Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Rabu, 08 April 2009

Catatan Seminar Regional


“Reposisi Intelektual Muslim Di Tengah Pertarungan Ideology Globalisasi”
Nara sumber : Dr. Fuad Amsari, P. H.d (Intelektual Muslim), Dr. Hammis Syafaq (Candikiawan Muda)
Komonitas Pemikir Islam Yang Suka Cankruk Dan Berfikir (Kopi Cangkir)
Surabaya, 07 April 2009

Dua hari menjelang pemilihan calon legeslatif yang diadakan secara serentak diseluruh lapisan Indonesia teman-teman Kopi cangkir mengadakan bincang ilmiah dengan menghadirkan tokoh alumnus USA yang pemikirannya cukup cemerlang melihat dasar sumber problematika yang terjadi di negeri tercinta Indonesia ini. Menurut Dr. Fuad Amsari, P.H.d salah satu kesalahan dasar Indonesia hingga mengakibatkan ksemrawutan yang tak kunjung usai adalah karena salahnya bangsa Indonesia dalam menpelajari dan mendalami pengetahuan dan keilmuan politik, ekonomi, budaya, sosialnya orang-orang eropa yang mayoritas tidak bertuhan. Orang Indonesia yang belajar ke Eropa (Barat) sedikit sekali yang mempelajari tentang imu exsakta (ilmu yang sifatnya pasti) , yang di pelajari dan diperdalam adalah ilmu politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang sangat tidak sesuai dengan cirri khas warga Indonesia yang agamis. Indonesia sudah mengadopsi dan memperaktekkan terhadap dinamika social, politik, ekonomi, budaya orang Eropa secara bulat-bulat hingga sampai kemerdekaan Indonesia yang secara de vacto sudah berusia 62 tahun tidak lepas dari yang namanya krisis multidemensi. Ekonomi; menggunakan konsep ekonominya Adam Smits (Bapak Ekonomi kapitalis), walaupun K. Hajar Dewantoro sebagai fuanding father (bapak bangsa) Indonesia punya konsep yang lebih sesuai dengan pesan substansi pancasila tidak dikembangkan sebagai bekal untuk mensejahterakan dan memajukan warga Indonesia. Ironisnya, penanaman bibit perbudakan dilegitimasi secara terang-terangan oleh pemerintah kepada seluruh masyarakat Indonesia mulai tingkat pendidikan paling rendah sampai perguruan tinggi. Pemerintah dan para pemodal membangun koalisi dalam memuluskan perencanaannya tersebut, hingga proses pem-budakan terhadap warga Indonesia semakin terstruktur.
Disadari atau tidak, pemerintah pada dasarnya menjadi budak utama kapitalis sebelum warga Indonesia secara keseluruhan. Kalau boleh saya menggambarkan pemerintah sebagai budak dalam ranah intelektual (pengatur), dan rakyat dalam ranah aksi (pelaksana) dari perbudakan tersebut, hingga penderitaan, kemiskinan, tidak akan pernah usai dalam kamus sejarah Indonesia jika warga Indonesia tidak menyadiri dan berupaya untuk keluar dari kungkungan perbudakan terstruktur tersebut.
Menurut Dr. Hammis Syafaq (pemateri ke 2). Indonesia sudah tidak bisa dilepaskan dari arus globalisasi, opini yang dinukil dari pemikirannya Hasan Hanafi mengatakan, kita tidak harus menolak terhadap yang namanya globalisasi, tapi kita harus bisa menerimanya dengan menfilter terhadap arus tersebut, ada banyak yang baik dari globalisasi dan juga ada banyak yang buruk, hingga menjadi tuntutan bagi kita untuk jeli melihat dimana yang baik dan dimana yang buruk. Bahkan masih menurut Syafaq di abad ke-21 ini menjadi puncak dari kejayaan kaum kapitalis menguasai dunia. Sampai saat ini hanya satu negara yang dinilai mampu menfilter terhadap arus globalisasi tersebut yaitu Negara Iran, dimana di Iran Politik, hukum, Budaya, Ekonominya masih mengacu pada basis fundamentalnya yaitu Islam. Sedangkan ilmu eksaktanya (biologi, fisika, astronomi, nuklir,dll) sudah sangat modern. Bahkan tekanan politis dalam pengayaan uranium nuklir Iran oleh president Amerika Serikat Giorge W Bush yang mengatasnamakan masyarakat internasional tidak digubrisnya bahkan ditentang oleh president Iran Mahmoed Ahmadinejed, kerena menurut Mahmoed nuklir Iran bertujuan untuk perdamian dan backing atas serangan yang sifatnya fisik dan politis dari orang, kelompok, dan Negara manapun.
Dari fenomena diatas kapan Indonesia mencontoh Iran? Dimana politik, ekonomi, budaya, hukum mengacu pada basic fundamental, yaitu basic pluralitas masyarakat yang agamis, dan modern dalam kajian yang sifatnya saint/eksax.
Semoga Indonesia bisa, entah melalui penyadaran dan kesadaran dari masing-masing warga Indonesia.
Ketika kesadaran sudah ada, kemudian apa yang harus kita perbuat? Ini menjadi tugas berat kita bersama sebagai pewaris negeri yang kacau balau ini. Mari kita cari sama-sama langkah solutifnya. Wallahua’lam bisshawab.

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP