Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Jumat, 15 Februari 2013

PENGANGGURAN


Bebarapa waktu yang lalu, dalam sebuah acara diskusi yang dihelat oleh kaum muda Mahasiswa, diawal acara diskusi itu dihelat, saya bertanya, “Apa aktifitas saudara selama liburan?”, dengan sepontan mahasiswa tersebut menjawab, “Nganggur Cak!”. Saya tidak heran dengan jawaban tersebut, karena hampir semua orang berpandangan, aktifitas yang tidak menghasilkan uang, apapun itu bentuknya, selama itu juga dikategorikan Nganggur.

Nah, dari dialog sederhana diatas, melalui tulisan ini, saya ingin berbagi pandangan tentang “pengangguran”.
Sebenarnya, ada banyak faktor yang melatar belakangi terjadinya seseorang itu nganggur. Faktor yang menurut saya urgen yaitu, tidak punya skill yang memadai, dibidang apapun!. Sehingga ‘tidak laku’ untuk orang lain. Skill itu ada tidak tiba-tiba, abra-kadabra, bim-salabim, tapi karena diasah, dilatih secara serius. Dalam mengasah skill memang tidak semudah menyunggingkan senyum, perlu kesabaran dan ketekunan. Dalam melatih sabar dan tekun, salah satu tindakan nyata yang harus ditempuh adalah melawan rasa malas dan menunda-nunda!. Selama rasa malas dan menunda-nunda bisa ditaklukkan, kemungkinan besar skill yang diasah akan berhasil.

Dalam mengasah skill, harus melalui beberapa tahapan proses, diantaranya, menentukan cita-cita. Setelah cita-cita ditentukan, baru kemudian berfikir, bagaimana caranya untuk sampai pada cita-cita tersebut. Nah, dalam menentukan ‘cara’ tersebut, ada beberapa hal yang bisa ditempuh, diantaranya, belajar langsung sama ahlinya, kemudian pelajari dari sekian buku yang memuat tentang, agar sampai pada cita-cita tersebut, perlengkap lagi dengan tindakan untuk melakukan shering dengan sekian orang yang dianggap mampuni dalam bidang cita-cita tersebut. Shering dilakukan untuk menguji dan memperdalam dari sekian pengetahuan tentang cita-cita yang dimaksud. Setelah beberapa rangkaian tersebut ditempuh, evaluasilah tingkat keberhasilannya, tentukan hal yang sudah tercapai dan yang belum tercapai. Nah, yang tidak tercapai itulah pelajari lagi, kenapa tidak tercapai?, terus pelajari lagi dengan mengulangi beberapa tahapan diatas. Selama beberapa tahapan diatas ditekuni, selama itu pula kemungkinan untuk sampai pada cita-cita yang di inginkan lebih mungkin dicapai.

Mereka yang hanya bercita-cita tanpa didukung oleh usaha maksimal, selama itu pula cita-cita tersebut hanya sekedar cita-cita. Tidak akan pernah menjadi nyata.

Sungguh penting skill, tanpa skill seseorang akan kelimpungan. Skill juga yang akan menentukan nasib seseorang diabad ke-XXI ini, abad yang mempertaruhkan skill sebagai ujung tombak ketercapaian seseorang dalam hal apapun saja yang dipertaruhkan. Skill sebagai pertaruhan satu-satunya dalam peradaban kehidupan manusia kini. Tanpa skill, bisa jadi manusia dianggap mati!.

Kenapa saya berani mengatakan skill sebagai satu-satunya aspek penting yang harus diperhatikan?, karena skill akan menjadi kunci seseorang dalam menentukan keberhasilan hidupnya.

Kembali lagi kepada dialog dengan mahasiswa diatas, sebenarnya, kaum muda, terlebih yang menjadi mahasiswa, punya peluang yang sangat besar dalam mengasah skill tersebut. Fisik masih sehat, otak masih segar, diasah untuk mengigat dan menghafal hal-hal yang berat sekalipun masih mungkin, psikis belum punya tekanan sebasar orang tua. Kebutuhan hidup sehari-hari rata-rata masih di suplai sepenuhnya oleh orang tua atau yang mewakilinya. Ini peluang emas dalam mengasah skill, selama kaula muda mampu memaksimalkan waktunya dalam mengasah skill tersebut, selama itu pula harapan menjadi orang sukses itu lebih mungkin. Kenapa?, karena orang sukses dan orang hebat yang kita temui, rata-rata melalui proses yang tidak mudah dan pertaruhannya adalah skill.

Jika dengan menyandang status mahasiswa masih merasa nganggur, berarti mahasiswa tersebut belum bisa mempersibuk dirinya dalam mengasah skill sebagai senjata utama setelah mahasiswa tersebut lulus. Hanya sebagai contoh, jika misal saudara berada di fakultas hukum, pelajari betul tentang hukum, asah betul akan penguasaan tentang hukum, sehingga tentang hukum benar-benar bisa memahami dan memperaktekkannya, setelah lulus, skill di bidang hukum itulah yang akan dipertaruhkan. Begitu juga dengan fakultas lain. Bila skill-nya ecek-ecek, bisa jadi tidak laku, ketika tidak laku, kadang mau melakukan apa saja agar bisa menghasilkan uang, termasuk korupsi sekalipun.

Maka dari itulah, mari, atas nama kaula muda, hususnya yang menyandang status mahasiswa, agar memaksimalkan diri dalam mengasah skill diantara kita. Karena bila skill sudah laku, uang dan yang lainnya, akan ikut dengan sendirinya.

Pentignya Skill
Dalam beberapa bulan terahir ini, saya mengamati daftar lowongan pekerjaan yang di iklankan di media. Hampir 99%, pertaruhan utamanya adalah skill. Termasuk bila mau jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sekalipun, sudah tidak lagi menggunakan pendekatan ‘wani piro’ sebagaimana pernah marak terjadi pada zaman Orde Baru. Tapi harus melalui proses seleksi yang ketat berdasarkan skill yang ada. Skill seakan-akan penentu segalanya, walaupun yang lain juga menentukan.

Ternyata, tidak hanya peluang kerja yang di iklankan di media yang memprioritaskan skill, tapi juga peluang kerja dibidang ngupas kelapa muda, cukur rambut, sol sepatu, sampai tukang bersih-bersih sekalipun membutuhkan skill yang memadai. Asah dan pertajamlah skill, karena bila tidak, bersiap-siaplah tergilas oleh peradaban hidup yang sudah mempertaruhkan skill.

Selamat datang di abad pertaruhan skill!

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP