Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Jumat, 30 Mei 2014

MENGENALI MOJOPAHIT; NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA

Mendiskusikan ilmu pengetahuan memang tidak ada habisnya. Setelah kemaren (27 Rajab 1435 H) saya mengikuti Sarasehan Budaya yang diselenggarakan oleh komunitas pemerhati seni dan kebudayaan "Banawa Sekar; Perahu Bunga dan kebersamaan". Bertempat di Pondopo Agung, Trowulan Mojokerto. Ada tiga rangkaian acara yang terselenggara; Antraksi Pencak Silat "Putro Browijoyo" dari Jam 12:00-15:00 Wib, Serasehan Budaya oleh Agus Sunyoto dari Jam 18:00-20:00 Wib, dan Maiyah Nusantara bersama MH Ainun Nadjib, Novia Kolopaking, Sabrang yang tergabung dalam komunitas Sholawat KiaiKanjeng.


Antraksi pencak silat, sebagaimana penjelasan pimpinan Pencak Silat "Putro Browijoyo" tak lain sebagai wujud pelestarian kesenian yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Komunitas ini baru berdiri pada tahun 2010 dan telah menyebet piala di beberapa lomba yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Provinsi, Kabupaten, dan kota di Jawa Timur. "Putro Browijoyo" dalam berantraksi, serat dengan nilai mistik. Ada ritual-ritual khusus sebelum dan sesudah acara. Seperti membakar dupa, menyajikan sesajen yang katanya, sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah berjasa besar atas kehidupan yang masih berlangsung ini. Sesajen dimaksud, juga dalam rangka menghadirkan mahluk halus, kemudian dijelmakan ke masing-masing peserta pencak silat yang telah disiapkan untuk berantraksi. Tak pelak, bebera detik kemudian, mahluk halus yang telah menjelma digiring untuk berantraksi di depan khalayak. Lengak-lengok ala ular, loncat-loncak kayak monyet, dan nyeruduk model benteng menjadi pertunjukan yang menarik dan melahirkan gelak tawa lepas para penonton. Bahkan tak sedikit penonton yang turut kerasukan, kemudian ikut berjingkrak-jingkrak mengikuti alunan musik gemelan, berikut sinden cantik bersuara agak sumbang. Mendatangkan "Putro Browijoyo" cukup dengan uang bernilai 3jt rupiah, dan semangat menghidupkan kesenian ini juga sebagai sarana penyaluran kreatifitas anak muda Trowulan yang telah terdistorsi oleh kebudayaan global. Hanya pemuda yang sanggup mengendalikan hawa nafsu yang bisa bergabung dengan komunitas ini.

Bersambung ke Sarasehan Budaya. Sebagaimana dituturkan oleh Agus Sunyoto, Benowo Sekar adalah Upacara Srada yang diselenggarakan setelah 12 tahun mangkatnya sang raja. Raja Mojopahit bernama Bripamutang Srimanegara (1465 M) adalah raja pertama yang mendapatkan penghormatan tersebut. Dalam acara ini, semua keturunan raja berkumpul, melantunkan kidung, kemudian melarung bunga satu perahu penuh, sebagai penghormatan untuk mengantarkan arwah sang raja menuju swargaloka. Jadi, tradisi menghaturkan doa sudah terjadi pada masa Mojopahit.

Mojopahit pada masanya termasuk negara maju. Hal tersebut didukung oleh terdokumentasikannya meriam buatan Mojopahit bertanggal 1889 di Metropolitan Musium, New York, Amerika Serikat. Cuma, penjajah menelikung sejarah Nusantara yang mengatakan bahwa meriam itu berasal dari Portugis. Padahal, sebelum Portugis menjajah, Mojopahit telah memilikinya. Dikembangkan oleh Demak. Mosiu penemunya China. Bukan eropa.

Mojopahit, memiliki prinsip kehidupan maritim. Bukan sebagaimana yang dijejali oleh penjajah kalau nenek moyang bangsa Indonesia ini adalah agraris. Prinsip itu dipegang karena kehidupan maritim itu jauh lebih maju ketimbang agraris. Pada waktu itu kapal-kapal Mojopahit sudah dilengkapi dengan alat penunjuk arah (kompas). Hampir semua lautan di dunia telah ditaklukkannya dan hampir semua negara telah disinggahinya. Kapal-kapal Mojopahit telah membikin kagum banyak masyarakat dunia. Terbukti dari catatan seorang petugas bea cukai China, bertahun 1280 (Abad ke tiga masehi), bahwa kapal-kapal dari selatan (Nusantara) besar-besar, melebihi kapal besar yang dimiliki China. Waktu itu, kapal besar China panjangnya 60 kaki, sedangkan kapal Nusantara sudah mencapai 200 kaki. Kapal di Nusantara mengalami kemerosoton setelah Portugis datang sebagai penjajah. Kapal Nusantara yang berlayar berikut rempah dan pangan yang diangkutnya selalu dibajak (rampok) di tengah laut. Waktu itu, pangan (beras) Nusantara sudah sampai dijual ke Malaka (India). Muatan kapal Nusantara sudah ada yang mencapai 800 Ton. Jadi, waktu itu hanya kapal dari Nusantara lah yang berteknologi tinggi.

Menurut catatan Tomimpiris (1513), Pondopo Agung-nya kerajaan Mojopahit jauh lebih besar dari yang dimiliki kerajaan Sunda. Waktu itu masyarakat mojopahit sudah rasional, bahkan nyaris tanpa mistis sebagaimana sekarang. Rasionalitas masyarakat Mojopahit terlihat dari proses pembuatan keris yang berlangsung paling singkat selama satu tahun dan paling lama mencapai dua tahun. Keris tersebut terbuat dari baja korusani, baja terbaik dunia yang didatangkan dari Kurosan. Dulu, keris sebagai identitas seseorang, ibarat KTP bagi orang-orang sekarang. Waktu itu, legenda mistis seperti Nyai Roro Kidul sang penguasa Ratu Pantai Selatan nyaris tak ada. Maka tak heran jika semua lautan ditaklukkan.

Kemakmuran, keamanan masyarakat Mojopahit terpelihara dengan baik. Tidak ada masyarakat yang makan jagung, apalagi singkong. Semuanya makan nasi yang berbahan beras. Jagung dan singkong dikenalkan oleh penjajah kepada masyarakat Nusantara. Jagung dan singkong ini berasal dari Afrika. Embrionya bukan di Nusantara. Tapi karena Nusantara tanahnya subur, jagung dan singkong pun dapat tumbuh subur.

Mojopahit, sepintas terlihat feodal. Ada tujuh pengelompokan (klasifikasi) masyarakat. Semakin terikat dengan dunia, semakin rendah orang itu. Kedudukan tertinggi adalah kaum Brahmana; pemuka agama, suka bertapa, nyepi, puasa, menahan segala bentuk hasrat keduniaan, bahkan nyaris terlepas dari segala kepentingan dunia yang berbentuk materi dan inmateri. Bertindak sebagai penasehat raja karena kecerdasan dan idealismenya yang tinggi, suci. Juga, sebagai pemegang fatwa atas nama agama. Hanya kaum Brahmana lah yang berhak bicara agama. Kedua, kaum Ksatria; ia adalah abdi negara yang tidak boleh memiliki kekayaan pribadi, karena ia bekerja untuk negara. Ketiga, kaum Waisa; para petani yang punya rumah, ternak, ladang, kebun. Keempat, kaum Sudra; ialah para saudagar, pengusaha, rentenir, tuan tanah, yang memiliki banyak harta kekayaan. Kelima, kaum Candala; ialah masyarakat yang hidup dengan memburu mahluk lain. Termasuk juga Singa mandala dan Singa manjaga yang ditugaskan membunuh orang atas nama Negara. Keenam, kaum Mleca; orang asing. Dan ketujuh adalah kaum Tucca; pecinta duniawi yang tidak mau memahami hak orang lain. Selain kaum Brahmana, dilarang bicara agama. Apalagi struktur masyarakat dari Sudra ke bawah. Soal agama, baik-buruk, benar-salah, indah-jelek hanya kaum Brahmana lah yang berhak menetapkan standart-nya. Karena kaum ini adalah kaum tersuci dari segala kepentingan dan gemerlap dunia. Semakin berharta manusia itu, dalam strukturisasi masyarakat Mojopahit, semakin hina. Karena kekayaan hanya patut dinikmati secara merata, bukan menumpuk di perorangan sebagaimana kebanggaan masyarakat Indonesia sekarang.

Raja Mojopahit memiliki lima Bangsal (kantor) pemerintahan. Di depan Bangsal selalu dilengkapi dengan Pulomiti; tempat menambat gajah. Waktu itu, gajah adalah alat transportasi yang hanya pemerintah lah yang punya. Bangsal itu sebagai tempat permusyawaratan raja dan para ksatria dalam merumuskan langkah taktis strategis atas nama Negara. Karena para ksatria dilarang memiliki harta pribadi, maka harta yang terkumpul atas nama negara yang dikumpulkan melalui pajak, upeti dan sejenisnya, sepenuhnya semata-mata untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara merata dan menjamin ketentraman hidupnya. Selain kaum Brahmana, tidak memiliki wewenang untuk bicara agama, mereka adalah pengikut yang taat. Setiap fatwa agama yang diputuskan oleh kaum Brahmana semuanya hanya untuk kemaslahatan. Dan semua harus patuh atas keputusan tersebut. Termasuk raja sekali pun. Untuk mengambarkan kesederhanaanya Raja Mojopahit, ia hanya memiliki satu rumah pribadi (puri).

Dari sebuah catatan China, dijelaskan bahwa Mojopahit sudah dikelilingi tembok bata satinggi 5 meter, dan memiliki warga sebanyak 500 ribu penduduk. Dari penjelasan yang didapat dari kitab Sotasoma beraksara jawa, konsep kesetaraan yang dilakukan oleh Raja dengan rakyatnya, dilihat dari tradisi meminum air suci yang digilir, berwadah yang terbuat dari emas, masing-masing orang seteguk, dimulai dari raja dan diakhiri oleh raja. Itu dilakukan sebagai bentuk bahwa Raja itu adalah bagian dari rakyat. Di depan Bangsal, selalu ada pasatan; tempat ayam jago yang selalu berkokok lengking. Kokok ayam jago juga sebagai penentu waktu untuk mengheningkan cipta menghadap sang Hyangwedi. Karena bila telah masuk sepertiganya malam, ayam-ayam ini tanpa dikomando langsung berkokok sahut-sahutan antara satu dan yang lain.

Orang asing dimasukkan ke golongan orang rendahan dan diposisikan sebagai pelayan karena Mojopahit lebih mengedapankan warga pribumi. Orang pribumi adalah orang mulya, agung, terhormat. Dan harus menjadi tuan di tanahnya sendiri. Orang pribumi tidak boleh bertindak sebagai pelayan, bila ada yang ditemukan bertindak sebagai pelayan maka negara akan memberikan sanksi yang tegas. Maka tak heran, di awal Islam masuk ke Nusantara langsung mendapatkan penolakan, karena dibawa oleh orang asing yang pekerjaannya sebagai saudagar (pedagang). Sedangkan pedagang dalam tingkatan orang Mojopahit berada di urutan keempat yang sama sekali tidak boleh bicara agama. Agama Islam menyebar di Nusantara setelah Walisongo menyebarkannya dengan identitas Mojopahit. Dakwahnya ditulis dengan aksara Jawa, bukan Arab pegon yang saat ini ditradisikan di pesantren-pesantren. Islam Nusantara akhirnya memiliki ciri khas tersendiri setelah mengalami akulturasi dengan kebudayaan lokal. Aktifitas harian masyarakat sampai sekarang, baik formal dan semi formal, masih banyak yang bercorak Hindu dengan substansi keyakinan yang sudah bernuansa Islam. Bakar dupa, peringatan hari kematian, dan tradisi slametan adalah satu, dua, tiga contoh dari sekian hasil "perkawinan" budaya Hindu dan Islam. Jadi identitas keislaman masyarakat Indonesia telah memiliki ciri khas tersendiri, dan berbeda dengan negara mana pun, termasuk dengan negeri Arab sekali pun, di mana Islam itu tumbuh dan berkembang pertama kali. Itulah sebabnya mengapa Islam dapat bertahan di Nusantara selama 800 tahun sampai sekarang. Dan, Negara Mojopahit dengan sistem pembagian kelas masyarakat sebagaimana saya ulas di atas, mampu bertahan sampai umur 200 tahun. Hebat bukan?

Pesantren-pesantren kini yang metode pengajarannya sudah tidak lagi menggunakan aksara jawa karena telah terpengaruh oleh pendidikan yang berdiri di Timur Tengah. Tidak sedikit pesantren yang menganggap segala sesuatu yang terjadi di Timur Tengah layak diterapkan di Indonesia. Padahal, nama pesantren hanya ada di Nusantara dan semangat didirikanya pesantren untuk terus mengembangkan Islam Nusantara. Islam yang berdialog dengan kebudayaan lokal kemudian memiliki peran yang menyelamatkan. Bukan Islam yang hanya terjebak pada ritus srimonial yang miskin penghayatan.

Basis keagamaan masyarakat Mojopahit yang beragama Hindu dan Budha, sebelum Islam masuk sudah mengenal peribadatan religius bernuansa metafisis. Sehingga, masyarakat Mojopahit untuk menstabilkan kondisi hidupnya selalu memenuhi kebutuhannya yang bersifat fisik (Pari) dan psikis (pari'an). Pari itu kebutuhan hidup dalam bentuk makanan dan minuman, sedangkan Pari'an adalah makanan bathin, baik dalam bentuk tembang, kidung, dan tindakan meditatif dalam rangka pensucian.

Dalam Kamus Kawi yang beraksara Jawa, dan kamus ini menjelaskan tentang kosa kata jawa. Bahwa bangsa Nusantara, lebih-lebih pada masa Mojopahit jaya, tidak pernah mengenal kosakata kalah. Yang ada hanyalah "Jaya", "Pamenang", "Pralaya" (gugur/mati). Maksudnya apa, kejayaan, kemenangan adalah harga mati atas setiap gerak dan nafas dalam mempertahankan kedaulatan bangsa. Ideologi masyarakat Nusantara tidak untuk gagah-gagahan, tapi untuk dilaksanakan dengan penghayatan filosofis penuh pemaknaan.

Masyarakat Nusantara dikenal sebagai masyarakat majmuk sudah sejak dahulu kala. Bahkan Agama Budha menyebar ke China melalui lautan Nusantara. Pada masa Mojopahit masih berdiri, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sudah ada. Dan itu terjadi sejak tahun 1688. KUHP diterapkan pertama pada masa kerajaan Kalingga. Kemudian dikembangkan pada zaman Singgosari berkuasa, kemudian disempurkan oleh Mahapatih Gajahmada.

Semua Parasasti di Nusantara ditulis dengan huruf jawa. Tidak sebagaimana sekarang, aksara yang kita pakai merupakan aksara impor dari Eropa. Bahkan standart kebaikan, kebenaran, keindahan sampai hal-hal kecil sejak kita bangun tidur sampai mau tidur lagi standart-nya mengacu kepada standart yang ditetapkan orang Eropa. Kita mengalami keterjajahan dari berbagai macam segi tanpa kita menyadari kalau saat ini kita dalam posisi terhegemoni. Menjadi bangsa yang mem-bebek kepada bangsa asing dan cenderung melupakan kejayaan dan kemerdekaan yang pernah dicapai oleh nenek moyang sendiri. Dalam pendidikan pun, kita juga mengalami keterjajahan secara struktural dan masif. Sehingga tak pelak, standart sukses, hebat, selalu mengacu kepada standart yang ditetapkan oleh penjajah yang kini lebih dikenal dengan sebutan imprealize'm. Kita akan dikategorikan terbelakang, miskin, bodoh, dan buta huruf, jika tidak mengikuti standart ala penjajah. Dalam hal apa pun. Sampai kapan akan bertahan demikian?

Pada masa Mojopahit, Perempuan pekerjaannya menari, merawat diri untuk melayani suami. Sedangkan laki-laki harus lihai berperang karena tertuntut melindungi perempuan, selain juga harus menjadi bagian untuk menjaga kadaulatan. Penasehat raja dari kaum Brahmana aksesoris kesehariannya selalu putih. Putih itu simbol ketulusan dan kesucian. Di atas telinga sang penasehat selalu tersemat bunga harum yang dipetik langsung dari alam Nusantara. Bukan bungga-bunga impor yang di-brand lokal. Bunga itu simbol perdamaian. Seorang penasehat harus bisa "membisiki" raja untuk menjaga perdamaian, minimal berdamai dengan egoisme yang juga kadang melekat pada diri sang raja.

Kemudian, bersambung pada Maiyah Nusantara yang dipandu langsung oleh MH. Ainun Nadjib (Cak Nun) dan KiaiKanjeng. Hadir juga Novia Kolopaking dan Sabrang yang tak lain adalah istri Cak Nun dan Putranya.

Oleh Cak Nun, Agus Sunyoto dikatakan sebagai Professor leluhur Nusantara.
Bahkan Pak Agus--sebagaimana Agus Sunyoto dipanggil--pernah menyerahkan daftar nama kabinet Mojopahit kepada Cak Nun. Oleh Pak Agus dikatakan, bahwa bangsa Nusantara telah memiliki Undang-undang bernama Kutaramanawa. Terdiri dari 19 bidang, termasuk didalamnya bidang Astacora (kriminal) dan Paradara (perempuan). Sedangka kita kini, dalam bernegara sumber hukumnya mengacu kepada prodak hukum Belanda. Hukum Bangsa Nusantara lebih dulu hadir mendahului hukum yang dibuat oleh orang Eropa dan Arab. Hukum itu terbukukan dalam kitab Purwadigamadarmasastra.

Jika kita ke Madagaskar sebelah Timur Afrika, akan banyak menemui orang yang dari segi kulit, bahasa, dan kebiasaan yang menyerupai masyarakat Nusantara. Termasuk juga di pasifik/hawai, yang masyarakatnya memiliki pola tanam padi yang tak jauh beda dengan masyarakat Nusantara. Dalam sebuah pemberitaan yang akhir-akhir ini merebak di media massa Indonesia, tentang ditemukannya fosil orang purba tertua di dunia, yang ditemukan di sepanjang sungai brantas, maka semakin mempermantap fakta dan data sejarah bahwa Nusantara adalah pusat peradaban manusia sejak zaman bahula. Sebenarnya, kita bangsa Indonesia telah memiliki nenek moyang yang pernah sampai di puncak berperadaban tertinggi dunia. Nenek moyang bangsa Indonesia adalah Pengarung lautan sejati.

Semangat "Banawa Sekar" sebagaimana digelorakan Cak Nun, ialah ajakan agar bangsa Indonesia ke depan mampu membangun laut dan daratan, seperti yang pernah dilakukan oleh moyang bangsa Indonesia semasih bernama Nusantara ini. Mojopahit waktu itu telah memiliki kemampuan matematika dan keahlian dalam membuat kalender berdasarkan bulan, matahari, dan musim. Perubahan kalender bangsa Nusantara baru dirubah setelah 99ribu tahun berlangsung.

Kita bangsa Indonesia, sebagaimana harapan Cak Nun, harus terbiasa dengan situasi yang gampang berubah-ubah. Jangan mudah goyah dan gampang ikut orang tanpa penghayatan yang mendalam. Masing-masing orang harus memiliki pedoman sendiri tentang kebaikan dan kebenaran sejati. Karena kebaikan dan kebenaran sejati hanya lahir melalui masing-masing diri yang mau menghayati atas kejadian hidup yang telah terjadi.

Di Ma'iyah Nusantara ini, Cak Nun mengajak untuk memanjatkan doa selamat untuk Indonesia, karena terhitung sejak Juni-Juli ini, setidaknya akan ada 4 orang "besar" yang mungkin ditangkap dan diadili karena kasus korupsi.

Saat ini kondisi bangsa lagi terpuruk. Warga negara diadu domba dalam soal aqidah, moral, keyakinan atau meminjam bahasanya Cak Nun, "Diadu domba dalam hal ayat-ayat makkiyah". Sedangkan dalam urusan ekonomi, politik, hukum dan urusan lain sesama manusianya (ayat madaniyah) di-design membebek kepada ideologi besar bernama sekulerisme. Kita dibikin sibuk dalam hal yang sebenarnya tidak penting. Diobok-obok dalam konteks keyakinan dan aqidah yang sampai kapan pun tidak akan ditemukan ujung pangkalnya. Perselesihan-perselisihan dalam urusan paling kecil sekalipun diperuncing menjadi tajam dan melebar. Organisasi kemasyarakatan seperti Nahdlatul Ulama' (NU), Muhammadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Hizbuttahrir Indonesia (HTI), dan ormas-ormas keagamaan lain dibuat "bermusuhan" hanya dalam soal pemahaman. Belum lagi hadirnya kelompok Ahmadiyah, Syiah yang diklaim sesat oleh sebagian golongan hanya memiliki pandangan yang berbeda. Ini masih dalam satu agama, belum masuk pada pemahaman dan keyakinan antar agama-agama.

Karena bangsa yang plural dan majmuk ini telah disibukkan dalam urusan keyakinan, maka urusan lain seperti perekonomian, politik, hukum, pendidikan, dan pengelolaan sumber daya alam jatuh ke tangan bangsa lain. Kita dibuat miskin di tanah sendiri yang sebenarnya subur. Kita dibuat tidak berdaya mengelola dan mengembangkan sumber daya alam sendiri. Segala kebutuhan harian kita dipaksa tanpa sadar untuk meng-elu-elukan prodak bangsa asing. Bahkan dalam urusan paling privat sekalipun seperti (maaf) seksologi, gaya dan modelnya "dipaksa" mengikuti trand ala bangsa asing. Ini belum dalam konteks tekhnologi. Semua sisi di setiap dimensi hidup kita telah dikendalikan oleh asing. Masihkah kita akan tetap berdebat dalam soal keyakinan yang bangsa asing tak turut ambil bagian kecuali dalam hal propagandis untuk memperuncing perbedaan?. Mari sadari, kalau soal keyakinan sudah menjadi tanggung jawab masing-masing diri di depan Tuhan nanti. Tak perlu diperuncing apalagi memaksakan kebenaran dan kebaikan yang sebenarnya adalah keyakinan, kepada orang lain. Karena dalam konteks keyakinan, setiap kelompok, apalagi agama, sudah pasti memiliki standart kebenaran sendiri-sendiri.

Kita semua mari berusaha sebaik mungkin agar selalu ada di jalan yang benar, tapi merasa benar adalah tindakan yang tidak baik. Karena kebaikan untuk detik ini, belum tentu baik untuk detik selanjutnya. Maka dari itu, dalam kitabnya orang muslim, dalam setiap gerak dan hembusan nafas kita supaya selalu meminta petunjuk kepada Tuhan untuk Ihdinasshirothol Mustaqim (memohon petunjuk untuk diarahkan kepada jalan yang lurus). Sedangkan jalan yang lurus (baik), selalu mengalami perubahan sesuai dengan dinamika zaman. Itulah sebabnya, kenapa al-Quran dapat menjadi kitab (petunjuk) dalam segala zaman. Bagi siapa pun yang menjadikan al-Quran sebagai petunjuk.

Dengan keberagaman keyakinan, mari kita pupuk persaudaraan, persahabatan. Bukan permusuhan, apalagi sampai menyebabkan perpecahan. Yang penting, dalam soal keyakinan, kita memiliki ke-istiqomah-an sendiri-sendiri. Hal ini tercermin dari kerendahhatian seorang yang kemudian disebut kiai. Karena asal kata "kiai" berawal dari saling mempersilakan antara orang satu dan lainya untuk lebih dulu memulai; "Iki ae-iki ae" (ini saja-ini saja). Kerendahhatian ini bila benar-benar dapat diinternalisir dalam diri kita masing-masing, kemudian dapat menjadi kasadaran kolektif, maka kebasaran nenek moyang yang dulu pernah terjadi lebih mungkin dibangkitkan kembali. Kita plural, kita Bhinnika Tunggal Ika sebenarnya sudah sejak dahulu kala.

Mari, jadilah diri sendiri menjadi bangsa yang hebat dengan mengenali lebih jauh akan potensi diri yang telah dimiliki. Mari bangkit bersama untuk Indonesia yang lebih baik.

*Tulisan ini adalah konstruksi ulang atas ilmu yang saya dapat dari MH. Ainun Nadjib, Agus Sunyoto dan Sabrang dalam acara Maiyah Nusantara di Trowulan, Mojokerto, Jatim.

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP