Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Rabu, 01 Februari 2017

Mendudukkan Kesaksian Kiai Ma’ruf Amien Dalam Konteks Kasus Hukum Ahok

Masjid Baabussalam, Lawang, Malang
Kini lagi ramai –utamanya di media sosial- perbincangan tentang pernyataan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dan kuasa hukumnya, Humphrey Djemat, mengenai kesaksian Kiai Ma’ruf Amien kemarin (31/1) di dalam persidangan kasus penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Ahok.

Ini “perseteruan” lanjutan antara Ahok dan rival-rival politiknya, utamanya dalam konteks perebutan DKI satu. November 2016 lalu, saya pernah menulis “Jihad Membela Ahok”. Di tulisan tersebut saya menjelaskan, mengapa orang seperti Ahok perlu dibela.

Ahok mulai “terpojok” sejak pernyataannya di kepulauan seribu dipelintir, dijadikan alat untuk menjegalnya sebagai calon DKI satu. Ahok semakin “terpojok” sejak Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) menerbitkan fatwa yang tidak memperkenankan orang Islam memilih pemimpin non muslim. Atas terbitnya fatwa ini, apalagi berbarengan dengan majunya Ahok sebagai calon DKI satu, jelas merugikannya. Baik rugi dalam ketercalonannya sebagai calon gubernur maupun posisinya yang non muslim.
Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP