Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Kamis, 20 Maret 2014

JEMBER DALAM NARASI DESKRIPSI

Kemaren, Rabu (19/3) hari pertama saya di Jember. Tepatnya di Kecamatan Tanggul, Desa Patemon, Dusun Pemandian. Saya bertemu dengan beberapa orang yang bagus berpitutur tentang Jember. Dengan tiga bahasa yang diaur. Madura, Jawa, dan Indonesia.

Orang pertama dan yang ke dua, dengan semangatnya yang menyala-nyala, menjelaskan tentang dinamika politik Jember. Tepatnya hiruk-pikuk suasana menjelang pileg maupun pilpres. Jurus para calon legislatif dalam "memasarkan" dirinya untuk "dibeli" oleh masyarakat pada pileg nanti menarik saya haturkan di sini. Dengan gaji pokok yang hanya 15 juta dalam sebulan ketika misal nanti terpilih sebagai legislatif, berbanding terbalik dengan modal politik yang dikeluarkan. Berdasarkan penjelasan orang yang saya temui ini, bahkan ada caleg yang sampai mengolontorkan dana sampai 2 miliyar hanya untuk mendapatkan kursi DPRD di kabupaten. Belum lagi nomor urut partai yang lumrah "diperjual-belikan" oleh partai. Semakin rendah nomor urut caleg, semakin mahal!. Wuih, ini tergolong besar untuk tingkat kabupaten, karena setelah saya coba hitung, gaji yang akan didapat selama menjabat, cuma Rp. 900 juta. Jadi bisa dipastikan, caleg yang bermodal besar, ketika misal nanti terpilih, tidak menutup kemungkinan untuk bertindak agar modal politik yang telah dikeluarkannya dapat kembali. Bila perlu, melebihinya.


Desa yang saya datangi ini termasuk dalam Daerah Pemilihan (Dapil) enam dari enam Dapil se-kabupaten Jember. Dengan masing-masing Dapil terdiri dari 575 Tempat Pemungutan Suara (TPS) minimal, dan 891 TPS maksimal. Caleg di Dapil ini dari masing-masing partai rata-rata berjumlah 6 orang dari 12 partai yang lolos verifikasi sebagai peserta pemilu 2014. Berarti ada kurang lebih 72 caleg yang akan memperebutkan 9 jatah kursi yang diproyeksikan untuk Dapil ini. Dapil enam ada 672 TPS. Setiap caleg memiliki saksi yang diatasnamai partai. Baik di TPS, kecamatan, maupun di KPU. Harga saksi 100 ribu per orang di TPS, 500 ribu di tingkat kecamatan, dan 1-1,5 juta di KPU kabupaten. Setelah dihitung, masing-masing partai harus menyediakan kurang lebih sekitar Rp. 1.075.200.000, per saksi. Belum lagi biaya tak terduga yang tak dapat di kalkulasi. Biaya saksi dibebankan kepada caleg atas rekomendasi partai pengusungnya. Jadi tak heran, biaya nyaleg walau hanya untuk tingkat kabupaten saja modalnya tidak sedikit. Hitung-hitungan tersebut, bisa jadi lebih besar dari hitungan yang telah tersaji. Karena tidak menutup kemungkin, demi sebuah kursi, para caleg berani bayar lebih besar atas para saksi-saksinya agar benar-benar menjaga suaranya sampai penghitungan di tingkat kabupaten. Belum lagi biaya pendulangan suara di tingkat bawah, pasti tidak kecil.

***

Orang ke tiga, menceritakan tentang Jember dari sisi sosial politik. masyarakat di klasifikasi menjadi dua, Jember utara yang rata-rata dihuni oleh Madura atau keturunan Madura, dan Jember selatan rata-rata oleh orang jawa atau keturunannya. Walaupun diantara keduanya, antara Madura dan Jawa, telah terjadi asimilasi. Asimilasi itulah, salah satunya melahirkan bahasa khas yang diaur dari tiga bahasa sekaligus tersebut.

Jember utara banyak berdiri pabrik-pabrik gula, kopi, kakau, teh, karet, dan tanaman kebun lainnya. Pabrik-pabrik itu semuanya peninggalan Belanda, baik atas nama organisasi dunia (VOC) maupun pemerintahan Hindia Belanda. Saat ini pabrik-pabrik tersebut sudah berada di bawah naungan Badan Usaha Milik Negera/Daerah (BUMN/D). Ribuan orang yang bekerja di pabrik ini, dan hampir semua buruh memiliki darah Madura.

Dulu, orang Madura didatangkan oleh VOC sebagai buruh pabrik. Karena orangnya kuat, tangguh, dan mau dibayar murah. Alam Madura yang keras membentuknya bekepribadian keras, tegas, dan kuat menjadikanya sebagai buruh idaman. Walaupun demikian, orang Madura tetap lebih memilih patuh kepada kiai ketimbang kepada juragan pabrik. Padahal, pabrik-pabrik itulah yang memberikan penghidupan kepada mereka. Katanya, masih kuat sampai sekarang. Orang Madura, juga enggan membayar pajak atas pemerintahan Belanda walaupun ia berkerja di perusahaan yang dikuasai oleh orang-orang Belanda, sehingga perlawanan berbentuk perang maupun sejenisnya sering terjadi di kawasan ini. Mental berani yang dimilik orang Madura itulah menjadi nyali untuk melawan Belanda. Perlawanan-perlawanan itu, juga menjadi salah satu yang mengantarkan Indonesia merdeka. Bebas dari penjajahan asing.

Orang jawa asli, karakternya lembut, patuh, tunduk, dan enggan melakukan perlawanan-perlawanan. Masyarakat jawa yang menghuni daerah Jember bagian selatan lebih memilih manut, tunduk, dan mau membayar pajak atas Belanda ketimbang melakukan perlawanan-perlawanan sebagaimana orang Madura. Penjelasan ini, sepintas dapat dibenarkan ketika melihat dinamika sosial politik di Jember saat ini. Walaupun Jember secara keseluruhan, masyarakatnya sangat tertarik dengan pola politik uang. Juga, sendi-sendi perekonomiannya dikendalikan oleh orang berdarah China dan Arab. Warga masyarakat, baik yang jawa asli maupun perpaduan antara Jawa dan Madura, masih lebih banyak sebagai buruh-buruh mereka.

*Tulisan ini hanya mau merpetegas pernyataan Jaluludin Rakhmat dalam sebuah pengantar buku "Muhammad Prophet For Our Time" (2007) yang ditulis oleh Karen Armstrong, bahwa "Hadup ini dibentuk berdasarkan narasi deskripsi (cerita ke cerita), dari masa yang telah asa. Salam

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP