.

Minggu, 06 September 2015

Rektor UIN Sunan Ampel, Bijaklah!


Saya kaget, mendengar rencana Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. Abd. A’la, MA, menyangkut kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru di tahun yang akan datang. Beliau, sebagaimana diberitakan Berita Metro[1], akan mengambil alih kegiatan orientasi mahasiswa baru yang awalnya dikelola organisasi intra kampus di bawah garis komando Dewan Mahasiswa (DEMA) universitas dan fakultas ke universitas-rektorat. Alasannya, karena mahasiswa yang mempanitiai kegiatan ini dianggap melanggar aturan yang dibuat oleh universitas ataupun rektorat.

Rencana ini juga disangkutkan dengan salah satu tema orientasi di Fakultas Ushuludin tahun lalu yang sempat memantik kontroversi: Tuhan Membusuk, yang kala itu saya pun memiliki tanggapan tertulisnya[2]. Juga, rencana ini ditautkan atas pingsannya mahasiswa baru saat mengikuti kegiatan orientasi.

Kamis, 27 Agustus 2015

Fauzi Baim, Pemuda Inspiratif Asal Jawa Timur

Alhamdulillah, kami, atasnama Indonesia Belajar Institut (IBI), kemaren (25/8) dapat bersilaturrahim dengan pemuda inspiratif bernama Fauzi Baim di kediamannya, Ds. Sukorejo Rt/Rw: 09/03 Buduran Sidoarjo.

Pemuda jebolan salah satu pondok pesantren di Banyuwangi ini menginisiasi gerakan membaca di kampungnya sambil berjualan jamu khas Indonesia. Ia menekuni profesinya sudah sejak tahun 2011. Ia mendirikan perpustakaan umum di rumahnya yang welcome kepada siapa pun yang berkenan datang mengeja aksara. Termasuk juga bila mau sharing seputar agenda “bagi-bagi manfaat”, baik yang telah diselenggarakan, di-planing, maupun yang ditawarkan oleh mereka yang berkenan datang tersebut.

Orang Amerika Balajar Islam Indonesia

Sudah kali ke sekian Indonesia Belajar Institut (IBI) kadatangan tamu orang asing. Nimbrung dalam kegiatan diskusi. Semalam (21/8), di Angkringan 57 Wonocolo Surabaya, 7 orang warga Negara Amerika Serikat belajar Islam di Indonesia. Empat di antaranya masih sebagai mahasiswa, selebihnya professional di bidangnya masing-masing. Datang ke Indonesia dalam rangka belajar. Selain mengagumi alam Indonesia, juga mengagumi relasi sosial masyarakatnya  yang dari sisi etnik, budaya, ras, suku, dan agama berlainan.

Masih Soal Hizbut Tahrir

Saya tertarik mengenali Hizbut Tahrir (HT) lebih dalam sejak Ary Naufal (Ketua Gerakan Mahasiswa Pembebasan Jawa Timur) dihadirkan di forum diskusi Indonesia Belajar Institut (IBI) bartajuk “Refleksi Orientasi Kampus; Antara Humanisasi dan Dehumanisasi”. Di situ, pembicara lain, Muhammad Shofa (Kordinator Bibliopolis Book Review Surabaya), terlontar kata “NKRI Harga Mati”, kata-kata ini kemudian memanjang sampai saya dan Muhammad Shofa diundang dalam diskusi terbuka yang diselenggarakan di Universitas Airlangga (Unair) oleh Gema Pembebasan HTI Jawa Timur.

Saat itu, saya hadir sendiri, Muhammad Shofa berhalangan hadir. Kata yang dikontroversikan oleh HTI, yang mempertanggungjawabkannya justru saya seorang. Karena secara prinsip, walaupun secara verbal bukan saya yang melontarkan “NKRI Harga Mati”, saya sepakat dengan slogan ini.

Jumat, 21 Agustus 2015

Mempertanyakan Khilafah Arrasyidah-nya Hizbut Tahrir[1]

(Sebuah Pengantar)
Oleh: Marlaf Sucipto[2]
Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan. Mengingat, Hizbut Tahrir (HT), suatu hal yang baru saya ketahui, masih belum saya fahami. Selebaran bulletin al-Islam pun, yang disebar saat datang hari Jumat di masjid-masjid sewaktu melaksanakan ibadah Sholat Jumat, hanya seputar berisi kritik atas republik, baik dalam hal ekonomi, politik, dan kedaulatan. Solusi dari problematika itu, ialah tegaknya Khilafah Rasyidah. Saya, selaku pembaca umum, bingung, apa itu Khilafah Rasyidah, karena setiap bulletin al-Islam yang saya baca, belum pernah menjumpai ulasan secara mendalam tentang Khilafah Rasyidah.

Kamis, 20 Agustus 2015

Refleksi Orientasi Siswa-Mahasiswa; Antara Humanisasi dan Dehumanisasi[1]

Oleh: Marlaf Sucipto[2]
Kata “refleksi” sengaja saya pakai supaya kita melakukan permenungan yang cukup atas kegiatan orientasi siswa dan mahasiswa yang kini banyak orang membincang bahwa kegiatan ini telah mengalami disorientasi.
Orientasi, yang fungsi sederhananya dalam rangka agar siswa dan mahasiswa mengenali kesejatian dirinya sebagai insan pembelajar yang terdidik, kini mengalami disorientasi. Kegiatan orientasi justru malah berisi tindakan yang tidak memanusiakan manusia, menginjak-injak harkat dan martabat sebagai manusia, dan serentetan tindakan pembodohan lain yang nalar pun sulit menjangkaunya. Rentetan kegiatan orientasi berbasis pembodohan ini semakin sempurna saat penyelenggara kegiatan tak mampu merasionil rentetan demi rentetan dan menutup diri untuk mendiskusikan secara professional terbuka.

Kamis, 02 Juli 2015

Sisi Lain Soekarno; Sang Penakluk Wanita

Kemaren (1/07), Bibliopolis Book Review di bawah asuhan Bung Muhammad Shofa Assadili lagi membedah buku berjudul "Bunga-Bunga di Taman Hati Soekarno" karya Haris Priyatna.

Buku ini menarik. Karena menarik, dari sekian agenda Bibliopolis yang terselenggara, baru kali ini saya meluangkan waktu untuk merefleksikan dalam bentuk tulisan. Setidaknya oleh diri saya sendiri.

Buku ini menjelaskan sisi lain dari sosok Soekarno sebagai salah satu founding fathers kita di Republik Indonesia; Romantisme Seokarno dengan istrinya yang berjumlah sembilan orang itu.

RA Eka Zilvi sebagai pembedah, apik mengurai romantisisme tokoh berjuluk "Putra Sang Fajar" ini. Mulai sejak Soekarno menjadikan Siti Utari-Putri Hos Cokro Aminoto yang bertempat tinggal di Jl. Paneleh Surabaya kala itu, sebagai istri sampai perempuan yang bernama Heldi Ja'far.

Minggu, 28 Juni 2015

Agama Zoroaster

(Sebuah tanggapan atas tulisan Bung Marlaf tentang “Agama Kapitayan”)

Oleh: Libasut Taqwa*

Salam Bung Marlaf, terimakasih telah mengirimkan saya bahan bacaan yang sama sekali baru, setidaknya bagi mereka yang awam akan studi perbandingan agama. Membaca tulisan ini, saya tergugah, sekaligus merasa tertarik untuk membalas –dalam batas-batas tertentu- dengan disiplin yang saya tekuni. Saya paham, bahwa Sejarah umat manusia memang tak bisa dinafikan dengan kebutuhan spiritual akan Tuhan, Mungkin itu juga yang direfleksikan Karen Amstrong dalam salah satu masterpiece-nya the History of God, atau dalam terjemahan, kurang lebih berarti sejarah Tuhan. Oleh karenanya, -dari tulisan agama kapitayan ini- saya memang yakin, bahwa Tuhan telah memberikan sinyal penyembahan diri-Nya jauh sebelum manusia mengenal makna ketuhanan itu sendiri. 

Agama Kapitayan

#nyantri 1

Jauh sebelum Islam datang (570 M), orang-orang di Nusantara sudah mewarisi agama Kapitayan. Agama yang memuja Sanghyang Taya; bermakna kosong atau hampa, atau suwung, atau awung-awung. Suatu yang absolut, yang tidak bisa dijangkau oleh akal dan indra, tidak bisa dibayang-bayangkan seperti apa, tapi kehadirannya dapat dirasa. Orang Jawa mendefinisikan Sanghyang Taya dalam satu kalimat ”tan kena kinaya ngapa”; Keberadaannya tidak bisa diapa-apakan. Untuk itu, untuk bisa disembah, Sanghyang Taya mempribadi dalam nama dan sifat yang disebut Tu dan To, bermakna daya gaib yang bersifat adikodrati. Tu dan To tunggal dalam Dzat. Satu pribadi. Tu lazim disebut dengan nama Sanghyang Tunggal, memiliki dua sifat; kebaikan dan kejahatan. Tu yang bersifat kebaikan disebut Tu-han; Sanghyang Wenang, sedangkan  Tu yang bersifat keburukan disebut Han-Tu; Sang Manikmaya. Tu-han dan Han-Tu adalah sifat dari Sanghyang Tunggal.

Karena Sanghyang Tunggal dengan dua sifat itu bersifat gaib, maka untuk memujanya dibutuhkan sarana yang bisa dijangkau oleh pancaindra dan alam pikir manusia. Di dalam agama Kapitayan, segala yang goib itu hanya bisa dijangkau melalui benda yang memiliki nama berkait dengan kata Tu atau To. Seperti wa-Tu, Tu-gu, Tu-ngkub, Tu-lang, Tu-nda, Tu-nggul, Tu­-k; mata air, Tu-tuk; lubang gua, mulut, Tu-ban; air terjun, Tu-mbak, Tu-nggak, Tu-lup, Tu-rumbukan; pohong bringin, un-Tu, Tu-mbuhan, pin-Tu, Tu-tud, To-peng, To-san, To-pong, To-parem, To-wok, dan To-ya.

Senin, 01 Juni 2015

DARI INTELEKTUAL ORGANIK SAMPAI KEMANDIRIAN ORGANISASI

Pada Kamis (28/5) lalu, saya diminta untuk menyampaikan "orasi ilmiah" dalam pelantikan PMII Rayon Syariah Komisariat Sunan Ampel, masa gerak 2015-2016. Acara yang terselenggara di sebelah timur Gedung C Fakultas Syariah & Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya ini diawali dengan khotmil quran.

Bersama Muhammad Burhan (Ketua Terpilih)
Hadir juga dalam acara ini, yang secara resmi diundang, para aktivis pergerakan mulai dari tingkat cabang, komisariat, dan rayon-rayon di lingkungan kampus UIN Sunan Ampel. Cuma, saat saya amati, tidak saya temui aktivis lain seperti HMI, GMNI, IMM, dan IPNU yang turut diundang dalam pelantikan ini. Tak bisa dipungkiri, organisasi-organisasi itu niscaya adanya di lingkungan UIN Sunan Ampel. Terbukti dari perhelatan konstalasi dialektika dalam bentuk diskusi maupun politik di antara mahasiswa itu sendiri. Saya tidak melihat, setidaknya dari aksesori yang dikenakan oleh masing-masing hadirin undangan. Semua yang hadir, rata-rata mengenakan aksesoris sebagaimana yang saya kenakan; jaz PMII berikut simbol-simbolnya.

Mestinya, organisasi-organisasi lintas bendera ini niscaya ada. Karena eksistensi PMII karena adanya organisasi yang lain. Juga, sebagai sarana ukhwah sesama "kendaraan" beda nama dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Senin, 04 Mei 2015

Memasuki Umur yang ke-27

Hari ini, Senin, 4 Mei 2015 adalah hari pertama saya memasuki umur yang ke-27. Saya telah melalui waktu selama 26 tahun berlangsung sejak saya dilahirkan pada 4 Mei 1989 silam.

Hanya syukur yang patut saya haturkan kepada Tuhan atas segala kejadian hidup yang telah saya lalui. Karena segala apapun itu, baik manis, pahit, getir dan segala rasa hidup lainnya, adalah nikmat yang mengajarkan saya tentang arti hidup dan bagaimana hidup.


Sabtu, 18 April 2015

PMII di Umur yang ke-55 Masih Berjalan Tak Ubahanya Partai Politik

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kini tengah memasuki umur yang ke-55. Umur yang tak lagi muda jika diukur dengan umur manusia yang rata-rata hidup sampai umur 70-80 tahun. Peringatan hari lahir atas organisasi yang secara kultur dan ideologi memiliki ketersambungan dengan Nahdlatul Ulama’ (NU) ini untuk tahun ini diselenggarakan di Surabaya. kota di mana PMII lahir dan dideklarasikan.

Kamis, 16 April 2015

Sebuah Diskusi Dengan Mantan Anggota DPRD

Hari kemaren (14/4) saya berkesempatan berdiskusi dengan salah seorang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kab. Sumenep periode 2009-2014. Maksud utama saya menemuinya, dalam rangka untuk mengetahui Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah Sumenep selama dalam lima tahun berlangsung (2009-2014). RPJM-D inilah yang memuat program agenda jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang sebuah daerah di kabupaten, kota, maupun provinsi. Masing-masing daerah, kota, maupun provinsi memiliki RPJM-D-nya sendiri-sendiri. Sesuai program yang telah dicanangkan oleh masing-masing kepala eksekutif (Bupati, Walikota, dan Gubernur) pemenang pemilu yang telah berlangsung.

Rabu, 01 April 2015

Memotret Keterlibatan Kiai Dalam Politik Praktis di Madura

Madura adalah suku bangsa yang memposisikan kiai sebagai panutan hidup sebagaimana nabi, karena kiai menempati posisi sebagai penerus para nabi. Kiai diposisikan sebagai patron hidup, lebih dari sekedar pemimpin formal sekelas bupati. Nilai-nilai kebaikan dan kepatutan di Madura, standarisasinya mengacu kepada yang diekspresikan kiai. Menjadi menarik saat kiai terjun dalam politik praktis. Baik berposisi sebagai juru kampanye sebagaimana pernah terjadi saat Orde Baru maupun terjun langsung sebagai politisi sebagaimana kini. Kepemimpinan eksekutif di Madura kini, tiga di antaranya kiai. Hanya Bupati Pamekasan; Achmad Syafii, yang tidak bergelar kiai. Tapi prosesnya saat mau menjadi Bupati, di-back up penuh  oleh barisan para kiai. Utamanya dari Pondok Pesantren Banyuanyar yang kesohor itu. Bupati Bangkalan; Makmun ibn Fuad yang tak lain adalah putra dari Fuad Amin Imron adalah kiai yang memiliki ketersambungan darah dengan Kiai Muhammad Kholil (1820-1925) yang sampai kini maqbaroh-nya diziarahi banyak orang karena diposisikan sebagai panutan umat. Bupati Sampang; Fannan Hasib, dan Bupati Sumenep; A. Busro Kariem semuanya bergelar kiai. Tapi saat para kiai ini menjadi Bupati, bukan prestasi yang dituai, malah sebagian dari mereka terindikasi melakukan tindak pidana korupsi. Mantan Bupati Bangkalan; Fuad Amin Imron, kini telah menjadi pesakitan di ruang tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena dugaan tindak pidana korupsi. Kini sidang pembuktiannya di lembaga peradilan lagi sedang berlangsung.

Senin, 16 Maret 2015

Supersemar; Kudeta terselubung atas penumbangan Soekarno sebagai Presiden

Indonesia Belajar Institute (IBI) pada Jumat, 13 Maret 2015, mendiskusikan tentang motif politik dibalik munculnya Surat Perintah Sebelas Maret—Supersemar. Supersemar yang lahir pada 1966 tersebut patut dicurigai sebagai kudeta terselubung untuk menumbangkan Soekarno sebagai presiden. Mengapa Soekarno harus ditumbangkan? Karena Soekarno memiliki keterhubungan yang kuat dengan orang dan ideologi komunis. Yang mana, setahun sebelumnya, 1965, orang-orang yang di-cap komunis dibasmi dari republik karena dituduh sebagai penyakit. Versi Asvi Warman Adam—sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hampir lima juta rakyat Indonesia dieksekusi mati tanpa melalui proses pengadilan. Terkait hal ini, Joshua Oppenheimer (40), warga negara Amerika yang tinggal di Denmark menampilkan film dokumenter: “The Act Of Killing; Jagal, dan “The Look of Silent; Senyap”

Jumat, 06 Maret 2015

Melawan Lupa

Dua tahun lalu, tepatnya pada 6 Maret 2013, adalah moment paling berkesan sepanjang perjalanan hidup saya. Menjadi memoar penting –setidaknya atas saya sendiri— tatkala kejadian itu menjadi cikal bakal mendekamnya sebagian teman sesama aktivis kampus dibalik tahanan pegap tak berpendingin selama 15 minggu. Memang pemenjaraan itu adalah konsekuensi logis akibat tindakan bersama yang terlarang; anarkhis. Menjadi tidak logis tatkala sebab dari mengapa tindakan terlarang itu terjadi sampai kini belum terungkap secara resmi. Hanya ada silang opini yang kebenaranya tak dapat dipertanggungjawabkan.

Senin, 09 Februari 2015

Menyoal Parkir Berlangganan Kab. Sumenep

Saat saya melakukan pembayaran pajak kendaraan bermotor ke Kantor Samsat Kab. Sumenep, secara otomatis—tanpa melalui konfirmasi terlebih dahulu, di loket pembayaran, saya langsung dikenai pembayaran parkir berlangganan selama setahun sebesar 15 ribu rupiah. Dengan penarikan uang sebesar 15.500 rupiah, digabung dengan tanggungan pajak kendaraan bermotor -PKB&SWDKLLAJ- yang harus dibayarkan sebesar 186.500 rupiah. Ditambah harga map hijau yang dijual di bagian informasi tepat depan pintu kantor Samsat seharga 1.000 rupiah. Jadi, saat ditotal berjumlah 203.000 rupiah.

Jumat, 23 Januari 2015

Mathur dan Setengahhatinya Negara dalam Memberantas Korupsi

Mathur Husairi (47), aktifis antikorupsi Center Islam for Demcration (CIDe) Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur pada Selasa (20/1) dini hari ditembak orang tak dikenal tepat di depan rumahnya. Jl. Teuke Umar III/54 Kelurahan Kemayoran Bangkalan.

Mathur malang melintang sebagai aktifis yang peduli atas rakyat sudah sejak ia sebagai mahasiswa di Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya saat kampus tersebut masih berstatus Institut Agama Islam Negeri (IAIN)—1992. Menurut pengakuan paman Mathur—Syakur, saat penulis menemuinya di Rumah Sakit dr. Soetomo (21/1), Mathur termasuk korban ke-5 dari sekian penganiayaan atas para aktifis yang menyuarakan tentang korupsi di Bangkalan.

Kamis, 22 Januari 2015

Tuntaskan Kasus Dugaan Penyalahgunaan Wewenang (Refleksi Atas Polemik yang Terus Bergulir)


Pada tahun 2013 saya telah mendengar dugaan penyelahgunaan bantuan di lembaga pendidikan Sya’airun Najah. Baik yang beredar di masyarakat maupun dari dua orang guru yang sedang menempuh study di Surabaya atas nama lembaga tersebut. Dua orang guru tersebut adalah Musahwi—guru Madrasah Ibtidaiyah (MI), dan H. Suda’e—guru Madrasah Tsanawiyah (MTS). Secara tak langsung melalui telfon saya juga bertanya kepada Junaidi, Wawan Handoko, dan H. Idris terkait hal yang beredar di masyarakat dan yang diutarakan dua guru tersebut. Junaidi dan Wawan adalah teman seangkatan saya yang ngabdi di lembaga tersebut sebagai guru MI, sedangkan H. Idris adalah guru Bahasa Arab sewaktu saya sebagai siswa MTS, sampai sekarang.

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP