Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Kamis, 02 Juli 2015

Sisi Lain Soekarno; Sang Penakluk Wanita

Kemaren (1/07), Bibliopolis Book Review di bawah asuhan Bung Muhammad Shofa Assadili lagi membedah buku berjudul "Bunga-Bunga di Taman Hati Soekarno" karya Haris Priyatna.

Buku ini menarik. Karena menarik, dari sekian agenda Bibliopolis yang terselenggara, baru kali ini saya meluangkan waktu untuk merefleksikan dalam bentuk tulisan. Setidaknya oleh diri saya sendiri.

Buku ini menjelaskan sisi lain dari sosok Soekarno sebagai salah satu founding fathers kita di Republik Indonesia; Romantisme Seokarno dengan istrinya yang berjumlah sembilan orang itu.

RA Eka Zilvi sebagai pembedah, apik mengurai romantisisme tokoh berjuluk "Putra Sang Fajar" ini. Mulai sejak Soekarno menjadikan Siti Utari-Putri Hos Cokro Aminoto yang bertempat tinggal di Jl. Paneleh Surabaya kala itu, sebagai istri sampai perempuan yang bernama Heldi Ja'far.

Minggu, 28 Juni 2015

Agama Zoroaster

(Sebuah tanggapan atas tulisan Bung Marlaf tentang “Agama Kapitayan”)

Oleh: Libasut Taqwa*

Salam Bung Marlaf, terimakasih telah mengirimkan saya bahan bacaan yang sama sekali baru, setidaknya bagi mereka yang awam akan studi perbandingan agama. Membaca tulisan ini, saya tergugah, sekaligus merasa tertarik untuk membalas –dalam batas-batas tertentu- dengan disiplin yang saya tekuni. Saya paham, bahwa Sejarah umat manusia memang tak bisa dinafikan dengan kebutuhan spiritual akan Tuhan, Mungkin itu juga yang direfleksikan Karen Amstrong dalam salah satu masterpiece-nya the History of God, atau dalam terjemahan, kurang lebih berarti sejarah Tuhan. Oleh karenanya, -dari tulisan agama kapitayan ini- saya memang yakin, bahwa Tuhan telah memberikan sinyal penyembahan diri-Nya jauh sebelum manusia mengenal makna ketuhanan itu sendiri. 

Agama Kapitayan

#nyantri 1

Jauh sebelum Islam datang (570 M), orang-orang di Nusantara sudah mewarisi agama Kapitayan. Agama yang memuja Sanghyang Taya; bermakna kosong atau hampa, atau suwung, atau awung-awung. Suatu yang absolut, yang tidak bisa dijangkau oleh akal dan indra, tidak bisa dibayang-bayangkan seperti apa, tapi kehadirannya dapat dirasa. Orang Jawa mendefinisikan Sanghyang Taya dalam satu kalimat ”tan kena kinaya ngapa”; Keberadaannya tidak bisa diapa-apakan. Untuk itu, untuk bisa disembah, Sanghyang Taya mempribadi dalam nama dan sifat yang disebut Tu dan To, bermakna daya gaib yang bersifat adikodrati. Tu dan To tunggal dalam Dzat. Satu pribadi. Tu lazim disebut dengan nama Sanghyang Tunggal, memiliki dua sifat; kebaikan dan kejahatan. Tu yang bersifat kebaikan disebut Tu-han; Sanghyang Wenang, sedangkan  Tu yang bersifat keburukan disebut Han-Tu; Sang Manikmaya. Tu-han dan Han-Tu adalah sifat dari Sanghyang Tunggal.

Karena Sanghyang Tunggal dengan dua sifat itu bersifat gaib, maka untuk memujanya dibutuhkan sarana yang bisa dijangkau oleh pancaindra dan alam pikir manusia. Di dalam agama Kapitayan, segala yang goib itu hanya bisa dijangkau melalui benda yang memiliki nama berkait dengan kata Tu atau To. Seperti wa-Tu, Tu-gu, Tu-ngkub, Tu-lang, Tu-nda, Tu-nggul, Tu­-k; mata air, Tu-tuk; lubang gua, mulut, Tu-ban; air terjun, Tu-mbak, Tu-nggak, Tu-lup, Tu-rumbukan; pohong bringin, un-Tu, Tu-mbuhan, pin-Tu, Tu-tud, To-peng, To-san, To-pong, To-parem, To-wok, dan To-ya.
Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP