Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Minggu, 24 November 2013

PROSTITUSI

Prostitusi; selalu menarik diperbincangkan. Pro kontra atas komersialisasi syahwat ini selalu hadir setiap zaman. Praktik "haram" tapi dibutuhkan ini hampir di seluruh kota di dunia ada. Sekedar menyebut contoh; Indonesia, lokalisasi di Kramat Tunggak, Jakarta dan Dolly di Surabaya. Thailand, Pattaya terkenal dengan wisata sex-nya. Amsterdam, Belanda Kota "meng-halal-kan Mariyuana sebagai pelengkap seksualitas. Manama, Bahrain, tetangga Arab Saudi. Las Vegas Amerika Serikat. Rio de Janeiro Kota Topless, Brazil. Moskow, Rusia. Macau, China. Tijuana, Mexico. Negara-negara muslim pun yang mengecam atas hadirnya dunia "esek-esek" tersebut tak ketinggalan, Jalan Kadem, di Istanbul Turki, Jalan Chow Kit, Kaula Lumpur, Malaysia, Jalan Khalid bin Al Walid, Dubai, Uni Emirat Arab, Kota Jiunieh, Bairut, Libanon, dan Shahre, di Iran.


Prostitusi, hampir disetiap titik di dunia yang dihuni oleh manusia selalu ada. Hadirnya ada yang dilegalkan, walaupun juga tidak sedikit yang mengecam.

Prostitusi yang tak lain dari bisnis "esek-esek" ini selalu prospek di setiap denyut kehidupan. Barangkali karena, seks adalah kebutuhan psikologis manusia yang membuat banyak orang "galau" bila tidak menemukan sarana yang efektif untuk melampiaskannya.

Seksualitas yang terjadi dalam rumah tangga kadang membosankan. Terlebih jika sebuah keluarga tak mampu me-manage konflik yang pasti terjadi diantaranya. Dan, tidak peduli pada perawatan tubuh sebagai pemicu gairahnya seks dalam sebuah keluarga menjadi faktor lain kenapa setiap keluarga mencari kepuasan seksnya pada orang lain. Tempat yang mudah, ialah prostitusi.

Prostitusi di Indonesia, dari sekian informasi yang saya dapat dari membaca, sudah ada sejak dahulu kala. Tapatnya di abad ke-17 saat negeri ini masih dikuasai oleh Hindia Belanda. Prostitusi di segala titik lalu lalangnya manusia, baik yang punya urusan antar kota dan negara, selalu ada. Pelabuhan, Bandar Udara, Pusat Kota, Stasiun, bahkan di daerah terpencil pun, wanita-wanita pemuas nafsu selalu ada. Pemerintah Hindia Belanda menfasilitasinya.

Prostitusi sejak dulu sudah terklasifikasi. Kelas atas, menengah, dan bawah. Dulu, kelas atas pelanggannya terdiri dari pejabat VOC (Verenigde Oost Indische). Wanita-wanita pemuas nafsu didatangkan dari berbagai penjuru kota, bahkan negara, semata demi memenuhi kebutuhan dan pemenuhan nafsu seksualitas pemangku kepentingan tersebut. Kelas menengah dan bawah pun tak ketinggalan, dengan model dan pangsa pasar yang sesuai dengan isi dompet para pelanggannya.

Jakarta, sebagai ibu kota negara, pada tahun 1966-1977, prostitusi sempat dilegalkan oleh Bang Ali-Sebutan Atas Gubernur DKI Jakarta yang bernama Ali Sadikin. Kebijakan Gubernur ke-9 kota Jakarta ini memang menuai kontroversi. Bang Ali dicaci, walaupun juga tidak sedikit yang memuji. Alasan sederhana yang dipakai oleh Bang Ali waktu itu, "Prostitusi dilokalisir demi stabilitas kota Jakarta". Dulu, Para penjaja seks ada di mana-mana, di setiap titik jalan strategis selalu ditemui wanita berpakaian super mini untuk menjajakan kenikmatan bercinta. Selain itu, virus HIV, penyakit mematikan yang sampai kini belum ditemukan penangkalnya menjadi salah satu keresahan Bang Ali. Akhirnya, sebuah daerah, Kramat Tunggak namanya, dipilih sebagai tempat lokalisasi untuk menampung semua pelacur yang ada di kota Jakarta. Para hidung belang, bisa lebih fokus pada tempat tersebut untuk melampiaskan nafsunya. Penyakit menular yang bernama AIDS/HIV, pendataannya lebih mudah. Hadirnya lokalisasi, juga menghadirkan denyut ekonomi baru atas masyarakat dan pemasukan yang tidak sedikit atas kota metropolis tersebut. Kebijakan Bang Ali dalam melegalkan prostitusi dan perjudian waktu itu, menjadikan kota Jakarta sebagai kota yang tata kotanya terbaik. Banyak sarana umum yang dibangun, yang salah satu danannya dari pajak prostitusi dan perjudian tersebut.

Dolly, yang katanya sebagai pusat prostitusi terbesar di Asia, oleh Wali Kota Surabaya, Tri Risma, akan resmi ditutup sejak Januari 2014, pembinaan atas wanita tuna susila tersebut sudah dilakukan sejak beliau menjabat sebagai wali kota Surabaya. Keterampilan menjahit, dan didatangkannya tokoh agama untuk memberikan penyuluhan dan penyadaran adalah sekian contoh dari banyak upaya lain yang telah dilakukannya. Tujuan utamanya adalah, agar wanita-wanita molek tersebut "tobat" dan mau menjalani hidup tidak melalui jalur "haram" tersebut. Para PSK Dolly, setelah dibina, sejak Januari 2014, akan dikasih uang pesangon sebesar 5 juta per orang oleh Ibu yang mendapatkan perhargaan sebagai Wali Kota berprestasi di bidang "Kebersihan&Kesehatan" oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu yang lalu. Uang tersebut sebagai modal untuk berwirausaha, atau untuk biaya awal lain dalam memulai hidup "baru".

Kebijakan Bu Risma, bagi yang pro, adalah kebijakan prestatif dan mendapatkan banyak pujian. Bisnis "dosa" tersebut akhirnya dihentikan. Tapi bagi yang kontra, kebijakan tersebut meresahkan. Bisnis yang menopang banyak kehidupan manusia tersebut tanpa solusi yang utuh. Pedagang kopi, makelar parkir, buruh cuci, germo, pemilik wisma kehilangan mata pencaharian. Yang tak kalah penting, para hidung belang yang biasa melampiaskan kebutuhan seksnya di Dolly, tidak menemukan solusi.

Kebijakan ini hanya akan memunculkan keresahan baru. PSK-PSK yang bekerja di Dolly kemungkinan mencari tempat lain untuk mangkal demi sesuap nasi akan terjadi. Bahkan akan mempersulit pendataan dan pendeteksian penyakit menular yang bernama AIDS/HIV. Germo-germo pun tidak akan tinggal diam untuk tetap menjalankan profesinya. Karena itu lah denyut hidupnya.

Dari sekian penelitian yang banyak orang melakukan, prostitusi terjadi, alasan utama adalah persoalan ekonomi/kemiskinan. Hampir semua wanita yang memilih berprofesi sebagai PSK hanya karena agar dapur keluarga tetap "ngepul". Wanita-wanita tersebut bertindak sebagai tulang keluarga. Profesi lain yang katanya "halal" tidak mencukupi kebutuhan keluarga. PSK, walaupun banyak orang menganggap sebagai profesi hina, tetap banyak perempuan memilihnya, karena profesi PSK, lebih menjanjikan dalam mengumpulkan uang secara cepat. Jadi PSK juga tidak mudah, perlu tubuh cantik sesuai standart kecantikan terkini. Bila tidak, profesi PSK pun tetap menjadi problem dan tidak mudah mengumpulkan duit.

Jika pemerintah, atau siapa pun yang hanya bisa menutup tanpa memberikan solusi atas bisnis sensualitas tersebut, maka prostitusi dengan model, nama, dan kedok yang berbeda akan terus berlanjut.

Jika tokoh agama hanya mampu membacakan ayat agama yang melarang atas profesi tersebut, ajaran agama hanya akan ada dalam kitab dan sampai di mimbar-mimbar acara srimonial.

Prostitusi tidak bisa diputus karena sudah menyangkut hajat hidup orang banyak. Barangkali, hadirnya prostitusi, adalah bagian dari kehendak Tuhan agar kehidupan terasa lebih indah.

Prostitusi memang dilarang dan dikecam, tapi juga disayang dan dirindukan.

Prostitusi Owh Prostitusi...

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP