Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Sabtu, 01 November 2014

99 Cahaya di Langit Eropa

99 cahaya di langit Eropa, sebuah film inspiratif yang menjelaskan tentang Islam dalam tapak sejarah, ajaran, maupun peradaban manusianya. Film gubahan dari novel Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahera ini sungguh patut ditonton untuk kemudian dijadikan tuntunan hidup. Mengapa? Karena menyimpan sejuta hikmah yang akan mengantarkan kita—umat manusia untuk hidup damai, rukun, saling menghormati, menghargai dalam hal apa pun, termasuk dalam hal yang paling prinsip sekalipun.

Film gubahan dari novel sejarah karya putri Amien Rais ini mampu menipis tentang ilmu sejarah yang rumit dipelajari. Bila anda membaca novel ini, apalagi sampai menonton filmnya, saya yakin, serasa tak mau beranjak dari tempat duduk atau hengkang dari kamar tidur karena terus terpancing untuk mengarungi samudera kata yang mengesankan.


Film ini menceritrakan keberhasilan Turki pada abad ke-15 yang berhasil menaklukkan hampir seluruh wilayah Eropa timur dengan pedang. Keberhasilan itu di bawah panglima perang Kara Musthafa. Tatkala Kara Musthafa dan balatentaranya pada tahun 1683 mengepung Austria dalam rangka memperlebar kekuasaannya, Austria mendapatkan bantuan militer dari Polandia dan Jerman, sehingga pasukan Kara Musthafa harus bertekuk lutut mengakui kekalahan. Atas kekalahan itu, Kara Musthafa harus menjalani hukuman mati, kemudian dieksekusi di Balgrade pada tahun 1683.

Begitu sekilas, tapak sejarah masa silam, di mana Islam mengalami kemunduran karana disebarkan dengan pedekatan pedang.

Sejak itu, Islam mengalami keruntuhan. Peradaban Islam yang gemilang, luluh lantak karena arogansi manusia yang berhasil memupuk kebencian, permusuhan, saling curiga, dan menjadikan perang sebagai “bisnis” yang menggiurkan. Dan itu tetap terus terjadi sampai sekarang!

Film ini mengajak kita untuk berfikir jernih agar tidak turut dan larut menjadi bagian yang memperuncing pertengkaran, permusuhan, dan segala tabiat buruk lainnya. Saatnya Islam didakwahkan dengan penuh kasih dan sayang, bukan dengan pendekatan arogan apalagi sebilah pedang. Karena Islam, adalah agama yang tidak membenarkan kekerasan dan kejahatan atas nama apa pun.

Film ini juga mengajak atas kita, agar kita benar-benar meneladani Nabi Muhammad. Bagaimana Nabi Muhammad? Beliau tidak pernah memiliki alasan setitik pun untuk membenci—apalagi membalas—atas perlakuan jahat, yang dilakukan oleh orang jahat sekali pun. Nabi selalu membalas perlakuan jahat tersebut dengan hikmah dan cara-cara terhormat. Dalam film ini, ditunjukkan tatkala Hanum—pemeran ke dua dalam film ini, ingin membalas dengan perlakuan kasar atas orang yang menghina orang Turki—umat Islam. Tapi Fatma—pemeran ke tiga—mencegahnya dengan halus dan memberikan pembalasan lain yang lebih menyentuh hati. Kemudian, setelah tertempa oleh pahit getirnya hidup, dan memahami makna perjuangan yang sebenarnya, Hanum baru sadar, kalau kejahatan dibalas dengan kebaikan akan memiliki dampak yang jauh lebih baik daripada ketika membalas kejahatan dengan dendam kusumat yang tak berkesudahaan.

Karena Islam oleh orang terdahulu pernah disyiarkan dengan cara keras berperang, maka sejak saat ini, melalui film ini, kita diajak bagaimana Islam disyiarkan dengan cara-cara penuh kasih dan sayang. Tanpa kekerasan, tanpa juga harus ada tetesan darah akibat tepisan pedang. Syiar agama dengan pedang, sudah saatnya ditanggalkan. Diganti dengan syiar yang penuh gagasan dan ilmu pengetahuan.

Hidup rukun penuh teloransi di tengah sekian perbedaan adalah dambaan semua umat manusia di bumi. Karena hakikat semua ajaran agama adalah kebaikan, bukan keburukan. Tak satu pun ada ajaran agama yang membenarkan kejelekan atas siapa pun dan kapan pun. Agama adalah pegangan untuk menyelamatkan manusia dari sikap-sifat binatangnya yang merugikan. Itulah mengapa, Tuhan menyertakan akal atas manusia supaya berfikir, dan menyertakan hati untuk berempati.

Mari mulai, tebarkan Islam dengan cinta dan kasih sayang, bukan dengan pedang yang dapat menyulut perpecahan. Karena masa depan bukan apa yang kita tunggu, tapi masa depan adalah masa yang kita ciptakan, bersama-sama.

Film ini sudah bisa download di Ganool.com, dan Novelnya silakan temui di toko buku terdekat. Saya yakin, bila anda Muslim, anda akan merasa bangga dengan agama yang sedang dianut. Salam

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP