Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Jumat, 05 November 2010

IWAN FALS DAN KI AGENG GANJUR

Tidak seperti biasanya, Selasa, 02 Nopember 2010 IAIN Sunan Ampel Surabaya kedatangan tamu Iwan Fals dan Ki Ageng Ganjur. Kunjungan Akbar yang menurut Iwan Fals adalah kunjungan yang ke-26 ke pesentren-pesantren di Indonesia. Konser yang mengangkat tema “Perjalanan Spritual Iwan Fals bersama Ki Ageng Ganjur di Pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya” ini juga dihadiri oleh wakil Gubernur Jawa Timur (Syaifullah Yusuf) menjadi satu dari sekian banyak konser yang saya datangi untuk daerah Surabaya dimulai dengan Istighastah. Unik dan benar-benar berbeda dari konser-konser lainnya. Lagu-lagu yang dibawakan kang Iwan (sapaan akrab Iwan Fals) sangat mengenak dan penuh makna yang mendalam untuk kondisi Indonesia masa kini. Beberapa lagu kang Iwan yang terekan di benak saya:



Sarjana Muda
Lagu ini menjadi lagu pembuka dari kang Iwan, sebagai setrum penyemangat untuk kaula muda khususnya Mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi kehidupan sesungguhnya. Empat tahun lamanya bergelut dengan buku menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki diri, menempa keilmuan dan seabrak pembelajaran-pembelajaran kehidupan lain. Hal tersebut tidak lain supaya mahasiswa sehabis kuliah tidak hanya lontang-lantung kesana kemari dengan selembar ijazah dalam mencari sebuah pekerjaan. Melainkan kualitas diri dari setiap mahasiswa bisa dapat diperhitungkan dikancah pelbagai segi kehidupan.

Ibu
Lagu kedua ini diangkat untuk menambah keyakinan diri, akan pentingnya menghargai dan menghormati seorang ibu, ibu adalah pahlawan sejati, pengorbanannya yang tiada tara untuk hidup dan kehidupan seorang anak tidak bisa tergantikan oleh tumpukan harta dunia. Ibu adalah yang meberi hidup dan kehidupan, ibu yang memberi harapan, ibu yang paling sabar dalam menghadapi berbagai macam cobaan, ibu yang paling tabah dalam menghadapi musibah. Ibu-ibu-ibu adalah pejuang terhebat dalam perjalan hidup manusia.

Tanam Pohon
Kesadaran untuk merawat lingkungan tidak luput dari dakwahnya kang Iwan. Ditengah kondisi alam yang sering tidak bersahabat dengan manusia dan isi lainya, kang Iwan dengan bersemangat mengajak manusia khususnya kaula muda yang hadir ke konsernya untuk menanam pohon dan menyiraminya sebagai bekal kehidupan dan warisan untuk anak cucu kita. Dengan slogan “tebang satu tanam seribu” menjadi slogan yang menurut saya karena saking parahnya kerusakan alam masa kini. Alam yang semestinya memberikan kehidupan sedikit berubah memberikan kebinasaan. Pohon yang semestinya menyediakan 02 malah menghantam hunian manusia dan mahluk lain. Air yang semestinya menjadi pemenuhan kebutuhan hidup sedikit berubah menjadi air yang menyapu bersih kehidupan.

Pahlawan
Pahlawan sebagai symbol pejuang kemerdekaan, patut dikenang dan dilanjutkan semangat perjuangannya dalam mempertahankan kemerdekaan sekaligus mengisi kemerdekaan dengan kemakmuran, keadilan, kesejahteraan, kejujuran, kebijaksanaan tampa mengorbankan manusia satu dan lainnya.

Jola Joli
Lagu yang menurut saya sebatas guyonan beneran ini mengajak kita untuk merefleksi kembali kewajiban seharusnya yang harus dilaksanakan oleh badan eksekutif, legislative, yudikatif (pemerintah) Indonesia dan diri kita sendiri yang memang mewarisi budaya korupsi, nipotisme, dan kolusi ini untuk kembali kepada hakikat kebangsaan yang terbingkai dalam nilai-nilai pancasila.


Oemar Bakri
Lagu ini mendiskripsikan tentang seorang guru yang bernama Umar Bakri, pengorbananya selama 40 tahun dalam membentuk manusia-manusia hebat tidak seimbang dengan gaji yang diterimanya. Professor, Doktor banyak lahir dari beliau. Pengorbanan guru yang luar biasa, Umar Bakri satu dari sekian banyak guru yang nasib profesinya tidak seimbang dengan gajinya.

Analisis Subyektif Pada Lagu-Lagu Diatas:

Sarjana Muda
Sarjana muda dijadikan pembuka dari tujuh bait lagu yang dilantunkan oleh Kang Iwan ini mungkin dilatar belakangi oleh Orang-orang yang hadir kekonser ini didominasi oleh kaula muda, khususnya mahasiswa, orientasi mahasiswa masa kini dalam kuliah rata-rata hanya untuk mendapatkan pekerjaan. Tanggung jawab moral, sosial dan agama sering ditanggalkan, sehingga setiap tahun lulusan sarjana berlomba-lomba untuk mendapatkan pekerjaan. Tanggung jawab moral dan sosial sudah mulai terlupakan. Nah, dengan senandung lagu sarjana muda yang diselingi dengan penyadaran-penyadaran, Iwan Fals mengajak kaula muda (Mahasiswa) agar kuliah tidak hanya untuk mendapatkan pekerjaan, tapi juga keilmuan yang diperoleh menpunyai kontribusi positif terhadap masyarakat, agama, Negara dan bangsa Indonesia.

Ibu
Kenapa lagu yang ke-2 ini Kang Iwan memilih lagu Ibu?
Ibu, sebagaimana disampaikan Kang Iwan adalah pahlawan pertama dan utama dalam kehidupan manusia. Tampa ibu kita tidak akan berarti apa-apa, bahkan kita tidak akan pernah ada. Ibu adalah orang yang paling sabar dalam merawat, mendidik, dan membesarkan anak, Ibu adalah orang yang paling besar pengorbanannya untuk kesuksesan seorang anak. Ibu adalah satu-satunya manusia yang rela mati-matian untuk kehidupan seorang anak. Ibu adalah pahlawan yang tak kenal pamrih. Ibu adalah satu-satunya manusia yang sangat pengasih. Jika anda menemui ibu yang tidak sesuai dengan ciri-ciri diatas, maka ibu tersebut masuk satu dari sekian ribu ibu yang berciri-cirikan sebagaimana diatas.

Tanam Pohon
Lagu ini dimaksudkan untuk mengajak manusia khususnya kaula muda untuk merawat lingkungan, salah satunya dengan menanam pohon dan menyiraminya. Kondisi alam kita menurut beberapa ahli sudah masuk stadium kritis. Harus segera tertolong demi keselamatan kehidupan kita dan anak cucu kita nanti. Budaya konsumtif dan kebiasaan menebang pohon tampa menanaminya kembali menjadi satu dari sekian banyak aktifitas manusia yang mengancam kehidupan kita dan anak cucu. Akibat dari kebiasaan buruk tersebut, ketidak jelasan musim terjadi, banjir, longsor, kekeringan, dan terik matahari yang kadang abnormal menjadi kejadian sering dimuka bumi. Akibat hal diatas, alam, manusia, hewan, tumbuhan sering menjadi korban yang kadang manusia bisanya hanya saling menyalahkan.
Maka dengan lagu diatas, kang Iwan mengajak untuk kembali merawat dan menyayangi lingkungan dengan:
  1. Kebiasaan menanam pohon dan apabila menebang untuk ditanaminya kembali penerus pohon selanjutnya.
  2. Kata-kata membuang sampah, mari kita ganti dengan ‘menempatkan sampah pada tempatnya. Tempat sampah bukan disungai, got, slokan dan tempat-tempat lain yang bukan tempatnya. Melainkan, tempatkan sampah pada tempatnya, dan bakarlah sampah tersebut apabila sudah tidak bernilai, hal tersebut tak lain untuk menghindari kekotoran alam kita. Lebih bagus lagi apabila mampu mengolah sampah tersebut menjadi suatu hal yang sangat bernilai bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  3. memperkecil penggunaan kantong plastik dalam aktifitas kita sehari-hari, karena kantong plastik merupakan satu dari sekian banyak produk jadi yang sejenis kantong plastik apabila sudah menjadi sampah dan terbuang dimana-mana membutuhkan waktu 1000 tahun untuk dapat di urai oleh tanah. Dan plastik tersebut juga mencemari kemurnian dan kejernihan air yang dikandung bumi.

Pahlawan
Bait lagu ke-empat ini mengajak kita untuk menghargai pahlawan, pengorbananya dalam merebut kemerdakaan patut mendapatkan apresiasi yang mendalam. Semangat perlawan untuk melawan ketidakadilan, penindasan, pemiskinan, pembodohan penting ditiru untuk dipakai dalam mempertahankan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan itu sendiri

Jola Joli
Dengan lagu ini kang Iwan mengajak kita untuk tidak meniru kebiasaan-kebiasaan distruktif para pejabat negeri. Kebiasaan tak bermakna, buang-buang waktu, sifat konsumerisme, hidup mewah-mewahan, main perempuan, korupsi, kolusi, nepotisme dan kegiatan kong-kalikong yang justru tidak mamanusiakan manusia mari kita hindari untuk memperlambat kerusakan, lebih-lebih memperbaiki keadaan sosial, alam yang sudah dalam garis kerusakan systemik ini.

Oemar Bakri
Guru yang semestinya ditempatkan dan gaji secara layak di negeri ini ternyata berbanding terbalik, guru yang pada hakikatnya telah banyak melahirkan manusia-manusia hebat menjadi guru yang sengaja dilemahkan dan dimiskinkan untuk memperkecil porsi kelahiran orang-orang baik yang hebat dan nanti mungkin akan membentur ketidak adilan dan kekurang ajaran praktik kehidupan akhir-akhir ini.

Ini sebatas refleksi…..

1 komentar:

Cinta Syahadah mengatakan...

Luar biasa.. benar-benar luar biasa.. Konser musik diawali dengan Istighasah..! :)

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP