Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Minggu, 16 Maret 2014

SECARIK ILMU DARI SEORANG PEMANDU WISATA

Saat ini (18/3) saya sedang melakukan perjalanan ke Kota Jember. Menggunakan jasa transportasi Kereta Api (KA) kelas Ekonomi melalui Stasiun Gubeng Surabaya. Di dalam KA, saya bertemu dengan Bapak Vian, nama Jawa-nya Hariyoto. Beliau pemandu wisata asal Bantul, Jogja. Bapak dua anak ini sedang membawa wisatawan asal Malaysia yang berjumlah 11 orang ke tempat wisata Gunung Bromo di Probolinggo setelah dari tempat wisata Gunung Dieng di Banjarnegara Purbalingga. Bahasa Inggrisnya bagus, bahasa China bisa, dan ilmu pengetahuannya bagus, terlebih di bidang sejarah. Karena pintar, awalnya saya mengira bapak ini dosen, tapi ternyata bukan. Setelah saya tanya, "kenapa bapak pintar?", jawabnya, "saya belajar!, belajar itu tidak harus menjadi siswa atau mahasiswa, belajar itu boleh dilakukan di mana saja dan kapan saja, atas hal apa pun dan siapa pun". Kemudian, saya bertanya lagi, "Bapak tamatan sekolah apa?", "Saya tidak tamat SD".


Bapak ini telah berprofesi sebagai pemandu wisata selama hampir 20 tahun. Karena bapak ini orang Jogja, maka saya bertanya-tanya tentang pariwisata Jogja. Ternyata, menurut keterangan Bapak Vian, Jogja adalah pusat pariwisata ter-menarik di Indonesia setelah Brobudur dan Bali. Jogja tempat yang tepat ketika mau mengenali lebih jauh tentang kejayaan nenek moyang sewaktu negeri ini masih bernama Nusantara. Wisata sejarah, Jogja-lah pusatnya, karena sampai kini, Kraton Jogjakarta masih eksis. Tidak lapuk sebagaimana kerajaan-keraan lain di Nusantara.

Kraton Jogja, umurnya lebih tua dari berdirinya Negara Indonesia. Didirikan pada tahun 1756 oleh Mangkubumi; seorang keturunan raja Mataram kuno. Kerajaan Mataram kuno hancur karena bencana dan peperangan. Rakyat dan rajanya lari tunggang-langgang. Keturunan raja yang bernama Mangkubumi kemudian bertapa di pinggir sungai Progo Jogja. Beliau berdoa kepada yang maha kuasa meminta petunjuk untuk mendirikan kembali keraton yang telah hancur lebur. Pusat Kraton Mataram kuno memang di Jogja. Selama pertapaan, Mangkubumi kedatangan wangsit agar mendirikan Kreton tepat di tengah-tengah di antara Gunung Merapi dan Pantai Selatan. Gunung Merapi sebagai benteng pertahanan utara, sedangkan Pantai Selatan benteng pertahanan selatan yang ratunya sampai kini nge-trand disebut sebagai Nyai Roro Kidul. Sejak Mangkubumi, Hamangkubuwono satu sampai sepuluh, mempunyai hubungan khusus dengan Ratu Pantai Selatan yang tetap awet cantik sampai sekarang. Hubungan yang baik dengan penguasa-penghuni mahluk Tuhan di dimensi tiga itulah yang salah satunya menjadikan Kraton Jogjakarta dapat eksis sampai sekarang.

Mangkubumi mempunyai dua keturunan yang sama-sama berambisi jadi raja. Keduanya berselisih akhirnya berdirilah Kroton Solo yang didirikan oleh adik dari Hamangkubowono. Berdirinya Kraton Solo, akibat bantuan organisasi rempah dunia yang biasa kita kenal dengan sebutan VOC. Sehingga, Kraton Solo, memposisikan VOC bukan sebagai penjajah di Nusantara. Sedangkan Kraton Yogyakarta tetap memposisikan VOC sebagai penjajah. Maka tak elak, peperangan selalu terjadi di Jogja, sedangkan di Solo, karena perseketuan itulah, tetap adem ayem dan aman.

Sejak perselisihan itu, mengantisipasi perselisihan selanjutnya, Kraton Jogja memberlakukan aturan yang wajib dipatuhi, yaitu raja yang diangkat, adalah anak laki-laki tertua dari raja yang sedang memerintah. Sampai Raja Hamangkubowono X (sekarang), peratutan tersebut tetap dipegang teguh. Tak ada yang melanggar. Cuma, saat sekarang, Raja Jogja yang berlangsung, tak memiliki keturunan laki-laki, empat anak sultan, semuanya perempuan. Saya bertanya, "Kira-kira, bagaimana Kraton Jogja selanjutnya, akankah akan dipimpin oleh ratu, bukan raja sebagaimana Kraton Jogja dulu didirikan. Kemudian, masak iya Ratu Pantai Selatan sudi menjalin hubungan khusus dengan ratu bila misal nanti yang melanjutkan tahta Sultan adalah seorang ratu?" Pertanyaan panjang ini dijawab dengan jawaban simpel, "Kita lihat saja bagaimana epesode selanjutnya" sambil terkekeh.

Sayang, dalam pembicaraan ini saya hanya mendapat dua rekomendasi tempat bersejarah Jogja yang menarik di kunjungi. Taman sari sebagai tempat refreshing-nya keluarga besar keraton dan Kraton Yogyakarta yang eksis sampai kini.

*Tulisan ini hasil bincang santai dengan Bapak Viand. Karena beliau bukan akademikus, jangan mengadili tulisan ini melalui kecamata akademis.

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP