Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Sabtu, 30 Juni 2018

SILATURRAHIM KE GILI IYANG

Saya berteman dengan seorang pemuda asal Gili Iyang. Namanya Achmad Fawaid. Akun Facebook-nya Kapten Fiorenza. Satu minggu yang lalu, Sabtu (23 Juni 2018), saya ke Gili Iyang bersama sahabat karib Junaidi Khab dengan maksud utama silaturahmi. Gili Iyang merupakan salah satu dari 125 pulau yang telah memiliki nama di Sumenep. Pulau-pulau yang masih belum memiliki nama, menurut sesepuh yang kala itu menemui saya di langgar panggung kuno milik Fawaid, masih banyak. Gili Iyang merupakan pulau yang saya tapaki setelah Pulau Gilirajéh, rumah sahabat karib sekaligus senior agung Cak Ghanie Abdillah. Pulau-pulau lain, masih belum sama sekali. Dalam rencana yang diperkuat oleh doa, saya akan menapaki pulau-pulau lain tersebut pada saatnya nanti. Semoga "dikabulken." 😄😄

Di rumah Fawaid, saya disambut di langgar kuno. Langgar ini, menurut penuturan Bapaknya Fawaid, adalah langgar warisan dari para sesepuh istrinya, ibunya Fawaid. 

Di Madura, hampir setiap rumah, ada langgarnya, yang fungsinya sudah saya jelaskan dalam tulisan sebelumnya. Langgar panggung model ini masih banyak ditemui di Madura. Termasuk juga di Gili Iyang.

Di Gili Iyang, kontur tanah berikut cuacanya, memiliki tingkat kesamaan yang cukup tinggi dengan tanah dan cuaca di kampung saya Ellak-Laok, Lenteng. Bedanya, air sumur di Gili Iyang sedikit lebih asin ketimbang air sumur di lingkungan rumah saya. Jadi, dalam memasak nasi, supaya rasanya sedap, gurih, dan tentu juga mantap di lidah orang Madura, orang Gili Iyang tanpa perlu memasukkan garam sebagaimana orang di kampung saya dalam memasak nasi.

Di Gili Iyang, saya menemui kandang-kandang hewan peliharaan seperti sapi dan kambing, jauh dari rumah penduduk. Kandangnya rata-rata beratap anggitan rumput dan terlihat sederhana. Kata Fawaid, yang kala itu bertindak laiknya tourgate, 😄😄, kandang-kandang itu kalau kotorannya sudah penuh, dipindah ke tempat lain oleh pemiliknya. Di Gili Iyang, tidak ada maling hewan peliharaan sebagaimana di kampung saya. Jadi, hewan-hewan peliharaan terjamin aman.

Di Gili Iyang, rumput yang disiapkan sebagai pakan hewan peliharaan, ditaruh di pohon-pohon. Supaya rumput-rumput itu tidak basah kuyup bila turun hujan, paling atas diberi rumput yang agak kasar, kadang pula kulit dan tangkai tanaman jagung, yang bila turun hujan, akan berfungsi sebagai atap. Sebab, jika tumpukan rumput dimasuki air, akan gampang busuk. Tumpukan rumput itu bertahan semusim. Biasanya disiagakan saat masuk musim kemarau. Di kampung saya tidak saya temui cara orang-orang dalam menyimpan dan mengamankan rumput untuk pakan hewan peliharaan saat musim kemarau seperti di Gili Iyang.

Di Gili Iyang, sebab transportasi laut masih menjangkau kendaraan bermotor paling berat sekelas dong-odong, maka saya belum menemui kendaraan roda empat. Kata Fawaid, ada mobil tapi untuk barang. Bukan mobil pribadi. Entah bagaimana orang Gili Iyang saat menyeberangkan kendaraan tersebut, Fawaid pun tidak tahu. Orang Gili Iyang yang mampu membeli mobil pribadi, rata-rata cukup diparkir di Pelabuhan Dungkek.

Di Gili Iyang, motor, banyak sekali yang tanpa pelat nomor. Katanya sih, motor harian yang berlalu lalang di Gili Iyang rata-rata memang motor bodong atau pajaknya yang telah tidak dibayar. Sama persis dengan motor-motor yang saya temui di Pulau Gilirajéh. Di dua pulau ini, saya yakin tak mungkin ada operasi polisi. 😄😄

Listrik yang resmi disuplai dari PLN, baru menjelang Idul Fitri lalu. Itu pun baru on sejak jam 17:00-05:00. Sebelum-sebelumnya, bagi masyarakat yang mampu, kebutuhan listriknya disuplai secara mandiri dengan pembangkit listrik tenaga surya. Bagi yang tidak mampu, ya, bertahan dengan penerang "témar conglèt": semacam lampu teplok berbahan bakar minyak tanah dan/atau lampu petromaks. Signal handphone, hanya provider tertentu yang ada. Jadi, jika ke Gili Iyang dengan signal handphone yang lemah, bersyukurlah. Itu tandanya, Anda akan terbebas dari syindrom android yang menyiksa. 😄😄😄

Di rumah Fawaid, ada al-Quran yang ditulis tangan peninggalan para sesepuhnya dari unsur ibu. Al-Quran tersebut bersampul kulit binatang dan serat kertas untuk isi al-Quran-nya sangat kelihatan berbahan kapas. Selain itu, ada semacam babon, kitab petunjuk, "Parémpún" dalam istilahnya orang Madura, yang beraksara caraka, yang dugaan sementara saya berbahasa kawi, yang saya sendiri masih belum bisa membacanya. Sekilas, menurut Fawaid, segala hal apa pun yang berhubungan dengan "Téngka Matureh", petunjuknya kerap dilihatkan dari kitab pedoman tersebut. Cuma, tak satu pun dari keluarga besar Fawaid ada yang pandai mengeja apalagi membacanya. Jadi, saat membutuhkan petunjuk, kitab tersebut dibawa ke salah seorang yang bisa membaca kitab tersebut. Nah, orang ini yang kala itu masih belum berhasil saya temui. Rencananya, akan ditemui saat momen Idul Adha nanti. Orang yang pandai dan ahli tentang masa lalu dan mengerti tentang kitab klasik, di Gili Iyang kata Fawaid sudah tinggal dua orang. Selebihnya, telah meninggal dunia. Rencana saya nanti, bila memungkinkan, kitab kuno tersebut akan saya tulis ulang dengan aksara latin, baik dalam bentuk bahasa Madura dan/atau bahasa Indonesia. Saya ingin mengawetkan maksud tersirat dari adanya kitab tersebut supaya terus "hidup" sesuai masa dan jamannya. Kini, rata-rata orang bisa membaca teks beraksara latin. Kitab tersebut ditulis di atas daun lontar, dijepit menggunakan bambu, yang saat akan membacanya ditarik ke atas ke bawah. Menurut Fawaid, saat hendak membaca kitab petunjuk ini, ada waktu-waktu tertentunya dan ritual khususnya; semacam mempersembahkan suatu hal dengan hidangan tertentu yang ada kembang tujuh rupanya, dan saat prosesi berlangsung dibakari dupa atau kemenyan.

Nenek Moyang orang Gili Iyang, menurut penuturan Fawaid, dan Fawaid mendapatkan penjelasan dari para leluhur dan sesepuh Gili Iyang, berasal dari Makassar yang hampir semuanya adalah pelaut. Orang Gili Iyang pun rata-rata melaut. Tapi sejak reformasi 1998, teknologi mulai masuk, Jakartaisme, Surabayaisme, Bali-isme, dan titik-titik lain yang menjadi daya tarik, yang kanalnya di awal-awal adalah televisi, orang Gili Iyang secara besar-besaran mulai banyak yang merantau ke kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali. Di perantauan, utamanya Jakarta, mereka rata-rata buka toko, jualan sembako. Dari sisi materi, rata-rata sukses. Setidaknya hal ini diukur dari kendaraan mewah yang dimilikinya dan perombakan besar-besaran atas rumah yang dimilikinya, direnovasi, dibangun ala rumah-rumah mewah seperti di kota-kota besar tersebut. Mereka yang sukses dari segi materi inilah yang mobil pribadinya kerap diparkir di Pelabuhan Dungkek. Orang Gili Iyang yang tetap memilih sebagai nelayan, atau mereka yang tetap bertahan dengan aktivitas laut, sudah semakin sedikit. Apalagi kegandrungan muda-mudinya kini, memang merantau, kemudian karena merasa lebih nyaman, memilih menetap di luar Gili Iyang. Gili Iyang mulai menjadi tempat pulang sekali-kali, itu pun dalam setahun hanya dalam hitungan jari.

Gili Iyang hanya terdiri dari dua desa; Baanra'as dan Bancamara. Secara administratif, masuk kecamatan Dungkek. Jadi, di Gili Iyang tidak ada kantor kecamatan. Dalam mengelilingi dan menyusuri Gili Iyang, dengan perjalanan santai sambil melihat-lihat kanan-kiri, paling hanya membutuhkan waktu 30 menit. Jika tanpa melihat-lihat alias fokus ke depan, bisa lebih cepat.

Sebab di Gili Iyang tidak ada karapan sapi, kambing, atau apa pun yang sifatnya hiburan di kala masyarakat jeda dari rutinitas kerjanya, maka hiburan satu-satunya, ya, mengadu ayam. Kata Fawaid yang telah dipertegas dengan tulisan di kaosnya; "Kami bukan penjudi, tapi hanya perawat tradisi." Mengadu ayam ini hampir setiap hari dan waktunya setelah Asar. Sekitar di antara jam 15:30-17:00 Wib. Orang-orang bersorak-sorai girang karena riang. Menyoraki ayam-ayam jago yang bertarung sampai lemas, sampai keok.

Gili Iyang oleh pemerintah Kab. Sumenep di bawah program "Visit Years 2018" disulap menjadi salah satu objek destinasi wisata. Yang "dijual" dari pulau Gili Iyang, panorama alamnya yang memukau. Keterpukauan itu akan terasa atas mereka yang belum pernah injak kaki di Gili Iyang. Saya pun turut terpukau, setidaknya merasa senang saat injak kaki di bumi yang tak pernah ditapaki. Pasti merasa ada sesuatu yang baru. Objek wisata itu dibangun dengan tarif masuk hanya Rp.3000,- dan bila bersama orang Gili Iyang bisa menerobos masuk tanpa bayar. 😄😄. Saya sendiri hanya berkunjung ke dua titik yang didapuk sebagai objek wisata; titik oksigen yang katanya terbaik kedua setelah Yordania, dan wisata Pantai Ropet yang letaknya di sisi timur Gili Iyang. Dari pantai ini, kita bisa melihat deburan ombak yang membentur karang dan Pulau Sepudi yang seakan hanya sepanjang jari telunjuk, Podèi dalam istilahnya orang Madura, rumahnya Le' Desi Al-Firas'nf. Ombaknya lebih keras dan sangat terasa karena memang agak dekat dengan lautan lepas. Soal oksigen yang terbaik kedua setelah Yordania, ini versi LAPAN: Lembaga Penerbangan & Antariksa dan hasil penelitiannya Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kab. Sumenep. Karena kadar oksigennya inilah, pulau Gili Iyang "dijual" sebagai pulau "awet muda."

Bagi para traveller, di Gili Iyang telah disiapkan tempat peristirahatan (homestay) yang representatif. Tarif perahu motor dari Pelabuhan Dungkek, hanya Rp.10.000,- waktu keberangkatannya jam 07:00 dan 11:00 wib. Balik pun, dari Gili Iyang ke Pelabuhan Dungkek, jam 07:00 dan 11:00 wib. Akan lebih efektif dan fleksibel jika rombongan. Karena punya peluang untuk "nyalter" perahu motor. Efektif dan maksimal pula bila bermalam. Maksimalkan homestay yang ada.

Sampai di Gili Iyang, traveller bisa jalan kaki atau koordinasi kepada warga setempat untuk "ngojek" atau sewa odong-odong yang penariknya bisa difungsikan laiknya tourgate; Semacam pemandu yang dapat menjelaskan apa pun yang bisa dijelaskan.

Bagi saya ke Gili Iyang, menikmati alam yang didesain sebagai objek wisata adalah bonos dari silaturahmi ke rumah teman sebagai tujuan utama. Saya senang dan riang naik perahu motor karena memang jarang bahkan nyaris tidak pernah mengendarainya. Sehari-hari dalam rutinitas saya, ya, naik kendaraan darat. Hehe.

Selamat malam,
Selamat berlibur, 
Tulisan ini baru sempat saya tulis di momen weken ini.
😊😊

Tidak ada komentar:

Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP