Andaikan ilmu hanya didapat dengan berangan-angan, maka tidak akan ada orang yang bodoh di muka bumi ini.(Imam al-Ghazali)

Minggu, 15 Februari 2009

VALENTINE'S

Hari kasih sayang; Valentine’s. Suatu perayaan yang dikenal hampir seluruh penduduk bumi menjadi momentum formal untuk mengungkapkan perasaan kasih dan sayang sebagian besar masyarakat dunia. Tak memilih yang miskin apalagi yang kaya, semua merayakannya sesuai dengan statusnya.
Cuma; mulai dari tenarnya kata Valentine’s sampai sekarang, Valentine’s masih dimaknai secara sempit yaitu ungkapan kasih sayang yang hanya untuk manusia terlebih pasangan lawan jenis, belum pernah ada pemaknaan Valentine’s yang sifatnya global alias tidak hanya mengasihi dan menyayangi sesama manusianya saja, tapi juga rasa kasih dan sayang tersebut untuk lingkungan alam sekitar.
Kalau kita mau melihat keadaan alam dunia akhir-akhir ini terlebih di Indonesia sudah sangat tidak ramah sekali, mulai dari banjir, longsor, gempa, kebakaran hutan, menjadi tontonan yang tergolong rutin. Ini penyebabnya tidak lain karena ungkapan rasa kasih dan sayang manusia hanya untuk manusia, bukan juga untuk lingkungan. Andai, rasa kasih dan sayang tersebut juga untuk lingkungan maka secara akal tidak akan terjadi bencana yang hapir silih berganti ini. Kebiasaan membuang sampah di sungai, menebang pohon besar-besaran tampa menanamkan bibit baru kembali, menggunakan kendaraan yang emisinya tinggi, tidak dikelolannya secara baik dan benar limbah pabrik dan rumah tangga, dan banyak lagi ragam macam kebiasaan manusia yang mengakibatkan alam ini semakin tidak bersahabat, mari kita rubah bersama dengan kemampuan yang ada dengan cara memulainya dari hal-hal kecil yang sering kita abaikan yang menjadi pembuka kitidakramahan lingkungan.

PENTINGNYA PENGALAMAN

"Setiap langkah adalah pengalaman". Sebait kata yang pernah dilontarkan oleh salah seorang teman diwaktu saya masih berdomisili di Pondok Annuqayah. Benar memang, karena setiap pengalaman yang terjadi akan menjadi bagian yang ikut andil dalam langkah hidup berikutnya. Pengalaman akan menentukan cara berfikir, bertindak, berbicara yang kemudian membentuk sebuah karakter. Pengalaman jangan hanya diartikan secara sempit, membaca pun merupakan bagian dari pengalaman yang tak kalah pentingnya, membaca menjadi kunci pembuka sebuah pengatahuan, mayoritas orang yang sukses karena banyak membaca, sebenarnya membaca; tidak menjadi jaminan kesuksesan hidup seseorang, tapi membaca menentukan kesuksesan tersebut. Sebenarnya pengalaman jika tidak bisa dijangkau dengan langkah fisik masih dapat ditempuh dengan menbaca buku yang membahas pengalaman dimaksud. Takkan ada kata sulit bagi orang yang mau keluar dari kungkungan kebodohan alamiah ini. Sesuatu yang terjadi harus disikapi dengan bijak, filter seoptimal mungkin kejadian hidup ini, ambillah manfaat dan hikmahnya untuk menghadapi kehidupan berikutnya yang pasti lebih berat, semakin berat cobaan hidup semakin sempurna pengalaman, kiat dan trik untuk menghadapi problem hidup semakin luas.
Baik buruknya kehidupan seseorang di pengaruhi oleh seberapa banyak pengatahuan yang dimiliki, pengetahuan hanya didapat dari pengalaman; membaca, manulis, ide dan trik yang dipakai dalam menyikapi problem hidup. Jika pengalaman didominasi oleh hal-hal yang negative, maka keadaan hidup akan lebih condong pada hal-hal yang sifatnya negative, karena hal tersebut sudah membentuk sebuah karakter yang kemudian mempengaruhi konstruk berfikir seseorang.
Pengalaman dianggap lebih dominan dibanding cara pandang etnik, kultur, ras, suku, etnografis dan giografis kedaerahan yang sifatnya membudaya. Semisal; walau budaya menekankan pada warna merah tapi pengalaman sering ada diwarna lain, maka cara berfikir akan sering ada diwarna lain walaupun tidak menghilangkan warna budaya dimaksud, bahkan nyaris warna budaya dimaksud menjadi konsep basi yang pelan tapi pasti akan lenyap dengan sendirinya.
Hal ini tidak akan menajadi persoalan bagi orang yang tidak mempersoalkan, karena masing-masing manusia tetap akan berupaya untuk hidup lebih baik, nyaman, tenang, damai dan sejahtera, dengan beragam konsep dan teori yang didapatkan dari setiap pengalaman yang terjadi.
Konsep pengalaman akan mementahkan konsep budaya, relevansi pengalaman dengan perjalanan hidup menjadi titik temu dalam melahirkan persepsi baik, benar, nyaman yang sifatnya absolut. Seseorang yang cendrung pada konsep budaya berarti orang tersebut miskin pengalaman, pengalaman yang terjadi pada dirinya masih belum mampu mendobrak konsep budaya yang sifatnya kaku, maka jangan heran jika banyak orang tidak mengalami perubahan yang signifikan dalam hidunya. Dapat dilihat orang yang keadaan hidupnya minoritas bergengsi pasti orang tersebut mendahulukan konsep yang dihasilkan dari pengalaman ketimbang konsep yang dihasilkan dari budaya. Maka sungguh pengalaman itu sangat penting, karena pengalaman akan menentukan kehidupan seseorang kepada yang lebih baik.

MENYEIMBANGKAN ANTARA KEYAKINAN MISTIS DAN ILMIAH

Dua keyakinan yang sangat kuat pada budaya pesantren dalam proses penggalian ilmu, yaitu; keyakinan mistis, dan keyakinan ilmiah. Dimana keyakinan mistis diyakini sebagian santri dalam mendapatkan suatu ilmu tidak harus dengan belajar, cukup dengan tawashul di baqbaroh (kuburan para pengasuh pondok pesantren), bangun di tengah malam, menjadi abdi dalem (menbantu kebutuhan sehari-hari pengasuh), dan keyakinan irrasional lainnya. Keyakinan ilmiah sebaliknya, untuk mendapatkan suatu ilmu harus dengan belajar yang rajin, tampa melalui jalur metode ini menurut akal rasional seakan nihil mendapatkan sebuah ilmu pengetahuan.
Dari dua faham keyakinan ini jika disinergikan menurut hemat penulis akan menghasilkan ilmu yang sangat luar biasa. Contoh kasus seperti Imam Al-Ghazali menjadi orang yang sampai saat ini tetap harum namanya karena ilmunya yang didapat atas usaha yang ilmiah dan mistis, menurut sejarah, Imam Al-Ghazali ketika mau berangkat menimba ilmu pengatahuan disarankan oleh ibunya untuk selalu jujur (mistis) dan istiqamah (ilmiah), kemudian pada perjalanannya dihadang oleh para perampok, dengan tenang Imam Al-Ghazali mengatakan sejujurnya atas bekal yang dibawanya, para perampok terperangah kaget atas kejujurannya yang pada akhirnya menjadi murid perdananya Imam Al-Ghazali. Dan masih banyak lagi kisah manusia sukses yang mensinergikan antara keyakinan mistis dan ilmiah.
Faham yang ditanamkan para pengasuh pondok pesantrenpun serat sekali dangan keyakinan mistis dan ilmiah, konsistensi dalam beribadah, belajar, mujadalah (diskusi), mengurangi porsi makan, memperbanyak dzikir dan do'a, perhatian terhadap kebersihan lingkungan yang semua ini akan menentukan kualitas ilmu seorang santri.
Tidak pernah ditemukan dalam proses belajar mangajar di pesantren yang mendikotomikan antara keyakinan mistis dan ilmiah, dimana keyakinan mistis dan ilmiah substansinya sama, ialah hanya untuk mengharap ridha Allah semata dari setiap aktifitas hidup yang akan dan sudah dilalui.
Hemat penulis Kesempurnaan dalam mendapatkan ilmu disebuah pesantren akan diperoleh bila mana tetap konsisten dalam belajar, berdiskusi, beribadah, mengurangi porsi makan, rajin datang ke baqbaroh untuk bertawashul pada para pengasuh, aktif dalam kegiatan social seperti membersihkan kamar mandi, saluran air, parit, dimana dalam kegiatan tersebut mengasah rasa ikhlas dalam setiap aktifitas santri yang nantinya akan menentukan nilai barokah yang diyakini sampai sa'at ini meng-endemik di pondok pesantren.

"MEMBANGUN PILKADA YANG BRKUALITAS"

Salah satu Seminar yang saya ikuti pada hari Sabtu, 10 Januari 2009 di aula wisma Bahagia Kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya telah memberikan sedikit banyak pemahaman tentang politik, baik politik praktis maupun politik yang berbasis kebangsaan. Faham politik yang sedikit banyak disinggung oleh pemateri yang terdiri dari praktisi, pejabat pemerintah daerah dan akademisi, dari salah satu pemateri tersebut ada yang secara blak-blakan lebih condong pada marginalisasi politik praktis yang notabene bermuara pada politik yang dikembangkan partai politik. Padahal kalau kita mau melihat sebagian besar tahapan untuk menjadi pejabat pemerintah baik legeslatif maupun eksekutif harus melalui partai politik. Partai politik sa'at ini diyakini banyak orang menpunyai visi misi yang substansinya pada kepentingan golongan atau kelompok, bukan kepentingan untuk semua warga Negara, dan partai politik masih juga diyakini sebagai lembaga yang pintar mengumbar janji-janji palsu untuk meloloskan partainya menjadi partai yang manguasai lembaga pemerintahan, sehingga tidak heran jika angka golput sa'at ini mendominasi warga Indonesia. Ini terjadi kerena kepercayaan masyarakat terhadap orang yang mengatakan siap meminpin negeri ini sudah semakin menipis bahkan nyaris tidak ada, sebagai gambaran kecil dalam pilgub jatim saja sudah lebih dari 50% angka golput pada warga jatim, saya asumsikan jika system parpol tetap terus seperti ini maka suatu sa'at ini angka golput akan mencapai 100%.
Sekarang parpol harus punya terobosan baru untuk menarik kembali kepercayaan rakyat dalam ke-ikut sertaannya pada pemilihan eksekutif maupun legeslatif yang sa'at ini systemnya harus melalui parpol dengan 1). Tidak mudah mengumbar janji. 2) berkometmenlah untuk memperbaiki system yang suda ada, jangan malah menciptakan system baru yang justru memperbesar kesumrawutan system yang sudah ada. 3) susunlah visi misi yang mengakomodir seluruh warga jangan hanya bisa memanuhi keinginan dan harapan sebagian orang saja. 4). Kampanyekan sesuai pasan yang diamanahkan pancasila yang mengedapankan faham pluralitas, nilai kemanusiaan, menghargai sebuah perbedaan, menghormati dan menyayangi seluruh lapisan walupun berbeda partai, demi terciptanya sebuah keadilan dan sekesejahteraan bagi seluruh warga Negara bukan terciptanya keadilan dan kesejahteraan bagi penguasa saja
Ketika hanya para penguasa saja yang sejahtera, ini sudah keluar dari reel yang diamanahkan pancasila, perubahan bahasa secara spontanitas di lontarkan oleh sebagian masyarakat menjadi bukti nyata bahwa sa'at ini fenomena itu benar –benar terjadi di bumi Indonesia.
Hal tersebut salah satunya dilatar belakangi oleh mendarah dagingnya budaya kometmen terhadap kepentingan golongan dan individu dalam tatanan pemerintahan di negeri ini yang sampai detik ini orang-orang penting penentu kebijakan yang bercokol dalam pemerintah harus melalui jalur partai politik yang serat dengan kepentingan golongan dan individu.
Semoga catatan ini menjadi bagian dari bahan evaluasi bagi pemain parpol. Amien….
Jika apa yang aku tulis menjadikanmu bahagia, maka berterimakasihlah kepada Tuhan yang telah menciptakanku. Tapi, jika sebaliknya, mohon maafkan aku. Tulisan ini hadir, semata hanya untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama mahluk ciptaan.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP