Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Rabu, 07 Agustus 2013

ALHAMDULILLAH; MERAYAKAN KEMENANGAN

Hari ini, kemungkinan menjadi hari terkhir atas sebagian umat muslim yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1434 H.

Atas meraka yang menjalankan puasa sejak 10 Juli 2013, hari ini, 7 Agustus 2013, umur puasanya sudah mencapai 29 hari. Sambil menunggu keputusan pemerintah, melalui Menteri Agama, setelah dilakukan sidang isbat dengan perwakilan Organisasi kemasyarakatan (ormas) di seluruh Indonesia, untuk memutuskan waktu jatuhnya 1 Syawal 1434 H. Maka, melalui tulisan ini, saya mengajak merefleksikan perjalanan puasa yang sudah dijalankan.


Puasa, selain tindakan menahan dari lapar, haus, dan hubungan seksual suami istri, mestinya juga harus menahan/mengendalikan diri dari tindak-tanduk yang tidak baik. Kegiatan "menahan" selama satu bulan penuh, bila benar dihayati secara seksama, maka akan mempengaruhi sebelas bulan berikutnya agar tetap terus menahan/mengendalikan diri dari sikap sifat binatang yang merugikan. Puasa juga, dalam rangka memunculkan kepekaan sosial atas sesama. Peka atas rasa lapar dan haus yang masih banyak dirasakan oleh orang yang jelas-jelas tidak cukup makan dan minum, yang kemudian melahirkan kepedulian berbagi dengan mereka yang hampir tiap detik menahan lapar dan haus sepanjang waktu. Selain itu, untuk umat muslim yang mampu, agama mensyariatkan agar mengeluarkan zakat fitrah, sebagai rangkaian akhir dalam bilasan penyucian diri, menyongsong kehidupan yang bersih dan suci.

Tak heran, bila Tuhan menjajikan pahala yang berlipat atas tindak kebijakan yang telah diperbuat. Tak heran pula, bila Tuhan dalam bulan berkah ini, memilih satu malam istimewa, yang bila beribadah pada malam tersebut, ibarat beribadah seribu bulan penuh (83 Tahun 4 Bulan), yaitu malam yang disebut, "Lailatul Qadar". Lailatul Qadar dirahasiakan turunnya, yang pasti, oleh Tuhan diturunkan diantara malam ke-1 sampai ke-30 di Bulan Ramadhan. Supaya manusia terus berusaha melakukan yang terbaik dalam beribadah dan melakukan kebajikan.

Idul Fitri, sebagai puncak kulminasi muslim dalam beribadah di Bulan Ramadhan. Puncak dari segala cara dan upaya dalam mendarmakan diri atas Tuhan yang Esa. Darma yang berimplikasi suci nan bersih atas diri, dan darma yang berimplikasi bahagia atas sesama karena tindakan bajik yang telah terlaksana, baik kebajikan tersebut termanivesto dalam bentuk zakat fitrah, sedekah, dan tindakan baik lainnya. Sehingga semua mahluk patut dan layak bersuka cita atas sekian nikmat Tuhan yang terasa. Yang kaya bergembira karena telah berbagi kekayaannya. Yang miskin pun turut berbahagia karena telah mendapatkan haknya dari mareka-mereka yang kaya.

Semua bergembira, semua bersuka cita, semua berbahagia, semua melantunkan dzikir syukur, baik sendiri, bersama, pelan, keras melalui corong pengeras suara yang terpasang di Surau, Musholla, Masjid, lapangan, dan Bumi Allah lainnya. Syukur Tahmid, Tasbih, yang luar biasa gelagarnya semakin memantapkan diri kalau semua mahluk berada di bawah kuasa-Nya.

Allahu Akbar-Allahu Akbar-Walilla hilhamd.
Setiap insan, tanpa memandang ras, suku, agama, budaya, adat, bermaaf-maafan, menanggalkan sikap-sifat binatang yang merugikan, berbagi kasih dan sayang, sebagai perwujudan dari sifat Tuhan yang Maha Rahman dan Rahim.

Akhirnya, kita semua adalah PEMENANG, memenangi peperangan melawan sifat-sikap diri kita sendiri yang merugikan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf lahir dan Bathin.

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP