Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Senin, 23 Januari 2012

TEATER Q


“Selamat dan sukses atas terpilihnya sahabat Iqbal Waziri sebagai ketua Teater Q Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Semoga dibawah kepemimpinannya Teater Q bisa menjadi lebih baik”.

Teater Q, adalah satu dari sekian UKM Fakultas yang ada dilingkungan Fakultas Syariah, dibawah instruksi kordinasi langsung Senat Mahasiswa Fakultas Syariah. Keberadaan teater Q, suatu yang niscaya dan patut disyukuri, karena sumbangsihnya terhadap pengembangan kreatifitas mahasiswa dibedang seni dan budaya, terhusus difakultas syariah, menemukan ruang yang pas dan dirasa pantas. Teater Q harus tetap eksis. Teater Q harus selalu siap mengarungi gelombang hidup yang semakin besar dan kuat. Dan, teater Q harus bisa memupuk generasinya untuk tetap kuat dalam menghadapi berbagai macam tantangan hidup yang dihadapinya. Karena, tantangan hidup, dari generasi kegenarasi, akan mempunyai pola, dan gaya yang berbeda.

Hakikat Teater Q sebagai UKM Fakultas
Bebarapa dekade terahir, tercium ketidak harmonisan hubungan, antara teater Q dan senat Fakultas. Terlihat dari berbagai macam sisi. Entah persoalannya apa, yang pasti, saya pribadi tidak tahu pasti, apa dan mengapa itu terjadi. Bagi saya, itu pasti ada yang memulai, yang memulai itulah, siapapun orangnya, tidak patut kita junjung tinggi dalam hal mempertahankan sikap sikap bangunan ketidak harmonisannya diantara dulur teater Q dan sahabat pejabat Senat mahasiswa fakultas. Detik ini, saya diktumkan, “kita semua adalah saudara, mari bangun kerjasama yang konstruktif, membina keharmonisan yang humanis. Mari bersama-sama, merajut hidup dan kehidupan yang harus lebih baik, dengan, ikhlaskanlah untuk mengubur sifat dengki, hasud, dan tindakan distruktif lainnya yang sempat terbangun diatara kita. Karena sikap sifat itu, hanya membawa kehancuran dan ketertinggalan. Sekali lagi, kita semua adalah saudara.”

Teater Q sebagai UKM yang intens dibidang Seni budaya, harus bisa menjaga kemurniannya, untuk tetap ada dalam lingkup seni dan budaya. Jangan dicampur aduk dengan demensi lain, terlebih dalam lingkup politik kampus yang hanya boleh dimainkan oleh para politikus yang biasa berpolitik. bila teater Q masuk dalam dinamika politik, maka jangan heran, jika percaturan politiknya kalah, siap-siap untuk dinegasikan, ‘dikebiri’ bahkan ‘dibunuh’ kreatifitasnya agar obsesi politikus yang menang, tidak terancam eksistensinya. Mungkin dulu, dan berlanjut sampai sekarang, ketidak harmonisan senat dan teater Q, salah satunya dilatar belakangi oleh percaturan politik yang dimainkan oleh mahasiswa, terhusus mahasiswa fakultas syariah. Atau, jika mau berpolitik, jangan tanggung-tanggung dan jadilah pemenang. Karena, apabila berpolitik tanggung-tanggung dan tidak menang hanya akan memperpuruk suasana. Bahkan ‘nutrisi’ hidup dan kehidupannya akan tetap selalu terancam. Saran saya, teater Q harus steril dari dinamika politik praktis. Jika mau berpolitik, jangan di teater Q, karena bila kalah, teater Q dan generasinya-lah yang akan menjadi korban. Bila sudah jadi korban, siap-siaplah untuk ‘menagis’.

Hakikat Teater Q sebagai komunitas Seni Budaya
“Bila politik sudah bengkok, maka senilah yang akan meluruskannya”, begitu dulu yang saya dengar sewaktu masih aktif disalah satu sanggar seni budaya di pondok pesantren.
Keberadaan komunitas seni budaya, menjadi penting adanya, karena dengan senilah manusia hidup, merasakan suka duka, bahagia derita, pahit manis.

Menjadi penting, dan sudah keharusan, teater Q sebagai salah satu UKM yang berada difakultas syariah, punya rangkaian agenda yang dirasakan langsung oleh mahasiswa, terlebih dalam lingkup seni budaya dan pengembangan kreatifitas seni budaya mahasiswa fakultas syariah. Dua tahun terahir, agenda teater Q yang bersentuhan langsung dengan mahasiswa fakultas syariah terasa ‘kering’, atau sengaja ‘dikeringkan’. Kedepan, dengan kehormanisan yang kembali akan kita rajut, diharap bisa mebangun sinergitas yang kostruktif dengan bingkai, ‘kita adalah saudara’.

Teater Q sebagai komunitas seni, sebagaimana yang saya kutip diatas, harus bisa memerankan diri, sebagai komunitas seni yang bisa meluruskan kebijakan institusi yang berbau politis (IAIN, Fakultas Syariah, Sema Syariah). Hal itu dilakukan, bila institusi tersebut telah, atau hanpir mengalir ke jalur yang tidak benar. Selama saya menjabat, saya siap di ingatkan dan dikasih masukan yang konstruktif dengan keridor etis sebagai pegangan bersama yang harus kita pegang. Jangan malah mempolitisir suasana, karena orang politik sudah rata-rata faham apa dan bagaimana itu politik. Mungkin termasuk saya, yang kebetulan berada dijabatan politis.

Artinya, kita bisa bergandengan tangan, untuk bersama-sama dalam mengambdikan diri pada lembanga pendidikan yang sebentar lagi akan bermetmorfosis menjadi UIN Sunan Ampel Surabaya. Saatnya dan sudah seharusnya memulai, untuk menyiapkan diri menjadi institusi yang mencetak generasi bangsa yang siap bersaing ditengah kehidupan kompetitif ini. Karena 66th Indonesia merdeka, hanya merdeka secara de jure, de vacto masih tanda besar.

Selamat, semoga kepemimpinan saya di SEMA Syariah, dan Iqbal Waziri di paguyuban teater Q, bisa memulai beberapa harapan dan keinginan diatas. Dan, Iqbal Waziri dirasa orang yang tepat untuk mengawal dan menjatuhkan bebarapa lompatan konstruktif yang akan kita lakukan kedepan.
Mari memulai, bismillah….

Marlaf Sucipto
Ketua SEMA Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya
Periode 2012-2013

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP