Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Jumat, 16 Januari 2009

BUDAYA SEBAGAI LEGETIMASI SEBUAH TINDAKAN

Sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari sebuah tindakan yang tidak sesuai bahkan melanggar terhadap salah satu peraturan dan perundang-undangan dari masing-masing keyakinan agama yang kita yakini. Ini terjadi kerena agama bukanlah hasil budaya, agama adalah doktriner Tuhan yang dibawa oleh manusia pilihan-Nya sehingga mampu mempengaruhi budaya masyarakat yang kemudian menghasilkan sebuah budaya baru (akulturasi). Jangan heran ketika masyarakat lebih mendahulukan budaya nenek moyangnya dari pada tunduk patuh pada peraturan paham agama. Sebagai contoh mengapa budaya carok di Madura tetap ada (eksis) sampai sekarang walaupun faham agama (Islam, Kristen) sudah mewarnai masyarakat Madura sejak beberapa abad yang lalu? Dikarenakan mayoritas masyarakat Madura lebih mengedapankan nilai budaya nenek moyangnya dari pada berdiri tegak diatas faham agama yang justru melarang budaya tersebut. Faham carok pada masyarakat Madura menjadi syimbol dari pembelaan harga diri yang menjadi harga mati ( Anggo' lokah kole' etempeng lokah ateh = lebih baik luka kulit dari pada sakit hati) faham ini mendarah daging dari generasai kegenerasi Madura sehingga sampai sekarang budaya itu sulit dihilangkan. Banyaknya tokoh masyarakat agama (kiai dan rohaniawan) dianggap masih belum mampu memberikan jawaban (solusi) atas budaya yang pada dasarnya kebanyakan (mayoritas) masyarakat Madura tidak menginginkannya. Mulai detik ini saya sebagai orang akademisi mengajak kalian semua (pembaca) untuk mencari solusi tepat guna dari tindakan yang meresahkan masyarakat sekaligus memarginalkan masyarakat Madura dimata masyarat luar Madura tersebut, ada banyak cara sebanarnya yang penekanannya pada nilai-nilai kemanusiaan, saling menghargai dalam sebuah perbedaan untuk memberikan jawaban dari kekohan masyarakat Madura pada carok sebagai pembelaan terhadap harga diri tersebut. Sudah sa'atnya kita sebagai generasi ahli konsep dan teori untuk menerapkan keilmuan kita dalam dunia nyata, karena masa depan Madura merupakan masa depan kita bersama.

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP