Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Senin, 08 Juni 2009

PRAGMATISME GERAKAN MAHASISWA

Mahasiswa; seharusnya peka terhadap fenomena sosial, menpunyai ketajaman analisa, bersikap kritis transformative terhadap dinamika sosial, dan segala gerakan perubahan positif lainnya. Hal ini sebagai representasi dari status mahasiswa yang kadung terkenal dengan sebutan agen of change and agen of sosial control itu sendiri.
Ditengah persoalan hidup yang semakin kompleks, mahasiswa mempunyai tanggung jawab yang besar. Mahasiswa dituntut untuk selalu kreatif menghadirkan solusi ditengah membesarnya ketimpangan sosial yang terjadi.

Peran mahasiswa akhir-akhir ini sebagai agen of change and agen of sosial control penting untuk dipertanyakan. Ditengah tuntutan hidup yang semakin kompleks, banyak mahasiswa yang gampang menggadaikan bahkan menjual idealismenya demi kepentingan perut belaka. Mahasiswa yang pada awalnya benar-benar memperjuangkan “kebenaran” sekarang sudah banyak yang bisa di-ninabobok-kan oleh seamplop uang atau sebuah konci mobil nicis sebagai syimbol resmi orang Indonesia yang mapan. Hal ini sangat mudah kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. Contoh, salah satunya gerakan turun jalan mahasiswa yang formalnya menuntut keadilan, dan ketimpangan sosial, tapi substansinya menjadi tangan panjang orang yang punya kepentingan. Terjadi konspirasi politis antara pihak elit dan mahasiswa itu sendiri.
Menyikapi dinamika gerakan mahasiswa yang orientasinya sudah keluar dari rel idealismenya, kita sebagai mahasiswa punya tanggung jawab yang besar untuk megembalikan nilai idealisme yang disalahgunakan tersebut. Analisa dasar kita adalah, apa yang melatarbelakangi gerakan mahasiswa yang keluar dari relnya tersebut?. Menurut Dr. Fuadz Amstari, P.H.d ,. adalah tak lain dari konstruk berfikir masyarakat akan faham sukses yang orientasinya pada sebuah materi. Seseorang dikatakan sukses bila mana mampu menumpuk kekayan sebanyak-banyaknya. Jarang sekali ditemui, dikategorikan sukses bila orang itu berpengetahuan tinggi, berbudi luhur, berkpribadian baik, tapi kondisi ekonominya miskin. Mayoritas orang akan tetap memandang sebalah mata atas orang tersebut. Pola pikir seperti ini yang salah satunya mengantarkan mahasiswa pada pengadaian bahkan penjualan idealismenya yang suci. Idealisme dijadikan kendaraan untuk memuluskan kepentingan-kepentingan dalam menumpuk kekayaan dengan jalan tidak benar.
Sunguh akan mendapatkan nilai ekstra bila kita tatap eksis dalam pemurnian idealisme dan menperkaya diri dengan cara yang baik. Tampa menjual idealisme. Pengetahuan yang tinggi dijadikan untuk memberi ketentraman, keadilan, kesejahteraan terhadap diri dan orang lain. Tampa mengorbankan salah satu diantaranya. Inilah mungkin kategori sukses perjuangan seorang mahasiswa yang menurut penulis pengabungan antara faham materialis dan idealis. sesuai dengan kapasitas dan keilmuan penulis yang masih jauh dari sempurna.

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP