Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Jumat, 11 April 2014

HANYA BERBAGI INSPIRASI

Hari ini (11/4), saya berkesempatan duduk bersama para penulis dan pembaca Koran Kompas dalam sebuah acara "Forum Pembaca Kompas;Audience Engagement" di Hotel Santika Premiere, Gubeng, Surabaya.

Acara ini diselenggarakan dalam rangka untuk mempererat emosionalitas pembaca, penulis, dan penerbit Kompas agar saling bertaut antara satu dan yang lain. Pesatnya perkembangan tekhnologi menjadi faktor utama Kompas untuk menyajikan kualitas bacaan dan layanan yang terbaik atas pembaca dan penulis setia Kompas. Tak hanya koran cetak yang terbit sejak 1920 ini, tapi koran digital ber-versi android telah juga turut hadir untuk memudahkan pelanggan setia Kompas.


Masduri, Muhammad Bakir, Marlaf, Junaidi Khab
Di Forum ini, saya bertemu dengan (Bapak) Muhammad Bakir, beliau bertindak sebagai Wakil Direktur Kompas sudah sejak 25 tahun yang lalu. Beliau bekerja sebagai wartawan Kompas sudah sejak tahun 1987-1988, sedangkan saya baru "Nongol" ke dunia pada 1989. Beliau asal Sumenep. Setelah tahu bahwa beliau orang Sumenep, sehabis acara, saya dan teman-teman langsung menyapanya kemudian bercengkrama dengan asyik menggunakan bahasa Madura. Beliau sangat antusias sekali menyemangati diri untuk bangkit melawan kebodohan. Dari beliau saya tahu, bahwa ada banyak putra Madura yang prestatif di berbagai lini. Salah satunya beliau menyebutkan salah satu temannya yang sama-sama asli Sumenep, sekarang sebagai professor di salah satu kampus ternama di Amerika. Dari beliau saya juga belajar agar tidak sungkan berkomunikasi dengan bahasa lokal. Sesama orang Madura, kami "cair" bercengkrama menggunakan bahasa Madura yang kadang bikin orang di sekitar kita hanya bisa geleng-geleng kepala.

Bersama Bapak Salomo Simanungkalit
Selain itu, kami juga berkesempatan melakukan perbincangan dengan (Bapak) Salomo Simanungkalit, asal Sumatra Utara. Beliau adalah satu dari empat tim seleksi Opini Kompas yang bakal terbit. Dari beliau, kami belajar tentang konsistensi kepenulisan. Tepatnya, menulislah dengan bidang yang ditekuninya. Menurut beliau, "Tulisan yang baik adalah tulisan sendiri yang berdasarkan penghayatan (kontemplasi) yang tinggi, tidak hanya "nyalin", "ngutip" dan sejenisnya. Perlu ditekuni dan didalami sedalam mungkin atas hal yang akan ditulis".

Dari dua sosok tadi, saya semakin bersemangat untuk terus belajar menjadi pembaca dan penulis yang baik. Membaca sebagai salah satu bekal agar bijak menjalani hidup dan menulis sebagai sarana berbagi inspirasi untuk hidup dan kehidupan yang lebih baik.

Seorang seniman bernama Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya pernah bertutur, "Dengan membaca anda akan mengenal dunia, dengan menulis anda akan dikenal dunia". Maka, tekunilah keduanya jika anda ingin "menguasai" dunia.

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP