Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Rabu, 26 Oktober 2016

Santri dan Resolusi Jihad-nya Kiai Hasyim Asya’ari[1]

Hari ini, Sabtu, 22 Oktober 2016, pertama kita menyelenggarakan “Hari Santri”. Sebuah momentum untuk mempermenungi kembali peran santri dalam “melawan” penjajahan dan keterlibatannya mewujudkan kemerdekaan. Hari santri ditautkan dengan resolusi jihad-nya Kiai Hasyim Asy’ari. Istilah resolusi jihad Kiai Hasyim As’ari itu muncul karena beliau menginisiatori sekaligus memandu pertemuan para alim ulama’ se-Jawa dan Madura pada 21-22 Oktober 1945, guna membangun kesepahaman “perlawanan”, menyatakan perang terhadap penjajah yang kembali ingin melakukan penjajahan di bumi Indonesia. Wujud kongkrit dari lahirnya resolusi jihad itu, mampu menggerakkan para kiai dan santri se-Jawa dan Madura, untuk melawan Inggris yang kembali akan menduduki Surabaya sebagai kota jajahan. Perang berlangsung selama tiga minggu lebih, sejak meletus pada 10 November 1945. Perang perlawanan dalam mempertahankan kemerdekaan ini, kini di abadikan di Tugu Pahlawan, Surabaya. Komando utamanya, biasa kita kenal dengan sebutan Bung Tomo, dengan nama lengkap, Soetomo (1920-1981).

Karena hari santri bertautan dengan resolusi jihad, maka tidak cukup kita kini dalam memperingati hari santri hanya sekedar seremoni, kirab, upacara bendara, dan acara serominial formal lainnya. Adanya hari santri, jadikan wahana untuk berefleksi, menggali kembali spirit perjuangan orang pesantren dalam melawan penjajahan, untuk dikontekskan, sesuai dengan problem kebangsaan kita kini.

Bersama Ketua Panitia Acara
71 tahun kita merdeka, hanya merdeka dari penjajahan fisik. Penjajahan itu, yang dulu biasa kita kenal dengan istilah kolonialisme, kini telah bermetamorfosis ke dalam penjajahan gaya baru yang istilahnya fenomenal kita kenal dengan sebutan investasi. Model penjajahan gaya baru ini sudah merengsek ke berbagai macam segmen. Mulai politik, hukum, budaya, dan ekonomi. Politik, mereka mempengaruhi para politisi untuk memproduksi hukum dan membuat kebijakan yang pro terhadap investor asing. Dengan mempengaruhi produk hukum, peran mereka dalam melakukan agenda penjajahan semakin tersistematis. Karena budaya, ekonomi, pendidikan, dlsb, akan turut bisa dipengaruhi untuk kemudian dikondisikan sesuai dengan hasratnya.

Memang, kita tidak bisa menggeneralisasi investor asing. Tapi, dari sekian agenda investasi di republik ini, banyak yang justru semakin mengkerdilkan nasib bangsa. Motor penggerak agenda eksplorasi atas sumber daya alam Indonesia misalnya, dengan modal umum yang rata-rata dari asing, kerap dijalankan sambil merusak lingkungan. Selain itu, hal ini justru dilakukan oleh saudara sebangsa sendiri yang dipilih dan diseleksi secara ketat oleh korporasi, kemudian mereka dikontrol dan dimonitor dari Negara masing-masing kaum kapital. Penjajahan mereka sudah tidak lagi secara fisik, tapi telah menyelinap masuk ke dalam alam bawah sadar kita dalam berbangsa dan bernegara. Agenda penjajahan di republik ini secara fisik memang sudah tak lagi dijalankan oleh mereka, tapi penjajahan itu kini sudah dijalankan oleh saudara sebangsa sendiri, design penjajahan gaya baru ini, dibentuk melalui peran media dan adanya sekolah-sekolah formal. Sekolah menjadi salah satu lembaga ligitimatif dalam memperteguh kelayakan diri sebagai “hamba” kapitalisme. hal ini menjadi semakin teguh tatkala kita orang Indonesia yang memiliki keahlian, baik keahlian yang ditempa secara otodidak maupun yang diasah melalui lembaga sekolah formal, tidak difungsikan secara maksimal untuk membangun, baik infrastruktur maupun suprastruktur, di Indonesia. Segala agenda pembangunan, utamanya infrastruktur, selalu dipasrahkan kepada asing. Orang-orang yang memiliki keahlian tertentu itu, jika tetap memilih tinggal di Indonesia, dipaksa tidak boleh tidak, untuk tetap menjadi “jongos” para corporate raksasa yang telah menguasai Indonesia. Apalagi, sekolah formal yang kita enyam itu, oleh kaum corporate, di-design sedemikian rupa, agar sebagian besar para lulusannya, menjadi abdi kapitalisme. Sekolah-kampus, menjadi lembaga pencetak manusia yang siap difungsikan laiknya mesin. Maka jangan heran, dari hari ke hari, jurusan kuliah di kampus misalnya, yang paling banyak peminatnya adalah jurusan yang berhubungan langsung dengan kerja-kerja mekanik.

Membangun keadaban
Karena sejarah santri memuat pesan perlawanan atas laku penjajahan, maka sudah selayaknya, kita kini memiliki formulasi baru dalam melawan segala model penjajahan. Tawaran penulis, pertama, kita harus mulai menata agar turut memiliki kekuatan kapital. Dengan begini, kita bisa mengimbangi para corporate asing, sambil menggesar peran mereka, secara pelan tapi pasti, dari republik yang kita cintai ini. Tentu nanti, kita tetap harus membangun negeri ini penuh dengan keadaban tanpa keserakahan. Kedua, kita harus berani melakukan perlawanan soft, dengan kembali meneguhkan kesejatian diri sebagai bangsa yang mewarisi kedigdayaan nenek moyang. Kebudayaan luhur nenek moyang kita, singkron dengan tagline Nahdlatul Ulama’ (NU): “Almuhafadatu Alaa Qodiimisholeh, wal Akhdu biljadidil Ashlah”, maka, sudah sepatutnya kita hidupkan lagi. Karena mau dilihat dari sisi mana pun, kebudayaan kita, pada prinsipnya jauh lebih bermartabat ketimbang kebudayaan asing yang telah lama mereka cekokkan kepada kita dengan kuasa media dan pendidikan formal. Ketiga, ruang-ruang politik seperti partai politik, sudah waktunya kita lirik. Jangan apatis terhadap partai politik yang kini jelas berpenyakit itu. Kita harus turut andil agar partai-partai politik kembali sehat, melahirkan negarawan sejati yang berpihak kepada kepentingan bangsa dan Negara. Karena pos strategis dalam kebijakan berbangsa dan bernegara, pintu masuknya jelas melalui partai politik. Keempat, sebagai santri, kita harus tetap berpegang teguh atas kebiasaan diri selama di pesantren; disiplin dalam beribadah, belajar, sederhana dalam berpenampilan, makan-minum sekedarnya dan tak pernah berlebihan, saling membantu sesama teman, hormat kepada yang tua, ngemmong kepada yang muda, tutur kata dan prilaku selalu bertitik tekan kepada ahlaqul karimah yang membuat orang lain nyaman dan tentram. Seruan kita pun dalam hal kebaikan dan kebenaran, selalu disampaikan dengan cara-cara indah dan terhormat. Pijakannya, idu’ ilaa sabili robbika bil hikmah wal mauidatil hasanah.

Memanajemen perlawanan yang soft ini, membutuhkan design fikir yang jitu. Mengingat, perlawanan sudah tak lagi fisik, tapi perang gagasan, wacana, berebut pengaruh tanpa batas ruang dan waktu. Sudah tahu bagaimana media sosial kini menjadi corong utama perang gagasan dimaksud?!

Untuk menjadi pemenang dalam perang gagasan ini, selain kita harus mampu mengemas, juga tertuntut agar setiap gagasan harus bersifat problem solving. Gagasan yang dikemas bagus dan bersifat problem solving ini menjadi teguh tatkala kita sendirilah yang memulai dan meneladankan kepada yang lain.

Akhirnya, dzikir, fikir, dan amal sholeh sebagai pegangan umum kaum santri, dapat terus kita asah untuk berkontribusi kongkrit dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan di republik. Di pundak kaum santri itulah, cita-cita bangsa turut dipikulkan. Semoga santri dan para elemen yang lain, turut berkenan untuk bersama-sama mengisi kemerdekaan dengan rencana program dan tindakan dapat saling disinergikan.

Allahu A’lam
Tretes, 23 Oktober 2016




[1] Disampaikan dalam acara Study Government, oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Universitas Nahdlatul Ulama’ (UNUSA) Surabaya, pada tanggal 23 Oktober 2016, di Villa Bahtera, Tretes Mojokerto

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP