Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Kamis, 27 Agustus 2015

Fauzi Baim, Pemuda Inspiratif Asal Jawa Timur

Alhamdulillah, kami, atasnama Indonesia Belajar Institut (IBI), kemaren (25/8) dapat bersilaturrahim dengan pemuda inspiratif bernama Fauzi Baim di kediamannya, Ds. Sukorejo Rt/Rw: 09/03 Buduran Sidoarjo.

Pemuda jebolan salah satu pondok pesantren di Banyuwangi ini menginisiasi gerakan membaca di kampungnya sambil berjualan jamu khas Indonesia. Ia menekuni profesinya sudah sejak tahun 2011. Ia mendirikan perpustakaan umum di rumahnya yang welcome kepada siapa pun yang berkenan datang mengeja aksara. Termasuk juga bila mau sharing seputar agenda “bagi-bagi manfaat”, baik yang telah diselenggarakan, di-planing, maupun yang ditawarkan oleh mereka yang berkenan datang tersebut.

Orang Amerika Balajar Islam Indonesia

Sudah kali ke sekian Indonesia Belajar Institut (IBI) kadatangan tamu orang asing. Nimbrung dalam kegiatan diskusi. Semalam (21/8), di Angkringan 57 Wonocolo Surabaya, 7 orang warga Negara Amerika Serikat belajar Islam di Indonesia. Empat di antaranya masih sebagai mahasiswa, selebihnya professional di bidangnya masing-masing. Datang ke Indonesia dalam rangka belajar. Selain mengagumi alam Indonesia, juga mengagumi relasi sosial masyarakatnya  yang dari sisi etnik, budaya, ras, suku, dan agama berlainan.

Masih Soal Hizbut Tahrir

Saya tertarik mengenali Hizbut Tahrir (HT) lebih dalam sejak Ary Naufal (Ketua Gerakan Mahasiswa Pembebasan Jawa Timur) dihadirkan di forum diskusi Indonesia Belajar Institut (IBI) bartajuk “Refleksi Orientasi Kampus; Antara Humanisasi dan Dehumanisasi”. Di situ, pembicara lain, Muhammad Shofa (Kordinator Bibliopolis Book Review Surabaya), terlontar kata “NKRI Harga Mati”, kata-kata ini kemudian memanjang sampai saya dan Muhammad Shofa diundang dalam diskusi terbuka yang diselenggarakan di Universitas Airlangga (Unair) oleh Gema Pembebasan HTI Jawa Timur.

Saat itu, saya hadir sendiri, Muhammad Shofa berhalangan hadir. Kata yang dikontroversikan oleh HTI, yang mempertanggungjawabkannya justru saya seorang. Karena secara prinsip, walaupun secara verbal bukan saya yang melontarkan “NKRI Harga Mati”, saya sepakat dengan slogan ini.

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP