Hari Raya Ketupat


Hari ini (28/3), di Madura, pada umumnya orang tengah merayakan Hari Raya Ketupat (Tellasan Topa').

Tellasan Topa', selain memiliki makna religius, juga memiliki makna sosial, yaitu sambung-jalin siturrahmi dengan kerabat, saudara, tetangga yang masih belum rampung dan/atau paripurna pada momentum Idul Fitri minggu lalu.

Tellasan Topa' dilaksanakan di hari ke-8 di Bulan Syawal sebagai tanda selesainya puasa sunnah Syawal yang dianjurkan sebanyak 7 hari. Puasa sunnah selama 7 hari, sering dibahas oleh Khotib; pembaca khutbah Idul Fitri, dengan pahala laiknya puasa setahun penuh.

Puasa sunnah selama 7 hari itu, langsung dilaksanakan oleh umumnya orang Madura, sebab tubuh masih dianggap adaptif dengan puasa wajib selama Ramadhan. Jadi, saat melaksanakan puasa sunnah itu, serasa lebih ringan akibat dari kebiasaan sebelumnya saat menjalankan puasa Ramadhan.

Malam ke-8 di Bulan Syawal, orang di Madura, rata-rata berkerumun di teras rumahnya masing-masing untuk membuat ketupat. Umumnya berbahan dasar daun lontar, ada pula yang berbahan janur. Untuk area saya di Sumenep, rata-rata berbahan dasar daun lontar. Tapi untuk area di rumah istri di Pamekasan, berbahan dasar janur.

Anak-anak yang masih belum bisa membuat ketupat, yang prosesnya menganyam itu, diajari dengan telaten sampai bisa. Mereka dimotivasi dengan kata-kata khas: "Mun tak tao akebey topa', ping mate epamekol palakna Timah"; Jika tidak bisa membuat ketupat, saat meninggal dunia, akan disanksi memikul dzakar-nya Timah.

Kata-kata khas ini disampaikan kepada anak laki. Untuk anak perempuan, disampaikan hal yang sama, hanya diganti jenis kemaluannya saja.

Dalam cerita umum orang Madura, Timah itu dijelaskan memiliki dzakar yang besar. Supaya saat mati tidak memikul dzakar yang besar itu, maka anak-anak harus belajar sampai bisa dalam membuat ketupat.

Terkait "Pala'na Timah" ini, saya meyakini hanyalah cerita fiktif, semacam cerita rakyat. Karena sampai saat ini, saya tidak menemukan preferensi yang memadai secara akademis. Mungkin, seperti cerita Bandung Bondowoso yang membuat candi dalam semalam. 😁

Saya memaknai itu tak lebih dari sekedar agar anak muda sebagai generasi, sebagai penerus, bisa membuat ketupat. Supaya pengetahuan tentang bagaimana membuat ketupat terus lestari dari generasi ke genarasi.

Dalam membuat ketupat, ada banyak model. Yang bersifat wajib tahu, namanya Topa' Sangoh. Topa' Sangoh semacam bekal makanan yang biasa dibawa saat mau melakukan perjalanan. Makanya disebut sebagai Topa' Sangoh.

Ada 7 model ketupat yang saat pagi pada hari raya ketupat, dibawa ke langgar/musholla, masjid terdekat untuk dinikmati bersama. Tujuh macam model ketupat itu; Topa' Sangoh, Topa' Toju', Topa' Kope', Topa' Phebeng, Topa' Lober, Topa' Peller, dan Topa' pattuh bellu'.

Topak Sangoh sebagaimana penjelasan di atas. Topa' Toju' modelnya bisa didudukkan dan/atau dibuat duduk. Topa' Phebeng menyerupai bawang. Topa' Kope' seperti limas. Topa' Lober menyerupai dzakar kelamin laki-laki. Topa' Peller menyerupai testis laki-laki. Dan Topa' Pattuh Bellu' memiliki sisi sampai delapan.

Saya tidak tahu tradisi ini akan berlangsung sampai kapan. Mengingat, anak muda yang bisa membuat ketupat, sudah semakin jarang ditemui. Bahkan, anak muda yang melaksanakan puasa Syawal sebagaimana budaya umum orang Madura, sudah semakin langka ditemui. Yang memilih puasa syawal tinggal orang-orang tua dan tokoh-tokoh tertentu.

Bagi yang tidak puasa, saat momentum Hari Raya Ketupat, suasananya serasa biasa-biasa saja. Sama dengan Hari Raya Idul Fitri bagi mereka yang selama Ramadhan tidak puasa bukan karena alasan yang dibenarkan oleh Agama.

Selamat Hari Raya Ketupat,

Mari pertahankan dan jaga tradisi yang oleh leluhur telah diwariskan kepada kita saat ini.

🙏🫰

Komentar