Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Rabu, 04 Februari 2009

Catatan hari kamis, 15 Januari 2009 jam 19.00-Selesai

Kamis malam Jum'at adalah malam dimana aku tergabung dalam khidmadnya membaca yasyin plus Tahlil di besecamp PMII Faks Syariáh, dilanjutkan dengan rujak party sesama teman. Ada banyak hal yang didapatkan, mulai asyiknya kebersamaan, nikmatnya persatuan menjadi sebuah ajang dalam mempererat tali persaudaraan. Canda tawa yang menghiasi forum itu menjadi ciri khas tersendiri bahwa forum tersebut forum anak muda yang semuanya terdiri dari para mahasiswa, goyon berbau pendidikan mendominasi gelak tawa tersebut. Ciri khas Patungan untuk membeli snack juga tidak ketinggalan ada dalam acara rutinan tersebut.
Wah saya iseng berfikir jika budaya seperti tetap bisa berkembang dan berjalan dengan lancar maka akan menjadi kebiasaan yang dampaknya berupa kedamaian dan kesejahteraan. Kenapa bisa begitu?

• Kebersamaan
Jika budaya ini tetap tertanam didalam diri manusia maka solusi untuk memcacahkan problem hidup menjadi gampang dan mudah, karena diantara manusia satu dangan manusia lainnya dapat saling bertukar fikiran tentan ide, konsep, dan pengalaman hidup untuk dijadikan jawaban dalam setiap masalah yang terjadi.
Manusia yang mana sich yang tidak butuh pada orang lain? Salah, lupa dan seabrak kelemahan lainnya tidak akan pernah hilang dalam diri manusia, karena hal tersebut merupakan sifat alamiah yang tetap akan ada dalam diri manusia. Manusia memang direncanakan oleh penciptanya untuk hidup dengan kebersamaan, tidak perorangan, ternyata budaya perorangan (individualistik) yang pada zaman modern ini menghiasi perjalanan hidup manusia, berada di garda terdapan dalam kerusakan yang terjadi. Menbudayanya sifat sombong, merasa paling cerdas, pintar dan yakinnya memecahkan sebuah persoalan dengan tampa bantuan orang lain menjadi pijakan utama manusia untuk bersifat individualistik, padahal dari sifat individualistic tersebut bukan malah bisa menjawab terhadap problem yang ada justru menciptakan problem baru yang semakin membebani terhadap perjalan hidup didunia ini.

•Persatuan
Warna Budaya persatuan semakin luntur akibat budaya indvidualistik yang mendominasi akal fikiran dan tindakan manusia masa kini. Pentingnya budaya persatuan tergantikan oleh kompetisi yang saling menjatuhkan, demi memenuhi hasrat dan hawa nafsu. Manusia menghalalkan segala macam cara untuk memuluskan perencanaan, Meskipun perencanaan itu akan melewati penderitaan orang lain tidak menjadi masalah, dikarenakan dominanya manusia yang menganggap kesejahteraan hanya akan didapat dengan kompetisi yang menjatuhkan lawan. Manusia lainnya bukan lagi kawan yang harus diberdayakan tapi lawan yang harus ditumbangkan. Tidak kenal Bapak, Ibu, Anak, Saudara dan karabat, jika diantara mereka ada yang dianggap menggangu terhadap jalannya sebuah perencanaan maka harus disingkirkan karena dianggap parasit yang akan menggangu terhadap tumbuh kembangnya perjalanan perencanaan tersebut. Gambaran Manusia masa kini tak ubahnya binatang yang tidak punya akal sama sekali. Maka tak ayal jika dunia ini tambah rusak, karena itu semua akibat ulah manusia yang melampawi batas.

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP