Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Minggu, 06 April 2014

ADAPTASI SISWA KE MAHASISWA

Sore tadi (6/4), saya menyempatkan diri untuk hadir dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Sumenep (IKMAS) di Surabaya. Letaknya di halaman Masjid Ulul Albab, Kompleks UIN Sunan Ampel Surabaya. Di situ, saya bertemu dengan Bahauddin Amyasi, pemuda cerdas yang lebih dulu aktif di IKMAS. Selebihnya, mahasiswa yang aktif setelah saya.

Dalam diskusi tadi, pengurus mengangkat tema "Adaptasi Siswa ke Mahasiswa". Di situ, Cak Baha'--panggilan harian atas Bahauddin Amyasi--menjelaskan tentang pentingnya mengkonstruksi ulang atas mahasiswa kini yang mindset-nya masih berpola ala siswa. Hal ini sudah tentu, salah satunya, menjadi tanggung jawab pengurus IKMAS untuk melakukan trobosan atas teman-teman mahasiswa Sumenep yang pola berfikirnya tak ubahnya siswa.


Siswa, dalam konstruksi umum yang difahami penulis, ialah anak muda yang hanya bertugas untuk belajar, tanpa ada tuntutan untuk melakukan penelitian dan pengabdian. Siswa juga, selama pembelajarannya, lebih berpola menerima apa pun yang diajarkan oleh guru (giving), tanpa disertai analitis. Apalagi model pembelajaran yang terjadi di pesantren-pesantren. Sedangkan mahasiswa, selain menerima apa yang disampaikan dosen, juga berhak mengkajinya. Bahkan mengkritisinya setajam mungkin dengan pisau analisis yang ilmiah. "Menolak" atas yang disampaikan dosen adalah hal yang biasa dalam dunia mahasiswa, dan itu sah-sah saja. Tapi tidak dalam dunia siswa. Kecenderungan guru bertindak "otoriter" dalam dunia siswa tidak terjadi lagi ketika ada dalam dunia mahasiswa. Toh misal pun ada dosen killer--sebutan khas atas dosen yang otoriter--atas mahasiswa, mahasiswa dapat melakukan "perlawanan" terukur yang berefek jera. Dosen killer pun mudah dibuat kapok oleh mahasiswa yang punya kecenderungan "melawan" dengan argumen dan tindakan yang menawan. Dalam konteks "perlawanan", mahasiswalah jagonya. Dalam konteks gerakan perubahan pun, dalam skala lokal (kampus) maupun di luar kampus, mahasiswa lah yang sering berada di garda depan.

Ach. Junaidi, yang biasa dipanggil Jun Khab, komisioner pengurus IKMAS, menukil pendapat tokoh, Edward Said, dalam sebuah buku yang berjudul "Dunia, teks, dan (sang) kritikus". Dalam buku tersebut, Jun Khab menjelaskan, bahwa mahasiswa adalah figur intelektual. Intelektual itu, berani mengemukakan yang benar tetap benar dan yang salah tetap salah. Walau pada awalnya, orang benar akan dikucilkan, terancam dibumihanguskan. Tapi dalam waktu yang panjang, yang benar itulah yang bakal dikenang.

Lain halnya dengan Sofyan Isma'el, anggota IKMAS. Ia mengutip pendapatnya Nurcholis Madjid, bahwa mahasiswa itu harus memiliki kemandirian dalam hal apa pun, pintar berkomunikasi, dan sering melakukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengasah nalar analitisnya, serta bertanggung jawab menciptakan solusi atas problem hidup yang telah dan sedang berlangsung ini.

Mahasiwa sering disebut sebagai agen of change (penyalur perubahan). Untuk mewujudkan agar mahasiswa dapat benar-benar sebagai penyalur perubahan, negara telah mengaturnya dalam Undang-Undang Perguruan Tinggi tentang tugas pokok dan fungsi mahasiswa, yaitu melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi; belajar, meneliti, dan mengabdi. Gerakan perubahan sangat mungkin terjadi, bila ketiga komponen dalam Tri Darma Perguruan Tinggi tersebut saling bertautan antara satu dan yang lain. Gerakan mahasiswa yang kerap "tumbang" di tengah perjalanan, karena mengabaikan salah satu dari ketiga komponen tersebut. Atau, memang tidak menggunakan satu pun dari ketiga kiat jitu tersebut.

Akhirnya, menjadi mahasiswa itu, memiliki tanggung jawab dan peran yang lebih besar dari sekadar menjadi siswa.

Selebihnya, biar dilengkapi oleh teman-teman yang lain. Karena saya berharap, tulisan ini menjadi diskusi yang berlangsung secara tertulis. Terlebih dari teman-teman yang tadi turut hadir dalam agenda diskusi yang rutin terselenggara setiap minggu sore.

Mari, jadilah pemuda yang bertanggung jawab atas status mahasiswa yang tersandang. Lebih-lebih, bagi mereka yang sebentar lagi akan menjemput gelar. Baik sebagai sarjana maupun titel yang di atasnya.

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP