Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Senin, 31 Desember 2012

REFLEKSI AHIR TAHUN


Pertengahan malam nanti, pergantian tahun 2012-2013 akan terjadi. Pasti terjadi. Kecuali ramalan kiamat yg ditaksir pada 21 Desember 2012 oleh kalender kaum maya bakal terjadi menjelang detik 00:00 nanti. Perayaan tahun baru saya kenal dikota. Terlebih setelah saya berada dikota terbesar ke-2 di Indonesia ini. 4x sudah saya turut terlibat dengan mengelegarnya bunyi trompet, macetnya jalan, menbludaknya mall, sesaknya tempat hiburan dan seabrak kasak-kusuk kota yg bikin banyak orang stres.

Semarak  tahun baru menjadi mementum yang pas atas banyak hal. Mulai dari refleksi evaluatif atas tindak-tanduk selama tahun 2012 dan rencana agenda ditahun 2013, sampai ajang 'buang-buang' uang karena terperangkap dalam jerat umpan ekonomi kapitalisme. Kaum cerdik pandai yg besar hatinya, lebih memilih meng-evaluasi diri atas tindak-tanduknya selama tahun 2012. Sejauh mana tindak-tinduk tersebut mampu melahirkan manfaat atas dirinya dan lingkungan sekitar. Kaum cerdik pandai yg kecil hatinya, malah banyak turut terlibat dalam tindakan yg miskin manfaat, menjerat orang lain untuk berprilaku konsumtif. Mindset masyarakat umum dibentuk agar membelanjakan uangnya tanpa batas mengejar prestise-prestise semu.
Kemapanan seseorang diukur dari nilai belanjanya yg tinggi, semakin banyak barang dan jasa yg bisa dibeli, semakin tinggi nilai kemapanan seseorang. Inilah salah satunya yg membikin negeri ini semakin terpuruk dalam kubangan kemiskinan, kebodohan, keserakahan. Semua ini terjadi, karena ulah kaum cerdik pandai yg kecil hatinya. Bertindak untuk kepentingan diri dan kroninya. Dipergantian tahun nanti, mari jadikan momentum untuk meng-evaluasi diri. Sejauh mana tindakan kita yg melahirkan manfaat, sekurang-kurangnya untuk diri kita sendiri dan lingkungan sekitar.
Apakah tindakan kita  sudah jelas menfaatnya?, apakah tindakan kita sudah tidak membawa kerugian?
Dua pertanyaan diatas dirasa penting untuk difikirkan ulang. Dari sekian jawaban yg akan terjadi, yg terpenting adalah tindakan positif apa yg akan kita lakukan? Agar diri ini tidak terus menerus terjerembab dalam kubangan 'pembodohan' atas diri sendiri maupun orang lain.
***                                                                                   
Gerakan 'pembodohan' dinegeri ini terus masif, jika kita turut terlibat dalam gerakan tersebut, baik langsung maupun tidak langsung, kita termasuk orang yg turut memperpuruk kondisi negeri ini.
Sampai kapan gerakan pembodohan tersebut terus berlangsung?
Jawabannya sederhana, sejak kapan kita berkometmen untuk tidak terlibat dalam gerakan pembodohan tersebut. Gerakan pembodohan antara lain, prilaku konsumtif diluar batas wajar, memprioritaskan prodak asing daripada prodak dalam negeri, prilaku korupsi, manipulasi, dan tindakan lain yg substansinya merugikan diri kita sendiri dan linkungan sekitar. Menurut saya, dasar utama mengapa negeri ini terus mengalami keterpurukan, karena alasan kebodohan. Karena bodoh, mudah digiring untuk berprilaku konsumtif, karena konsumtif, apapun saja dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi tersebut. Jual diri, korupsi, kolusi, jual martabat adalah pilihan pintas yg ditempuh. Parahnya, ditengah konsumtifisme yang tinggi, barang dan jasa yg jadi idola, adalah prodak asing. Bangganya luar biasa bila kita sudah mampu membeli prodak asing.
Mari, pergantian tahun jadikan ajang untuk meng-evaluasi diri dalam memperbaiki kehidupan kita untuk Indonesia lebih baik.

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP