Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Selasa, 12 April 2016

PARADIGMA KRITIS TRANSFORMATIF[1]

Oleh: Marlaf Sucipto[2]

Saya disodori tema sebagaimana judul tulisan untuk didiskusikan di acara Pelatihan Kader Dasar (PKD) 2016, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Psikologi & Kesehatan, Komisariat Sunan Ampel, Cabang Surabaya, pada Sabtu (9/4) lalu.

Membaca Term of Reference (TOR) yang diberikan panitia, saya mengernyitkan kening. Lagi-lagi, kerangka teori yang digunakan lahir dari mereka yang memposisikan "timur" sebagai "the other". Eropa centris. Hal ini telah diperteguh oleh Orientalisme-nya Edward W. Said. Ambil contoh seperti: Edwar C. Tolman, Rene Descartes, Thomas Khun, Robert Friederichs, Philips, dlsb. Memperteguh kesan, bahwa yang maju, modern, beradab, ialah mereka orang Eropa. Seakan, kita sendiri sebagai bangsa yang mewarisi keluhuran orang Nusantara tidak memiliki konsepsi tersendiri.
Paradigma, (saya lebih nyaman memaknai: bagaimana manusia berfikir). Kita tercekoki oleh pola-pola konsepsi orang Eropa. Apakah ini salah? Tidak, bila didudukkan sebagai perbandingan konsepsi dari konsep yang memang harus kita rumuskan sendiri. Pandangan-pandangan Eropa tidak kemudian harus kita jadikan jujukan, cukup sebagai pelengkap referensi pandangan. Pertama, kita harus mengacu dulu atas sekian konsepsi yang telah ditentukan moyang.

Minggu, 10 April 2016

Nahdotun Nisa'[1]

Nahdotun nisa', diksi "nahdoh"; bangkit, mengindikasikan seakan perempuan itu mengalami keambrukan. Sudut pandang ini terjadi, karena menggunakan cara pandang (epistemologi) barat. Eropa centris. Kita terkondisi, seakan-akan, yang baik, yang benar, yang berkembang, yang maju, dan yang segala-galanya adalah barat. Barat dijadikan jujukan. Barat dijadikan kiblat peradaban. Padahal, dalam segala hal -tidak hanya soal perempuan- kita memiliki cara pandang sendiri dalam berbangsa dan bernegara, yang peradaban moyangnya lebih maju ketimbang peradaban bangsa lain di antara sekitar abad ke XII-XVIII.
Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP