Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Rabu, 25 Desember 2013

SELAMAT HARI NATAL

Natal atas umat kristiani, ibarat Idul Fitri dan Idul Adha bagi umat muslim. Keduanya berbeda dan tidak bisa disamakan. Sebagian umat muslim yang melarang umat muslim lainya mengucapkan "Selamat Natal" atas umat kristiani kurang mencerminkan "ukhwah basyariah" diantara kita yang difitrohkan beragam. Secara aqidah, umat muslim dan kristiani memang berbeda. Mengucapkan "Selamat Natal" bukan berarti umat muslim meyakini keyakinan umat kristiani, tapi lebih pada, pengakuan atas aqidah yang diyakini oleh umat kristiani. Perlu dibedakan antara keyakinan dan pengakuan!


Jika umat muslim menjadikan Rosul Muhammad sebagai sosok panutan, umat kristiani menjadikan sosok Yesus Kristus sebagai suritauladan. Sosok Yesus, dalam terminologi umat muslim, adalah Nabi Isa putra Maryam. Natal; adalah momen dimana umat kristiani kembali melakukan introspeksi, apakah pribadi Yesus yang sederhana, sudi mengorbankan dirinya untuk kebaikan yang lain, sudah benar-benar telah diinternalisir dalam diri masing-masing umat kristiani?!. Natal dalam rangka mengasah kepekaan sosial umat kristiani untuk bertindak bajik atas sesama. Kebajikan yang tak pandang agama, karena agama hanya sarana dalam mengenali sifat-sifat Tuhan yang bijaksana.

Seruan sebagian umat muslim atas umat muslim lainnya untuk tidak mengucapkan "Selamat Natal" di hari Natal atas saudara sebangsa yang beragama Nasrani, barangkali perlu dikoreksi ulang, karena misi Natal, juga mengandung kebaikan untuk kehidupan yang lebih baik.

Tuhan telah menfitrohkan kehidupan dunia dengan keberagaman, bukan keseragaman. Keberagaman di bumi Nusantara ini perlu dipupuk untuk melahirkan sikap saling asah-asih-asuh sesama umat manusia dalam mewujudkan kedamaian dan ketentraman. Tidak sedikit negara yang menjadikan perbedaan sebagai pemicu konflik untuk saling serang dan pembumihangusan. Jangan sampai Indonesia meniru negara-negera yang menjadikan perbedaan sebagai pemicu konflik vertikal dan horizontal. Karena sekali lagi, keberagaman adalah fitroh kehidupan. Saling menghargai, menghormati atas keyakinan masing-masing diri adalah jembatan cerdas untuk memupuk persaudaraan.

Mengucapkan "Selamat Natal" adalah bagian dari sikap kedewasaan kita dalam memupuk persaudaraan.

*Selamat Hari Natal atas saudara sebangsa yang merayakannya.

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP