Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Senin, 06 Februari 2012

MAULID NABI DAN YANG SEHARUSNYA


Perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. Adalah agenda tahunan yang biasa diadakan oleh mayoritas ummat muslim didunia. Didalam kalender islam (hijriah) sendiri, sudah dijadikan kalender bulan, dimana, di Indonesia kita kenal dengan sebutan bulan Maulid. Umat muslim dengan ragam budaya, adat, suku, ras, dan bentuk pluralisme lainya dalam mengadakan acara ini, mempunyai ciri khas dan identitas tersendiri, tanpa menghilangkan maksud substantif acara ini diadakan.


Potret Nabi
Nabi dari berbagai demensi kehidupan diperbincangkan, mulai dari kondisi masyarakat Jahiliyah sebelum nabi datang membawa pesan ketuhanan sampai hal yang terkesan kecil dari nabipun tidak luput dari sorotan ummat muslim dunia. Nabi adalah mahluk tuhan paling agung, paling sempurna dari segala mahluk, dan nabi terahir dalam roda kehidupan. Tentang nabi, dibincangkan dengan milyaran bahasa manusia dibumi. Nabi menjadi tokoh idola diseluruh sentaro dunia, bahkan, tidak hanya umat muslim yang ngefans pada nabi, tapi juga umat non muslimpun banyak yang ngefans pada nabi. Dari berbagai macam aspek kehidupannya yang sudah disepakati sempurna oleh mayoritas manusia dimuka bumi. Luar biasa benar nabi kita. Nabi agung, dan pembawa risalah terahir tentang kenabian dan kerosulan.

Nabi Sebagai Suri Tauladan
Dalam al-Quran disebutkan, “Sungguh telah ada dalam diri seorang rosul, suri tauladan yang baik” (al-Ahzab: 21). Titik tekan ayat ini adalah, seorang rosul, adalah suri tauladan yang baik. Kata tauladan, lebih kepada contoh, bukan perintah. Memang, dari segala aspek, sikap sifat rosul layak menjadi contoh untuk seluruh umat manusia dibumi. Karena dalam diri rosul itulah, Tuhan mengambarkan, bahwa prilaku baik, sebagaimana sikap sifat rosul yang agung. Dari aspek kerusulan dan kenabian, rosul adalah mahluk paling sempurna, hampir tanpa cacat. Dari aspek kemanusiaan, rosul juga manusia yang tidak lepas dari sikap sifat alamiah manusia. Rosul berkebutuhan seks, makan, minum, bersosial, lupa, bahkan Rosul tidak bisa membaca. Dari dua aspek ini, suatu maksud bahwa, agar kita, dari aspek kemanusiaan, yang posisinya ‘sama’ dengan rosul tidak memandang rosul sebagai manusia super yang kebutuhannya berbeda dengan kita. Tapi, dalam diri seorang rosul yang juga ada sifat sikap kemanusiaan, tersimpan milyaran sikap sifat kebaikan yang layak dijadikan cermin dalam mengarungi kehidupan. Bagaimana nabi menikah untuk memunuhi kebutuhan seksnya, bagaimana nabi makan dan minum untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bagaimana nabi hidup bermasyarakat untuk memenuhi kebutuhan sosialnya, dan praktik hidup lain yang pernah dikerjakan rosul semuanya layak menjadi cermin atas kehidupan umat manusia dimuka bumi. Karena apabila kita bisa meniru prilaku rosul, maka kehidupan dunia kita, lebih mungkin untuk menjadi lebih baik, terlebih kehidupan ahirat kita, juga sangat mungkin akan menjadi kehidupan yang juga baik.

Pribumisasi ajaran Rosul
Jujur, amanah, cerdas, apa adanya, menyantuni fakir miskin, menghormati yang tua dan mengasihani yang muda, adil, tegas, tidak angkuh, rendah hati, konsisten, pemurah, penyayang, pengasih, tidak memusuhi orang, rajin ibadah, rajin bershodoqah, toleran, moderat, dan milyaran sikap sifat nabi lainnya. Semuanya layak menjadi contoh. Karena, sekali lagi, nabi bukan tukang perintah yang hanya bisa ngumong, tapi hal tersebut, diperaktekkan langsung oleh nabi, disitulah sebenarnya, letak suritauladan dari seorang nabi yang agung.
Jika kita bisa meniru prilaku nabi, bukan suatu hal yang tidak mungkin dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik akan benar-benar bisa digapai. Sederhana, tapi sulit dilaksanakan, karena kita, terlebih saya, masih larut dalam tuntutan syhwat kebinatangan yang bercokol didalam diri kita. Moment maulid, mari kita jadikan media untuk merovolusi diri menjadi manusia yang harus lebih baik. Kebiasaan berkata dan bertindak bohong, mari kita ganti dengan kebiasaan saling jujur. Kebiasaan menggelapkan suatu titipan, mari kita ganti dengan saling menjaga dengan penuh tanggung jawab. Kebiasaan pura-pura tidak melihat pada yang miskin, lemah, mari kita ganti dengan kepedulian yang tinggi pada meraka yang layak dipedulikan. Kebiasaan menyombongkan diri, mari kita ganti dengan kerendah hatian sebagai bentuk penghargaaan dan penghormatan pada yang lain. Kebiasaan ‘mencekik’ orang dengan prilaku korupsi, manipulasi, mari kita ganti dengan kepedulian yang tiggi pada orang lain dengan tidak korupsi dan memanipulasi, agar kesejahteraan sebagai cita-cita sosial benar-benar bisa kita gapai. Karena korupsi dan manipulasi, pada ujungnya hanya akan menyengsarakan orang lain, terlebih yang lemah dan bodoh.

Semua ini saya tulis, bukan berati saya sudah bisa seperti nabi, tapi saya juga belajar untuk meneladani soerang nabi yang agung.
Selamat bermaulid Nabi...

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP