Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Senin, 08 Juni 2009

REFLEKSI DARI FILM PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN

Salah satu Film garapan Hanung Bramantyo ini sungguh telah memberikan penyadaran bahwa diskriminasi yang sering terjadi pada wanita karena berdasarkan kultur/adat/budaya. Doktrin-doktrin agama difahami sangat sempit hingga banyak dijumpai doktrin keagamaan dijadikan legalitas untuk mengekang, mendiskriminasi perempuan itu sendiri. Padahal kalau kita berkaca pada sejarah, kedatangan islam untuk mengangkat darajad perempuan yang pada masa sebelum islam datang perempuan tidak ada bedanya dengan barang yang bisa diperdagangkan dan diwariskan. Karena lahirnya islam tidak lepas dari budaya yang monomer satukan laki-laki, pemahamaTeks-teks Al-Quran oleh banyak orang condong difahami paternalistic. Semisal ayat Al-Qur’an yang sering didengan-dengungkan sebagai legitimasi untuk menempatkan wanita setelah laki-laki

الرجال قوامون على النساء
Karena teks ini termasuk ayat mutasyabih (tidak dapat difahami secara teks, hingga perlu keterlibatan nalar untuk menjangkaunya), dari masing-masing ahli tafsir pun menafsirinya berbeda. Sebagian besar mufassir klasik (Ibnu Katsir, Jalalain, dan sebagainya) dipengaruhi oleh faham paternalistic, baru sejak Muhammad Abduh, Rosyid Ridha yang dikenal sebagai mufassir kontemporer dan sampai sekarang Quraish Shihab yang terkenal dengan tafsir Al-Mishbahnya mulai memahami terhadap teks tersebut secara bijaksana (tidak menomor duakan perempuan).

Kembali kepada film perempuan berkalung sorbang. Yang menurut penulisnya (Abidah El-Kholiqiey) peran perempuan yang dalam film ini di perankan oleh Anisa (Revalina S temat) selalu termajinalkan dan menjadi objek diskrisminasi akibat faham budaya yang salah kaprah, harus segera diluruskan. Baik melalui pehaman, penampilan dan etika sekalipun, dengan tampa merendahkan terhadap nilai-nilai agama sedikitpun. Sorban yang secara simbolik selalu melilit leher laki-laki, sekarang juga bisa melilit dileher perempuan. Leletan sorban dileher Anisa sebagai symbol kesetaraan perempuan dengan laki-laki. Hal ini sudah jelas dalam Al-Quran bahwa yang membedakan antara laki-laki dan perempuan hanyalah dilihat dari nilai ibadanya kepada Allah, bukan atas prioritas laki-laki dalam segala hal mendahuluinya.

Akhirnya menurut saya, menomor satukan laki-laki lahir dari kultur budaya, bukan dogmatika agama. Cuma yang menjadi persoalan, ketika dogmatika agama dijadikan legitimasi untuk mengeksiskan faham budaya yang mendiskriditkan salah satu mahkluk-Nya, termasuk diantaranya adalah wanita.

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP