Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Sabtu, 21 Desember 2013

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK

Sebuah film, gubahan dari novel mahakarya Haji Abdul Karim Amrullah, atau yang akrab dipanggil Buya Hamka, tepatnya pada 19 Desember 2013, tayang perdana di seluruh bioskop Indonesia.

Dalam waktu tersebut, saya, yang sejak siang merencanakan untuk menonton film "Sekola Rimba", setiba di bioskop, berubah rencana menonton film ini, karena tergugah oleh tiga kata "Mahakarya Buya Hamka" dalam rangkain deskripsi singkat film tersebut. Sosok Hamka, saya kenal karena karyanya, walau pun karya novel spektakuler yang menjadi film ini belum pernah saya baca, seketika itu juga, saya langsung menyakini jika film ini sungguh bagus dan patut ditonton.


Ternyata benar, film dengan aktor utama Herjunot Ali yang berperan sebagai sosok Zainuddin, aktris Pevita Pearce sebagai Hayati, dan Reza Rahardian sebagai Aziz mampu "mengobrak-abrik" emosi penontonnya untuk menangis haru, ketawa lucu, dan terkadang disaat asik-asiknya menangis, penonton tiba-tiba dibuat tertawa lepas.

Zainuddin, seorang pemuda miskin, dengan bapak yang dibesarkan di lingkungan adat Minangkabau, Padang, dan ibu di lingkungan adat Bugis, Makassar, terombang-ambing kerena sudah sejak kecil tidak merasakan kasih sayang dari orang yang dicintainya. Ibunya meninggal mendahului bapaknya, kemudian bapaknya menyusul kepergian ibunya. Zainuddin kecil hidup sebatangkara, di lingkungan adat Bugis, Makassar.

Di awal Zainuddin memutuskan untuk mengenali garis keturunan dari bapaknya, sekaligus menimba ilmu agama di lingkungan dimana bapaknya dibesarkan, Zainuddin muda bertemu dara cantik bernama Hayati, yang kemudian keduanya saling jatuh cinta. Cinta itu lah yang membuat keduanya mengungkap rasa dengan tinta. Surat yang ditulis Zainuddin, berbalas surat yang ditulis Hayati. Karena cinta itu pula lah, kreatifitas Zainuddin di bidang tulis-menulis, terasah dan akhirnya menjadi penulis ulung yang karyanya cetar ke semua penjuru Nusantara.

Kosa kata yang dirangkai oleh Zainuddin, kemudian membentuk kalimat indah mampu membuat Hayati semakin hanyut dalam perasaan cinta yang semakin dalam. Keduanya semakin tak kuasa untuk berjauhan, inginnya, selalu bersama dalam mengarungi hari-hari indah penuh cinta. Pertemuan mereka semakin inten walau sekejap, walau pun juga tanpa sebait kata. Surat yang saling diselipkan tatkala berjumpa, mewakili kekakuan lidah karena gejolak cinta yang memuncah. Cinta keduanya tercium oleh tokoh adat setempat, yang kemudian meminta agar Zainuddin angkat kaki dari daerah dimana Bapaknya dilahirkan, karena cinta diantara keduanya, ditengarai akan berakibat buruk pada adat-istiadat yang dipatenkan dari generasi ke genarasi oleh tokoh adat setempat. Zainuddin yang dianggap berasal dari garis keturunan yang tidak jelas, ditopang dengan kemiskinan hidup yang dialaminya, berbanding terbalik dengan kondisi Hayati sebagai anak bangsawan terpandang dengan garis keturunan yang jelas.

Zainuddin remaja, yang terusir dari Batipuh, daerah dimana ia kenal-mengenali sosok cantik bernama Hayati, di senja yang temaram, dengan bekal pakaian yang dikenakan, pergi meninggalkan Batipuh. Sebelum Zainuddin betul-betul pergi dari Batipuh, sejanak sosok rupawan tersebut menyambangi tempat dimana ia menulis surat cinta untuk Hayati pujaan hatinya. Tak disangka, tiba-tiba Hayati berada disampingnya, menyapa, merangkai kata menjadi bahasa, mengungkapkan keberatan hatinya bila sosok yang dicintainya benar-benar pergi meninggalkannya. Zainuddin dan Hayati, sepasang kekasih yang saling mencinta, kemudian berikrar, berjanji untuk merawat cintanya. Selendang putih Hayati, yang dipersembahkan kepada Zainuddin, menjadi selendang pengikat cinta di bawah ikrar yang terjadi diantara keduanya. Zainuddin pergi, Hayati pun pulang kembali.

Dari Batipuh Zainuddin pindah ke Padang Panjang, di rumah saudaranya dari garis keturunan ayahnya. Di Padang Panjang, Zainuddin mengenal media, kreatifitas tulisnya yang terasah, semakin diasah, terlebih dalam mengungkap romantika cinta yang dialaminya. Menulis, menjadi pelampiasan Zainuddin dalam mengurai gelombang cintanya atas Hayati. Tulisan-tulisan tersebut, karena kandungan sastranya yang tinggi, dianggap layak oleh pemilik media untuk diterbitkan, menaikkan ratting pembaca. Tak terkecuali, Hayati di daerah sebelah, juga turut menikmati karya sastra Zainuddin dari media yang dibacanya setiap pagi.

Cinta diantara keduanya semakin kuat dan terjalin hebat, tiba pada suatu hari, Hayati bermaksud untuk berkunjug ke Padang Panjang selama dua pekan. Di Padang Panjang, Hayati tinggal di rumah temannya yang kaya raya, saudara laki-laki dari temannya tersebut, adalah abdi Belanda; penjajah terlama Nusantara. Hayati dalam kesementaraannya di Padang Panjang, hanya untuk bersua dengan laki-laki pujaannya, laki-laki pujaan tersebut, tak lain ialah Zainuddin. Dalam waktu yang direncakan oleh keduanya, akhirnya mereka berjumpa dalam perhelatan akbar bernama "Pacuan Kuda". Keduanya bersua walau tak lama, dan hanya kata sapa yang terjadi diantara keduanya. "Zainuddin?!" Seru Hayati, dan "Hayati?!" Tukas Zainuddin. Kemudian keduanya kaku dalam kecamuk cinta yang membara. Kekakuan tersebut pecah setelah teman Hayati menarik lengan Hayati untuk memasuki stadion pacu. Dalam stadion pacu, pusat perhatian Hayati hanya tertuju pada sosok Zainuddin, dan Zainuddin pun terfokus pada sosok Hayati. Keduanya saling pandang tajam!. Setelah Zainuddin tahu, bahwa Hayati terlihat bercengkrama asik dengan kakak temannya yang bernama Aziz, ia meninggalkan lokasi, Hayati pun segera pulang untuk menenangkan diri.

Kecamuk cinta keduanya semakin menjadi-jadi, sampai suatu waktu, Aziz yang kaya raya, yang terpikat kecantikan Hayati, kemudian melamarnya. Dalam waktu yang bersamaan, Zainuddin juga turut melamar Hayati. Ketua adat dan keluarga besar Hayati berembuk, siapa diantara keduanya yang akan diterima sebagai calon suami Hayati. Rembukan tersebut memutuskan, Aziz lah yang terpilih, dengan pertimbangan, Aziz lebih jelas nasab dan hartanya ketimbang Zainuddin yang miskin dan tak punya orangtua. Tetua adat menjelaskan hasil rembukan tersebut kepada Hayati, kemudian Hayati mengamini walau pun hatinya berteriak menolaknya. Hayati tertekan dalam kungkungan adat, yang, jika menolak atas hasil rembukan tersebut, akan dianggap melenceng dan melawan keputusan adat yang sakral.

Zainuddin dan Hayati tetap saling memberi kabar melalui surat, dan surat terahir Hayati yang menyayat hati Zainuddin, ketika surat tersebut mengabarkan bahwa keluarga besar Hayati lebih memilih Aziz sebagai calon suaminya. Hayati yang dalam keadaan terpaksa, demi adat istiadat yang dipegang teguhnya, meminta Zainuddin untuk mengakhiri kisah cintanya yang tak direstui keluarga, diganti menjadi persahabatan diantaranya. Setelah Zainuddin membaca surat tersebut, ia jatuh sakit, dan hampir gila sampai dua bulan. Pembicaraannya ngalentur dan selalu memanggil dan menyebut-nyebut nama Hayati. Untuk mengobati "gila"-nya Zainuddin, pihak keluarga Zainuddin meminta agar Hayati sudi menjenguknya, dengan harapan, hadirnya Hayati di hadapan Zainuddin, dapat mampu menyembuhkan penyakitnya yang teramat parah karena luka cinta. Hayati datang bersama suaminya, setiba di depannya, Zainuddin yang terkulai kaku, tersadar atas sapaan kekasihnya yang menusuk kalbu, ia bangkit dan menyapanya. Tapi setelah tahu, bahwa Hayati telah dimiliki oleh orang lain dengan noda inang dijemarinya, Zainuddin kembali lemas, kemudian merebahkan tubuhnya ke atas dipan, dimana ia selama ini sakit, sambil berujar mengusir orang yang sebenarnya masih sangat dicintai tersebut.

Hayati berkhianat atas cinta Zainuddin. Dalam perjalanan hari, luka cinta Zainuddin dapat sembuh akibat masukan seorang sahabatnya yang bernama Muluk. Muluk meminta agar Zainuddin tidak terus meratapi kesakitannya dan menggugah kesadarannya jika kehidupan ini sungguh luas dan tak baik memasung diri kerena sebab cinta perempuan yang telah berkhianat. Zainuddin bangkit, kemampuan menulisnya yang hebat, menjadi aktifitas hari-harinya untuk bangkit dari keterpurukan yang berat.

Dalam rangka menghapus masa-masa pahitnya selama di Padang Panjang, Zainuddin memutuskan diri untuk merantau ke Batavia (sekarang Jakarta). Muluk teman akrabnya, memutuskan untuk ikut bersama Zainuddin. Sesampai Zainuddin di Betavia, ia bekerja kepada perusahaan percetakan media massa, karena alasan bisnis, Zainuddin pun pindah ke Surabaya, di Surabaya, selain ia menekuni bisnis dan sebagai penulis di media, ia juga tergabung dalam komunitas orang Sumatra yang berada di Jawa. Karier Zainuddin melejit, sehingga membuatnya kaya raya. Nama Zainuddin, akhirnya diganti menjadi "Shobir", nama baru Zainuddin yang dianggap lebih keren dan lebih pas sesuai dengan kondisinya kini.

Aziz dan Hayati, pindah ke Surabaya. Urusan pekerjaan yang menempatkan Aziz di Surabaya menjadi alasan utama kenapa mereka pindah. Sampai di Surabaya, karier Aziz tidak secemerlang selama di Padang Panjang, Aziz jatuh bangkrut dan miskin setelah di jawa. Mengetahui kondisinya melemah, Aziz mendekat kepada Shobir, meminta belas kasihannya, Shobir yang dermawan tetap bersikap dan berprilaku baik atas orang yang pernah mencampakkannya dan merebut pujaan hatinya dengan pengaruh kekuasaan dan uang, Shobir waktu itu, kesempatannya untuk melakukan pembalasan atas perlakuan bejat Aziz selama jaya di Ujung Pandang terbuka lebar, tapi Shobir tidak memanfaatkan kesempatan tersebut, malah ia menyediakan tempat atas Aziz untuk bertempat tinggal di rumahnya sejak Aziz terusir dari rumahnya akibat hutang dan dipecatnya dari kantor perusahaan yang ia jalani. Sehari-hari Aziz bersama Hayati yang tinggal di rumah Shobir mempunyai rasa tidak enak dan malu atas dirinya sendiri. Mangingat, semasih Aziz jaya, Aziz memperlakukan Shobir dengan sangat tidak mulya. Aziz yang dihantui perasaan malu, akhirnya memutuskan untuk meninggalkan rumah Shobir, mencari pekerjaan ke daerah lain.

Hayati kekasih lama Shobir dan istri Aziz, oleh Aziz ditinggal di rumah Shobir. Aziz berjanji atas Shobir, dalam waktu yang tepat nanti, istrinya akan dijemputnya kembali. Selama Hayati di rumah Shobir, ia dilayani sebaik mungkin. Shobir tidak pernah bertindak di luar batas etik atas Hayati.
Dua bulan sejak kepergian Aziz, Aziz berkirim surat kepada Shobir dan Hayati, yang menjelaskan bahwa ia menjatuhkan talaq atas istrinya dan bermaksud "mengembalikan" Hayati atas Shobir. Aziz mengakhiri hidupnya secara tragis dengan bunuh diri. Barangkali ia sudah tidak kuat menanggung malu atas Shobir yang diperlakukan jelek olehnya, membalas dengan balasan mulya.

Semenjak kematian Aziz, Shobir dan Hayati terjadi dialog. Gejolak batin diantaranya sejak masih di Padang Panjang tetap terjalin kuat. Shobir dengan egonya karena merasa dikhianati oleh orang yang dicintainya menolak Hayati baru yang sudah janda. Shobir meminta Hayati agar pulang ke Ujung Pandang. Hayati menolak! Shobir memaksa!, dengan keterpaksaan pula, akhirnya Hayati pulang dengan menumpang kapal besar megah milik Belanda bernama "Van Der Wijck" dalam perjalananya, kapal ini tenggelam, Hayati pun tak dapat diselamatkan.

Setelah Shobir tahu, bahwa kapal yang ditumpangi Hayati karam, Shobir bersama temannya yang bernama Muluk, bergegas mencari kabar, kemudian mencari sosok Hayati yang sudah berada di sebuah rumah sakit. Sepasang kekasih ini kembali bertemu, Shobir mengungkapkan rasa menyesalnya karena telah meminta Hayati yang dicintainya untuk kembali ke Padang Panjang. Keduanya bercengkrama, dalam kondisi Hayati yang sekarat. Dalam beberapa detik kemudian, Shobir, atas permintaan Hayati, melafalkan kalimat Shahadat di dekat telinga Hayati, mengiringi kepergiannya untuk selamanya. Air mata menyesal Shobir pun berderai tak terbendung.

Untuk mengenang kekasih yang dicintainya, selang beberapa hari setelah pemakaman Hayati, Shobir mendirikan lembaga sosial "Panti Asuhan Hayati", yang bergerak di bidang pemberdayaan anak-anak terlantar dan yang kehilangan orangtuanya sejak kecil.

Kisah cinta dalam film ini, adalah kisah cinta yang terpasung oleh adat-istiadat sakral yang diyakini suci. Dan kisah cinta dalam film ini, menyajikan kecenderungan manusia untuk bertindak diskriminatif di saat posisinya kuat, berharta dan bertahta. Di titik yang lain, juga mengambarkan kesederhanaan, kebersehajaan, keagungan, dan keteguhan sikap.

Akhirnya, jika anda ingin menyelami cerita cinta yang sangat bermakna ini, tontonlah filmnya!, kemudian bacalah novelnya!. Setelah itu, jadikanlah tuntunan atas setiap pelajaran hikmah yang didapatkannya.

Selamat menikmati...

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP