Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Kamis, 09 Desember 2010

SEMINAR&AUDIENSI


Hari ini, Kamis, 09 Desember 2010 saya mengikuti dua agenda yang menurut saya penting untuk ditulis, pertama, saya mengikuti seminar sehari yang diadakan oleh Lembaga Kajian Agama Dan Filsafat (eL-KAF) bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tafsir Hadits Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel Surabaya. Mengangkat tema “Trans-Nasionalisme: Harapan dan Tantangan (Reaktualisasi Nasionalisme Indonesia pada Era Globalisasi)”. Kedua, saya mengikuti audiensi dengan salah satu penentu kebijakan champus IAIN Sunan Ampel Surabaya, Bapak Prof.Dr. Saiful Anam, M.Ag (Pembantu Rektor 3) dan Bapak Prof.Dr. Abd. Haris, M.Ag (Pembantu Rektor 2) atas kebijakan penutupan pintu belakang champus IAIN Sunan Ampel Surabaya yang sudah tertutup sejak beberapa hari yang lalu.


Seminar Sehari
Kegiatan yang mengesankan ‘Proyek’ (sekedar ada tampa ada persiapan yang matang dan terkesan asal-asalan) ini membuat hati saya miris. Persiapan dalam artian bukan dari sisi prasarananya, tapi dari sisi konsep, tujuan, dan output dari agenda tersebut sangat tidak jelas. Dua Nara sumber, pertama dari Bakesbang (semoga saja ejaan tulis pada tulisan bakesbang ini tidak salah, jika salah mohon koreksinya) yang mewakili pimpinannya tak ubahnya mahasiswa semester I yang membacakan makalah dedepan mahasiswa yang lain. Usai pembacaan makalah dari nara sumber pertama, dilanjutkan kepada Nara Sumber kedua yang saya catat namanya M. Badrus Sholeh (Alumni Program Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Nara Sumber kedua ini juga merasa bingung, terlebih dari tema yang diangkat, menurut beliau, susuatu yang berakhiran ‘isme’ sebagaimana potongan tema trans-nasionalisme, sudah mengarah kepada faham/ideologi, sedangkan faham/ideologi gerakan yang lebih pas saya namai trans-nasional ini belum ada kejelasan yang pasti dalam lingkup Indonesia. Apa mengarah kepada faham Ikhwanul Muslimin (IM) yang digagas oleh Hassan al-Banna di Mesir, atau kepada Al-Qaida di Pakistan dan gerakan-gerakan islam garis keras lain. PKS yang sering-dihubung-hubungkan dengan IM, ternyata gerakannya lebih lunak dan tidak mengedapankan kekerasan yang kerap kali disebut-sebut anarkisme. Jadi, saya katakan, faham/ideologi gerakan trans-Nasional di Indonesia masih belum menemukan jati dirinya. Anarkisme gerakan trans-nasional di Indonesia yang kerap terjadi dilakukan masih jauh dari faham/ideologi gerakan islam garis keras tertentu yang berkembang dinegara lain. Khususnya Timur Tengah.
e-LKAF sebagai lembaga kajian Agama dan Filsafat, mohon dengan anggaran dana yang ada, bahkan bisa dikatakan besar, untuk benar-benar agenda kajiannya tidak diadakan hanya untuk mencairkan uang dan ‘mungkin’ mensejahterakan pengurus dan ketuanya. SAC lantai 3, Bolpen&bloknote, snack&minum, sampai makan-makan di ending acara, mengindikasikan bahwa kagiatan ini sungguh besar dana oprasionalnya. Cuma, kering dialektika keilmuan didalamnya, harapan dan tujuan yang benar-benar berkontribusi terhadap keilmuan anggota seminarnya bisa dikatakan tidak ada. Khayalan saya, jika lembaga kajian ilmu sudah seperti ini, bagaimana dengan lembaga-lembaga lain yang tidak ada kata kajiannya? Semoga e-LKAF tetap ada dan mau berbenah diri ditengah hamtaman faham pragmatisme yang sudah mengakar kuat didalam pribadi-pribadi masyarakat Indonesia ini. Tidak malah sebaliknya.

AUDIENSI
Agenda ini dimaksudkan untuk menindak lanjuti demonstrasi sahabat-sahabat yang menuntut pembukaan pintu belakang champus yang sudah tertutup sejak beberapa hari yang lalu. Sahabat-sahabat meminta kebijakan tersebut ditinjau ulang dan mendesak untuk dibuka kembali. Beberapa alasan rektorat dalam menutup pintu belakang:
  1. Untuk mewujudkan IAIN yang kondusif, akibat adanya pintu belakang, IAIN selalu kecurian, dan kerap sekali lalu lalangnya warga sekitar champus dengan busana yang tidak sesuai dengan kode etik IAIN, dijadikannya tempat parkir mobil warga sekitar champus, dan alasan lain yang tak kalah pentingya adalah, menjaga kemanan dan kenyaman pembangunan proyek gedung, menyambut konvensi IAIN-UIN Sunan Ampel Surabaya
  2. Keputusan pemerintah pusat terkait dalam mewujudkan pintu tunggal IAIN Sunan Ampel Surabaya.
  3.  
Mahasiswa tetap tidak sepakat jika pintu belakang ditutup dengan alasan diatas. Bebarapa masukan mahasiswa:
  1. Memberlakukan jam buka tutup untuk pintu belakang
  2. Menempatkan satpam selama jam buka terjadi
  3. Membuatkan kartu identitas untuk seluruh civitas IAIN Sunan Ampel Surabaya mulai dari tingkatan Rektorat-Mahasiswa sebagai sarana untuk memastikan bahwa orang bersangkutan benar-benar bagian dari IAIN Sunan Ampel Surabaya, sekaligus sebagai tanda bukti untuk masuk dilingkungan IAIN.
  4. Atau memasang alat identifikasi dalam mengawasi gerak-gerik orang mencurigakan
  5. Melarang orang masuk, tampa terkecuali, yang mengenakan busana tidak sesuai dengan kode etik IAIN
  6. Mahasiswa sepakat dengan keputusan penutupan pintu belakang, dengan catatan IAIN sudah siap dari segi sarana dan prasarana khusus pejalan kaki, sebagaimana dijanjikan oleh pembantu Rektor 2 akan di buatkan trotoar khusus pejalan kaki yang sampai keputusan penutupan pintu itu dibuat, belum ada, dan masih belum ada tanda-tanda untuk mewujudkannya.
Ini catatan saya, untuk saya konsumsi sendiri, dan apabila ada yang berkenan membacanya dipersilahkan tampa harus kena sanksi…..hehehe
Allahu A’lam…….

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP