Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Kamis, 19 November 2015

Islam Nusantara

Islam Nusantara mengemuka sesaat setalah Nahdlatul Ulama’ (NU) menjadikannya sebagai tema Muktamar yang ke-33 di Jombang Agustus lalu. NU menjadikannya sebagai tema hanya untuk kembali ingin mempertegas bahwa NU adalah organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia yang hadir sebagai perawat tradisi dengan slogan: almuhafadatu alaa qodimis sholih, wal akhdu biljadidil ashlah; Merawat tradisi yang baik dan membuat-menemukan tradisi/peradaban baru yang lebih baik. Juga, untuk memperteguh bahwa Islam itu adalah agama yang hidup “likulli zaman wa makan; setiap masa dan tempat”.

Islam memang lahir di jazirah Arab, ajaran yang serat nilai melalui pribadi luhur nan agung bernama Muhammad. Karena Islam ajaran nilai, saat menyebar ke seantaro dunia mengalami fleksibelitas, tersampaikan melalui produk kebudayaan bentukan masyarakat. Sebab spirit inilah kemudian, “Islam Nusantara” didemonstrasikan. Sisi lain juga, untuk memasyarakatkan pola beragamanya orang Indonesia yang mewarisi kebudayaan Nusantara; dari sekian perbedaan, baik agama maupun kelompok-kelompok dalam agama, tetap harmoni dan saling mengapresiasi. Perbedaan tak memantik kebencian, permusuhan, apalagi yang sampai memicu pertikaian.

Islam Nusantara, lahir juga untuk turut memahamkan masyakarat dunia yang terjerumus dalam perang yang kesannya bermartabat tapi senyatanya mereka menjadi kacung dari perebutan sumber kekayaan yang dijalankan sambil “membisniskan darah” atas nama jihad.

Islam Nusantara berkembang begitu pesat karena berpangkal atas fiqhul hikmah tatkala berada di tengah masyarakat. Mengendapankan kelenturan dalam segala corak kebudayaan dengan sisipan nilai Islam yang meneduhkan. Penerapan fiqhul ahkam secara ketat dan konsekuen hanya berlaku di pesantren-pesantren sebagai lembaga penempa muda-mudi  agar ber-Islam secara sungguh-sungguh dan mendalam. Di pesantren ini, “digodok” agen juru dakwah yang bertumpu di atas akhlaqul karimah, kesantunan, kesopanan, dan nilai-nilai kemanusiaan. Di pesantren, tak hanya terjadi tranformasi ilmu pengetahuan, tapi juga transformasi nilai yang dikongkritkan dalam wujud keteladanan. Apa yang disampaikan berbanding lurus dengan apa yang dilakukan. Di pesantren, kemandirian juga mengalami penempaan, segala kebutuhan diri, mulai dari makan, minum, mencuci dan hal lain diupayakan secara mandiri penuh kebersamaan. Pemenuhan atas kebutuhan, baik atas diri maupun yang bersifat kolektif dibangun secara bersama-sama penuh keakraban. Itu mengapa, kenapa pesantren penting untuk terus dilestarikan.

Islam Nusantara menjadi menarik karena terpadunya nilai agama dan budaya secara berkelindan. seperti, kata “jannah” saat di Arab, berganti “surga” saat di Nusantara. Hal ini terjadi karena hasil penghayatan, kontekstualisasi nilai dalam menerjemahkan yang tersurat tanpa menggeser yang tersirat. Langkah cerdas ini tak lepas dari sumbangsihnya para sunan yang mensyiarkan Islam dengan pendekatan kesenian. Warisan luhur para sunan, kini dirawat dan dikembangkan oleh para kiai yang pusat pendidikannya bernama pesantren. Mereka yang belajar di pesantren, yang dikenal dengan sebutan “santri”, kemudian menyebar di masyarakat untuk terus mendakwahkan Islam yang teduh, sejuk, dan menentramkan. Keahlian mereka yang ditempa di pesantren, kemudian di darmabaktikan di masyarakat. Yang ahli di bidang membaca al-Quran, ia mendirikan langgar untuk mengajarkan cara membaca al-Quran yang baik dan benar. Yang ahli di bidang pengaturan keuangan, ia masuk ke perkumpulan-perkumpulan masyarakat untuk ia ajari bagaimana mengatur keuangan. Yang ahli di bidang pertanian, ia hadir di tengah masyarakat untuk mengadvokasi bagaimana bertani yang baik. Yang ahli di bidang konstruksi, ia terlibat dalam pembangunan-pembangunan. Yang ahli di bidang kelautan, ia ajari masyarakat bagaimana melaut yang baik. Dan segala keahlian lain, dicoba disalurkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Nilai lebihnya santri ketimbang yang lain, saat ia mentransformasikan pengetahuannya, ia juga melakukan transformasi nilai dengan menjadi contoh yang baik atas masyarakat. Baik dalam hal sosial, agama, bahkan politik. Kata dan tindakannya bertumpu di atas moralitas dan akhlaq. Sama persis sebagaimana yang diteladankan oleh kiai-nya. Dan yang tak kalah penting, dalam segala tindak-tinduknya, yang utama adalah kebermanfaatan, baru kemudian yang lain seperti harta maupun jabatan.

Dalam perjuangan santri, tidak pernah menjadikan harta dan jabatan sebagai tujuan, ia ditempa untuk ikhlas, berjuang atas nama Allah yang telah menjadikan manusia sebagai wakil-Nya untuk mengurus dunia. Konsentrasi perjuangan santri lebih kepada agar dirinya bermakna kepada yang lain. Menyelamatkan yang lain. Turut andil dalam pencarian solusi dari sekian masalah di masyarakat. Langkah-langkah santri ini mengandung nilai Islam walaupun sarana dakwahnya tidak mesti menggunakan simbol-simbol Islam. Dakwah santri bisa melalui wayangan, ludrukan, katopra’an, dan produk kebudayaan lainnya. Tapi muatannya berisi seruan-seruan kebaikan, bukan maksiatan. Kebiasaan minum alkohol dalam acara kesenian, diganti minum-minuman lain yang halal dan menyehatkan. Kebiasaan berpesta seks tidak dengan pasangan sahnya setelah pertunjukan, diganti seks normal menyehatkan bersama pasangan sahnya setelah menggelar pertunjukan. Semua seruan tentang kebaikan dan kebenaran disampaikan dengan cara indah yang tak membosankan. Karena dakwah disampaikan dengan cara yang indah, masyarakat mashuk menyimaknya. Masyarakat tidak bosan atas irama yang dimainkannya.

Ini wajah Islam Nusantara yang ditunjukkan kepada masyarakat dunia. Islam yang didakwahkan secara damai menggunakan perangkat budaya. Itu mengapa kini, orang Islam di Indonesia barada di urutan pertama terbesar di dunia. Islam di Indonesia layak dipentaskan dalam jagad pramudita global. Setidaknya untuk memberi pertimbangan dalam melangkah atas umat muslim di negeri lain yang telah terprosok dalam kubangan permusuhan. Menyuarakan Islam dengan cara-cara kekerasan. Sehingga darah dan perang tak bisa dielakkan.

Allahu A’lam

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP